Selasa, 18 September 2018

7 Nilai Plus Yang Harus Kamu Ketahui Mondok di Pesantren Jarang Kamu Temui di Tempat Lain

7 Nilai Plus Yang Harus  Kamu Ketahui Mondok di Pesantren Jarang Kamu Temui di Tempat Lain
Photo : Hikayat Santri


Saat ini banyak orang tua yang menginginkan anaknya sekolah di pesantren, dengan berbagai pertimbangan melihat kondisi hari ini yang sangat meresahkan perilaku anak yang bisa terpengaruh dengan berbagai ancaman, diantaranya ; pergaulan bebas, degradasi akhlak  dan moral, pengaruh narkoba dan lain sebagainya.

Namun, tidak semua keinginan orang tua dituruti oleh anak, sebab mereka sudah punya pandangan dan pilihan tersendiri kemana ingin melanjutkan pendidikannya. Tidak sedikit orang tua yang memaksa anaknya masuk pesantren namun akhirnya tidak berhasil, sebab di tengah jalan anaknya minta pindah karena tidak betah dan dengan alasan lainnya.

Memang, memaksa anak masuk pesantren bukan hal baik sebenarnya, anak yang dipaksa masuk pesantren  terkesan sering tertekan di pesantren, sering bermasalah di pesantren, jarang mengikuti kegiatan pesantren, bermalas-malasan, tidak bergairah dan semangat mengikuti setiap kegiatan. Dan mayoritas santri yang dipaksa oleh orang tuanya tidak bertahan lama di pesantren. Karakter anak saat ini sudah berubah seiring berkembangnya zaman. Namun, memang ada sebahagiannya yang bertahan di pesantren yang awal mulanya dipaksa orang tuanya, tapi harus membutuhkan usaha orang tua yang maksimal.

Salah satu cara memasukkan anak ke pesantren adalah dengan cara mulai memperkenalkan anak dengan hal-hal positif tentang pesantren, persiapkan sejak dini jauh hari sebelum memasukkan anak ke pesantren, munculkan keinginan sendiri dari anak bahwa dia memilih pesantren, beritahu hal-hal yang baik mengenai pesantren, kalau memungkinkan selama anak menempuh pendidikan sekolah dasar, bawa dia sesekali  keliling pesantren, melihat keadaan dan kegiatannya. Tanamkan nilai positif mengenai pesantren kepadanya sehingga keinginan anak kuat ingin sekolah di pesantren, menguatkan keinginan anak sejak kecil sekolah di pesantren akan lebih baik dari pada memaksanya.

Nah, hikayatsantri.com mencoba merangkum dari beberapa artikel dan kajian mengenai  beberapa nilai plus sekolah di pesantren yang harus diketahui, yang jarang didapatkan di sekolah lain. Mungkin ini bisa menjadi bahan bacaan rujukan orang tua maupun calon santri yang ingin masuk pesantren. Nilai-nilai plus ini dirangkum berdasarkan pengalaman mondok di pesantren tanpa mendiskreditkan sekolah yang non pesantren.

7 Nilai Plus Yang Harus  Kamu Ketahui Mondok di Pesantren Jarang Kamu Temui di Tempat Lain


1. Banyak Jaringan (Networking)

Ukhuwah islamiyah salah satu motto yang diusung oleh mayoritas pesantren. Hidup di pesantren tidak sendiri, ada banyak teman yang bisa kamu temui yang berasal dari berbagai daerah. Pergaulan di pesantren pun sangat kuat, sebab selama 24 jam kamu terus bersama temanmu saling berbagi, saling tolong menolong, saling bahu membahu, saling berbagi cerita.
Setelah jadi alumni, kamu akan merasakan bertapa indahnya persahabatan pesantren, dimana-mana bisa kamu jumpai sahabatmu dari berbagai daerah, apalagi pesantren-nya yang mempunyai ribuan santri, seperti Pondok Modern Gontor Jawa Timur. Kamu bisa bayangkan betapa mudahnya kamu bergerak dimana-mana ada alumni almamatermu, sebab bukan hanya saja kawan seangkatan yang akan menjadi temanmu, abang leting kamu di pesantren juga bisa jadi bagian networking yang siap membantumu kelak.
7 Nilai Plus Yang Harus  Kamu Ketahui Mondok di Pesantren Jarang Kamu Temui di Tempat Lain

2. Suka Hidup Gotong-Royong

Nilai-nilai  sosial sangat  kental diajarkan dan diterapkan di pesantren. Santri ditanamkan jiwa dan semangat gotong royong selama tinggal di pesantren. Keberkahan dalam hidup berjamaah sangat terasa. Santri dibiasakan dengan kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan pesantren, dengan agenda-agenda besar pesantren yang dilibatkan santri sebagai panitia pelaksananya.

Nilai kebersamaan ini menjadi modal hidup yang sangat berharga saat kamu terjun ke masyarakat. Kita sudah terbiasa dengan hal bekerjasama dengan yang lain. Saling peduli, saling bantu membantu dalam kebaikan.  
Baca Juga : 

Beruntunglah Bagi Kamu Yang Pernah Nyantri Karena Kamu Dididik selama 24 Jam oleh Gurumu


3. Bisa Menghadapi Masalah Dengan Baik

Sebagai manusia mempunyai masalah dalam hidup adalah hal yang lumrah, karena orang yang tidak tahu masalah dalam hidupnya itulah masalah baginya. Setiap kita punya masalah hidup masing-masing, yang membedakannya hanya berat dan ringan masalah tersebut.
Pun demikian dnegan kehidupan di pesantren yang penuh dinamika sudah pasti ada masalah yang dihadapi, misalnya ; pelanggaran disiplin, kesulitan mengusai pelajaran dan lain sebagainya.

Namun yang terpenting adalah bagaiman kita bisa menghadapi masalah tersebut dengan baik dan penuh kontrol. Di pesantren, kamu akan dibina dan dibimbing oleh guru-gurumu, setiap ada masalah kamu diminta untuk memecahkannya. Dan kamu juga akan dididik menjadi orang yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah tersebut, bukan lari dari masalah.

Nilai plus ini sangat berguna untuk kamu kelak sebagai modal hidup, kita sudah terbiasa menyelesaikan dengan baik, menjadi pribadi yang siap bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Ini merupakan karakter yang harus dimiliki, berani berbuat berani bertanggung jawab, dan siap menyelesaikannya dengan baik tanpa harus menyalahkan dan merugikan orang lain.

7 Nilai Plus Yang Harus  Kamu Ketahui Mondok di Pesantren Jarang Kamu Temui di Tempat Lain


4. Master Language

Bahasa Arab dan Inggris adalah dua bahasa international yang harus kamu kuasai di pesantren. Dan ini menjadi alat komunikasi yang sangat dibutuhkan saat ini seiring berkembangnya zaman, Bahasa Arab sebagai bahasa pengantar untuk mengkaji ilmu agama dan bahasa inggris bisa kamu gunakan untuk mengkaji ilmu-ilmu yang sedang berkembang di barat.

Pembiasaan berbicara dengan bahasa resmi, billingual diaplilkasikan dalam kehidupan sehari-hari santri dan diperkuat dengan kegiatan pendukung penguasaan bahasa, seperti kegiatan pidato, muhadatsah, lomba debat dan lain sebagainya.

Setelah kamu tamat di pesantren, paling tidak kamu sudah punya modal untuk berkomunikasi dengan bahasa asing, kalaunpun tidak menguasai secara maksimal, namun kamu sudah punya keberanian untuk memulai sebuah percakapan dengan orang asing, dan menjadi semangat untuk peningkatan lebih lanjut di perguruan tinggi.

7 Nilai Plus Yang Harus  Kamu Ketahui Mondok di Pesantren Jarang Kamu Temui di Tempat Lain


 5. Kesabaran Sudah Teruji

Dengan berbagai kegiatan pesantren, dengan jumlah santrinya yang banyak, budaya antri salah satu budaya yang dilestarikan untuk melatih kesabaran dalam jiwa santri. Antri mengajarkan nilai kesabaran kepada santri, bahwa hidup ini ada giliran masing-masing, ada kala kita di depan ada kala di belakang. Semua yang ada didunia ini ada waktunya tersendiri bagi kita.

Baca Juga : 

Bagi Santri Mengantri itu Tidak Pernah Rugi Karena Disitulah Kesabaran Diuji


Sikap sabar penting dalam hidup, agar kita tidak menjadi pribadi yang arogan, saling menghormati dengan lain. Beruntunglah kamu yang di pesantren, sebab nilai-nilai kesabaran sudah kamu dapatkan dari berbagai kegiatan di pesantren, sehingga apapun yang terjadi dalam hidupmu nantinya sudah terbiasa.

7 Nilai Plus Yang Harus  Kamu Ketahui Mondok di Pesantren Jarang Kamu Temui di Tempat Lain


 6. Mental Yang Kuat

Membangun karakter dan mental pada santri adalah salah satu  tugas pesantren melalui pembinaan dan bimbingan dari berbagai kegiatan santri. Santri dibina dan digembleng oleh guru-guru sepanjang waktu di pesantren.

Santri dididik untuk selalu menjadi yang terdepan, menjadi pemberani. Dengan kegiatan muhadharah (pidato),  mental santri diperkuat, agar berani tampil didepan public, diciptakan agar menjadi orator ulung kelak yang akan menjadi pelita ummat. Di sisi lain, kegiatan kepramukaan juga menjadi kegiatan yang wajib bagi santri untuk menciptakan karakter bagi santri.

Sementara itu, pendidikan penugasan juga bagian dari pada upaya pesantren menciptakan mental dan karakter yang kuat pada santri. Santri diberi amanah dan tanggung jawab yang besar melalui organisasi santri, kegiatan besar pesantren. Dari hal demikian, karakter dan mental santri dapat terciptakan secara komprehensif.

Baca Juga : 

Ini dia alasan kenapa alumni pesantren itu layak kamu jadikan suami. Yang akhwat jangan lupa baca !

7. Calon Menantu Idaman

Ini adalah nilai plus yang kamu dapatkan setelah apa yang kamu jalani dengan tekun di pesantren. Anggap saja sebagai sebuah hadiah bagi kamu yang sungguh-sungguh belajar di pesantren, yang merupakam apreasiasi orang terhadap pribadi yang kamu miliki.
Setiap orang tua menginginkan pendamping hidup yang baik untuk anak gadisnya, yang berani bertanggung jawab dan mampu menjadi imam yang baik dan sebaliknya.

Dengan berbagai pendidikan pesantren yang sudah kamu terima, otomatis ada perubahan yang signifikan pada diri kamu, yang kemudian menjadi penilaian orang-orang sekitar saat kamu kembali ke masyarakat. Selama nilai-nilai pendidikan pesantren terus kamu amalkan, selama itu juga orang akan menghargaimu. Tapi jika nilai-nilai pesantren kamu lepas dari dirimu, maka hilanglah kepercayaan orang terhadapmu.

Jadi beruntunglah bagi kamu yang sudah memilih pesantren sebagai pendidikan terbaikmu, namun penulis menyadari, bahwa dimanapun tempat belajar adalah baik, tergantung bagaimana kamu menjalaninya. Karena yang membedakan tempat belajar itu hanya system berlaku di sekolah tersebut.

Baca selengkapnya

Jumat, 14 September 2018

9 Tips Menarik Untuk Santri Baru Agar Betah di Pesantren


9 Tips Menarik Untuk Santri Baru Agar Betah Di Pesantren
photo credit ; hikayatsantri.com

Terkadang untuk memulai sesuatu memang membutuhkan usaha yang maksimal, tak terkecuali dengan santri yang baru masuk pesantren. Di pesantren misalnya, di awal-awal hidup di pesantren terasa asing, sebab kehidupan sebelumnya tidak seperti yang dirasakan saat ini, jauh dari orang tua, terbatasnya fasilitas yang menyenangkan seperti di rumah, tidak bebas kapan saja mau tidur, mau main,  serba diatur dan bahkan ada hukumannya jika melanggar. Belum lagi, dengan dinamika teman di pesantren, aneka ragam perangai teman, bahkan untuk memulai sebuah percakapan dengan orang yang belum kita kenal rasanya susah sekali.

Pada hakikatnya, tidak ada yang tidak dapat diatasi di dunia ini, semua ada solusinya asalkan ada kemauan pada diri kita. Termasuk dengan tantangan yang di hadapi saat memasuki dunia baru, untuk beradaptasi dengan dunia yang belum dirasakan sebelumnya memang butuh kerja keras.

Untuk orang tua wali khususnya santri baru, minggu pertama atau sebulan pertama anak bapak ibu memang tantangan yang sangat berat, tidak semua mereka betah dengan suasana baru di pesantren. Disini hikayatsantri.com mencoba merangkum beberapa tips yang bisa dipraktekkan oleh santri baru agar selalu betah hidup di pesantren.

1. Memperbarui Niat

Segala perbuatan sangat tergantung pada niat, termasuk sekolah di pesantren. Ketika kita merasa siap masuk pesantren, maka bismillah, kita harus siap berjuang, berkorban dan bertahan di pesantren dengan segala halangan dan rintangan.

Memperbaiki niat adalah hal utama dilakukan. Dengan mengharap ridha Allah dan orang tua kita harus meyakini bahwa pesantren tempat terbaik untuk pendidikan kita saat ini. Maka ketika niat sudah bulat, dengan segala tekad dan keyakinan maka semuanya harus berani kita korbankan, termasuk harus siap jauh dari orang tua dan orang-orang tercinta.

2. Jangan Suka Menyendiri

Yang namanya hidup sendiri itu memang tidak enak. Kita merasa kesepian, tidak ada yang bisa hidup sendiri di dunia ini, makanya manusia dicipatkan berpasang-pasangan. Untuk di pesantren, teman adalah segalanya, serperti keluarga sendiri, ustadz sebagai ayah ustadzahnya sebagai ibu.

Selain itu, kegiatan pesantren menjadi alasan untuk tidak menyendiri, ikuti semua kegiatan, jangan sian-siakan waktu hanya untuk melamun. Sebab kalau santri sering menyendiri, maka ia akan sering teringat orang tua di rumah, merasa bosan di pesantren, teringat rumah dan segala isinya. Sehingga membanding-bandingkan hidup di pesantren dengan di rumah.

Nah, kalau kita sellau aktif di pesantren, maka tidak sempat pun memikirkan hal-hal lain selain memikirkan kegiatan apa saja yang akan kamu lakukan setelah satu kegiatan selesai kamu ikuti. Tidak ada waktu memikirkan rumah senadainya kamu selalu berpartisipasi kegiatan pesantren, temukan temanmu, bakatmu, dimana hobimu, olahragamu, masuk ke dalam klub-klub khusus yang ada di pesantren sesuai passionmu.

9 Tips Menarik Untuk Santri Baru Agar Betah Di Pesantren

 3. Banyak Cari Teman dan Bergaul

Dimana-mana teman itu adalah segalanya selain keluarga sendiri. Disaat ada masalah, maka orang-orang terdekat kita akan menghampiri, mendekat membantu menyelesaikan masalahmu. Termasuk di pesantren, bahkan hubungan dekat dengan teman di pesantren lebih akrab, sebab selama 24 jam di pesantren kita selalu berada dalam lingkaran teman-teman sekelas, se asrama, se tempat tidur.

Maka bagi santri baru, memperbanyak bergaul adalah salah satu solusi melawan ketidakbetahan di pesantren.

4. Dekatkan Diri Dengan  Guru

Di pesantren, guru kita adalah orang tua kita. Posisi orang tuamu dimabil alih oleh guru selama di pesantren. Maka tidak salah jika kamu mendekati mereka, memuliakan guru layaknya orang tua. Terkadang selain teman, guru adalah tempat curhat paling baik, sebab guru sudah tentu lebih banyak pengalaman hidupnya.


Guru selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak didiknya. Tidak ada guru yang tidak bahagia anak didiknya betah di pesantren, selalu aktif dan ceria. Guru kerap memotivasi para santri, memberi inspirasi dan menjadi suri tauladan yang baik untuk santri. Maka jangan jauhi guru jika ingin selalu betah di pesantren, karena guru juga bisa menjadi teman yang baik dengan catatan kamu memperhatikan sopan santun beradaptasi dengan gurumu.

9 Tips Menarik Untuk Santri Baru Agar Betah Di Pesantren


5. Aktif Mengikuti Kegiatan Yang Positif

Di pesantren ada banyak sekali kegiatan ekstrakurikuler yang bisa kamu ikuti, baik itu kegiatan bentuk olahraga maupun sifatnya akademis, seperti kursus dan lain sebagainya. Tapi dominannya, anak-anak lebih menyukai kegiatan outdoor, seperti pramuka, pencak silat maupun olahraga, sepak bola, basket dll. Setiap pesantren berbeda-beda kegiatan ekstrakurikulernya. Meskipun di pesantren, semua kegiatan ekstrakurikuler wajib di ikuti, seperti latihan pramuka, pidato, tapi ada kegiatan tertentu sifatnya tidak wajib.

Nah, bagi kamu yang masih baru, silakan ikuti semua kegiatan yang sesuai bakat minat kamu. Biasanya santri baru sangat di tunggu-tunggu oleh bagian pennaggung jawab kegiatan ekstrakurikuler masing-masing. Sebab mereka yakin setiap santri baru ada bakat masing-masing yang sudah mulai terasah sejak sekolah dasarnya. Mengikuti kegiatan pesantren dapat mengurangi tidak betah di pesantren, bahkan tidak sempat terpikir pun selain dunia pesantren, karena kamu sellau sibuk dengan aneka kegiatan.

6. Menghemat Pengeluaran

Dalam mencari ilmu memang di butuhkan pengorbanan harta yang harus di keluarkan. Baik untuk kepentingan pribadi atau kewajban bulanan pesantren. Untuk itu dengan menghemat uang jajan kita di pesantren, selain kita bisa menabung, kita juga akan terbantu ketika ada kebutuhan yang mendadak. Dengan membuat perencanaan  yang baik, akan membantu kita dalam menghemat pengeluaran. Kita mengeluarkan uang ketika benar benar untuk hal yang kita butuhkan. Tidak hanya sekedar membeli barang yang kita inginkan yang sedikit manfaatnya bagi kita, apabila hanya untuk sekedar pamer.



7. Berakhlak Baik

Adab diatas ilmu. Terkadang kenapa kita tidak betah di pesantren, mungkin karena orang sekitar kita enggan berteman karena perilaku kita yang tidak baik. Ini juga perlu ingat. Apalagi santri baru, karena tidak semua anak sama tipikal dengan kita, tidak semua orang nyaman dengan sikap kita. Ketika perangai kita tidak disenangi orang lain, maka mereka pasti akan menjauhi.


Setiap orang yang memiliki akhlak yang baik pasti akan diterima oleh semua kalangan, di senangi oleh guru dan kawan bahkan saat terjun di masyarakat pun, orang-orang akan menilai terlebih dahulu pada akhlak yang kita miliki. Orang akan menilai atau menghargai kita dari pakaian sebelum kita duduk dalam sebuah majlis, dan orang akan menilai dan menghargai kita setelah kita duduk di majlis tersbut dari akhlak yang kita miliki. Dalam kehidupan sering kita temui, disaat ada tamu atau pejabat yang berpakaian rapi sangat di hormati, tapi kalua perangainya tidak baik jangan harap orang-orang akan memuliakannya lagi.  


8. Meminta Keridhaan  Orang Tua

Keridhaan Allah ada pada keridhaan orang tua, dan murkanya Allah ada pada murkanya orang tua. Dengan meminta keridhaan orang tua membuat jalan hidup kita di permudah ketika di pesantren. Tidak hanya kita yang harus ikhlas, sabar untuk tidak bertemu dengan orang tua dalam waktu yang tidak sebentar  ketika menuntut ilmu di pesantren. Orang tuapun juga harus ikhlas merelakan anaknya belajar di pesntren.

9 Tips Menarik Untuk Santri Baru Agar Betah Di Pesantren


9. Rajin Beribadah dan Berdoa

Selian kewajiban beribadah kepada Allah akan membuat kita semakin dekat dengan Allah. Dengan banyak mengingat Allah. Allah juga akan mengingat kita. Contohnya, melaksanakan sholat dan membaca Al Qur’an . Juga berdoa. berdoa ketika setelah shalat wajib maupun shalat sunah. Usaha tanpa doa itu omong kosong, doa tanpa usaha itu bohong. Usaha sudah di laksanakan, dan di sempurnakan dengan menambahkan doa, baik sebelum maupun sesudah usaha.  Setelah kita berusaha untuk betah hidup di pondok kita jangan lupa berdoa kepada Allah yang mampu membolak-balikkan hati manusia, memohon agar selalu diteguhkan hati untuk bertahan di pesantren. Kita berdoa agar di berikan ketenangan hidup di pesantren, di berikan kesehatan kebetahan kelancaran dalam semua urusan kita.



Demikianlah beberapa Tips utuk santri agar betah hidup di pesantren. Memang awalnya berat, namun dengan usaha yang sungguh sungguh, insyaallah Allah juga akan membantu kita agar membalikkan hati kita selalu betah hidup di pesantren.



Sumber : darunnajah.com



Baca selengkapnya

Kamis, 13 September 2018

Waspada ! sering izin pulang, penyebab utama santri tidak betah di pesantren

Waspada ! sering izin pulang, penyebab utama santri tidak betah di pesantren
photo by google



Berdasarkan pengalaman penulis nyantri dan mengabdi di pesantren kurang lebih 14 tahun, sering melayani keluhan wali santri dan memperhatikan santri yang tidak betah , rata-rata yang sering minta pindah pesantren adalah santri yang sering pulang.  keseringan izin pulang menjadi pemicu utama tidak betahnya santri di pesantren, disamping ada faktor lain. Wali santri sering di ingatkan oleh gurunya untuk tidak terlalu sering memulangkan anak selama masa pendidikan di pesantren, terutama bagi wali santri baru, yang baru mengenyam pendidikan pesantren, karena ada efeknya yang tidak disadari oleh wali santri.

Ada banyak kasus, wali santri yang belum siap memondokkan anaknya dengan kehidupan berasrama, penuh disiplin, anaknya sering tidak betah di pesantren.  Tidak bermaksud menghakimi, biasanya banyak terjadi bagi kalangan ibu-ibu. Masih ada rasa merasa kasihan melihat anaknya di pesantren. Memang wajar, kasih sayang seorang ibu itu tidak pernah lekang oleh waktu dan jarak, tapi sesuatu yang berlebihan itu juga tidak baik. Menyekolahkan anak ke pesantren bukan berarti hilangnya kasih sayang orang tua, tapi itulah bagian dari kasih sayang orang tua, agar kehidupan si anak lebih terarah ke depannya. Akan lebih kasihan lagi melihat anak hidup berantakan di kemudian hari akibat tidak di didik karakternya sejak dini.



Dalam hal ini, da’i kondang asal Riau, Ust. Abdul Somad, Lc sangat sering menyinggung masalah ini, menyeru orang tua untuk menyekolahkan anak ke pesantren dan menghimbau para orang tua agar selama masa pendidikan anak, jangan terlalu memanjakan si anak atau memperlakukan anak dengan rasa kasihan yang berlebihan dengan melihat kondisinya di pesantren.




Semakin sering santri pulang, maka semakin nyaman anak tersebut di rumah. Jika ia merasa lebih enak di rumah dari pada pesantren maka akan ada perubahan sikap pada si anak, misalnya dia sudah enggan kembali ke pesantren dengan berbagai alasan. Tak dapat di bantah, rumah dan seisinya memang tempat paling nyaman, namun jika si anak sudah merasa nyaman di pesantren maka kehidupan pesantren lah bagi santri tersebut merasa lebih nyaman pesantrennya dari pada rumahnya . Ada banyak santri merasa lebih enak hidup di pesantren dari pada di rumahnya, jika ia sudah merasa nyaman maka jangan coba-coba menganggu kenyamanannya dengan sering dibawa pulang, karena membuat santri nyaman di pesantren itu tidak mudah.

Jadi bagi wali santri yang ingin anaknya bertahan di pesantren mohon bersabar untuk sementara waktu untuk tidak sering minta izin pulang jika memang tidak terlalu penting. Ketahuilah, ada banyak orang tua yang menginginkan anaknya sekolah di pesantren namun tak tercapai hasratnya, sebab si anak tidak mau hidup di pesantren, tidak betah, dan lain sebagainya. Maka bersyukurlah bagi anda yang anaknya masih bertahan di pesantren hingga saat ini.
Sekian !



Baca selengkapnya

Sabtu, 02 Desember 2017

Ujian Syafahi, Menguji Mental dan Kemampuan Santri


Hikayat Santri | Di pesantren bersistem modern, Ujian Syafahi (Ujian Lisan) masih diandalkan sebagai salah satu metode menguji kemampuan santri sebelum ujian tulis (Tahriri). Ujian Syafahi memiliki peran penting untuk mengukur kemampuan para santri. Para guru dengan mudah dapat melihat langsung sejauh mana santri sudah menguasai pelajaran yang sudah dipelajari selama satu semester dan sejauh mana kesiapan santri tersebut menghadapi ujian tulis (tahriri) nantinya. 

Dalam ujian ini memang tidak semua pelajaran akan diuji, biasanya pelajaran yang diuji pelajaran bersifat pengembangan bahasa dan masalah Fiqh, Bahasa Arab,  mencakupi pelajaran-pelajaran pendukungnya, Bahasa Inggris, dan ditambah dengan pelajaran pendukungnya seperti, Nahwu, Sharf, Balaghoh, Mutholaah dans ebagainya, dan yang terkahir adalah Fiqh, meliputi praktek ibadah santri, kemampuan membaca Al Qur'an, Doa' sehari-hari, hafalan dan sebagainya. Dan pertanyaan yang diajukan pun menggunakan dua bahasa, Bahasa Arab dan Inggris sesuai dengan keterkaitan materi masing-masing. 

Selain itu, menguji mental santri juga salah satu bagian dari tujuan adanya Ujian Syafahi ini, dalam ujian ini para santri akan dihadapkan dengan berbagai karakter penguji. Kekuatan mental santri dipertaruhkan dalam ujian satu ini. Bagi santri yang lemah mentalnya, terkadang sulit menjawab berbagai pertanyaan dari sang penguji, meskipun ia sudah menguasai pelajaran yang akan diuji tersebut. Disini para guru/ustadz/ahnya akan menilai santrinya dan dengan mudah mengetahui mental yang dimiliki oleh santri tersebut sebagai bahan pengembangan dan penggemblengan terhadap santri tersebut kedepannya. 



Didalam ruang ujian, santri akan face to face berdialog dengan sang penguji. Tidak ada teman disamping dan tidak ada yang menolongnya selain kemampuan dirinya sendiri dalam menjawab pertanyaan, meskipun terkadang sang penguji sering menyuruh bertanya ke teman disela-sela ujian berlangsung saat santri tersebut mentok tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh penguji. 

Perbedaan karakter penguji juga menjadi tantangan tersendiri bagi santri, ada penguji terlihat sangar tapi ternyata murah senyum, ada penguji terlihat murah senyum, tapi sangat tegas dalam bertanya sehingga santri tersebut terkadang gugup selama dalam ruang ujian. Namun, perbedaan karakter penguji tidak merubah prosedur dan ketentuan ujian syafahi tersebut. 

Semua penguji memilliki standar pertanyaan masing-masing menurut mata pelajarannya, hanya saja para penguji terkadang akan menyesuaikan pertanyaan tersebut menurut kemampuan santrin yang diuji. Para penguji inipun terlebih dahulu ditatar oleh pimpinan mamupun bagian pengajarannya. Para penguji juga dibebani untuk membuat I'dad (persiapan bahan/materi pertanyaan) terlebih dahulu dan kemudian di koreksi oleh musyrif atau guru supervisor masing-masing. 


Adanya perbedaan karakter para penguji adalah hal yang lumrah, karena tidak semua orang sama sifat dan sikap yang dimilikinya. Sama halnya saat seseorang melamar kerja, para para pelamar akan berhadapan dengan interviewer yang berbeda karakter dan berbeda cara bertanya. Namun bagaimanapun perbedaan cara yang digunakan penguji, mereka tetap satu tujuan, ingin menggali lebih dalam tentang santrinya, pengetahuan, sikap, mental dan lain sebagainya. 

Di ujian syafahi ini, akan menjadi masalah besar bagi santri yang tidak mempersiapkan dengan baik, tidak belajar, tidak memahami pelajaran. Para ustadz atau penguji dengan mudah mengetahuinya, yang jawaban mereka dari setiap pertanyaan penguji hanya senyam senyum dan lihat kiri kanan, dan berekpresi seakan-akan dia lupa dan memikirkan jawabannya. 



Selanjutnya, para penguji juga tidak jarang mengangkat suaranya dengan keras dan lantang saat bertanya, atau bahkan menyuruh santrinya untuk keluar ruangan beberapa kali bagi santri yang tidak bisa menjawab sama sekali. Biasanya ini terjadi bagi santri yang saat diajukan pertanyaan yang sangat mudah dan umum diketahui orang lain dan dia tidak mengetahuinya. Tapi, dibaliknya terlihat kerasnya penguji, terjadi hanya sebatas di ruangan ujian. Meskipun demikian, sebahagian santri sudah mulai mencari tahu tentang karakter pengujinya, bahkan saat temannya sedang diuji, mereka tidak sedikit yang berupaya mengintip atau mendengar sebagian pertanyaan atau cara pengujinya bertanya. 


Namun akahir dari segalanya, dibalik banyaknya keluh kesah dan tantangan menghadapi ujian syafahi ini, para santri akan menyadari sejauh mana kemampuannya selama ini. Dan para gurupun sudah memiliki informasi terhadap semua santri yang diuji sejauh mana mereka kuasai pelajaran. Dan diakhir ujian syafahi, para penguji tidak luput menasehati mereka, memotivasi, memberi masukan, menyadarkan mereka bahkan tidak jarang ada santri yang menangis pada sesi akhir dari ujian ini. Dan di ujian ini mental santri benar-benar diuji, apakah mereka siap atau tidak menghadapi ujian.
Sekian.



Baca selengkapnya

Minggu, 29 Oktober 2017

Jusuf Kalla: Alumni Pesantren Jangan Berharap Jadi PNS


Jusuf Kalla: Alumni Pesantren Jangan Berharap Jadi PNS

Wakil Presiden Jusuf Kalla meresmikan langsung Pondok Pesantren Ikatan Masjid Musala Indonesia Muthahidah (IMMIM) Putera II, di Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu sore (28/10/2017).

Acara peresmian itu berlangsung meriah karena dihadiri ribuan santri dari pondok pesantren IMMIM. Para santri sempat tertawa saat Wakil Presiden kelahiran Sulawesi Selatan itu berharap agar lulusan pesantren jangan ada yang jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam pidato sambutannya.

"Jadi anak-anak yang lulus dari pesantren jangan terlalu berharap untuk jadi PNS, lupakan itu semuanya. Iya lupakan," kata Jusuf Kalla atau JK yang disambung tawa dari ribuan santri dan undangan yang hadir.
Hal itu diungkapkan JK karena jumlah lulusan sarjana dan jumlah PNS yang diterima setiap tahunnya berbeda jauh.

"Zaman dulu orang andalkan ijazah, zaman sekarang ijazah tidak berarti lagi. Kenapa tidak berarti ijazah sekarang, karena dulu ijazah dipakai untuk jadi pegawai negeri. Sekarang pegawai negeri yang diterima selama setahun paling tinggi 50 ribu (orang), itu pun mungkin kurang, kemarin cuma 25 ribu (orang), sedangkan yang lulus sarjana 1 juta (orang) tiap tahun," papar Jusuf Kalla.

Jusuf Kalla: Alumni Pesantren Jangan Berharap Jadi PNS

JK meminta agar para santri lebih dini dididik untuk bisa menjadi pengusaha atau entrepreneur muda agar bisa bersaing di era teknologi.
Pesantren modern zaman sekarang, kata dia, harus bisa berinovasi, dan meningkatkan mutu. Pesantren jangan lagi hanya mementingkan pendidikan ilmu dan keimanan. Karena pesantren modern zaman sekarang berbeda dengan pesantren zaman dulu.

"Pesantren modern memang meniru Gontor, tapi Gontor modern pada waktunya. Sekarang harus lebih baik dari dahulu. Harus menciptakan suatu kreatif, itu yang dimaksud modern di dewasa ini bukan hanya bajunya," jelas JK.
Ijazah penting, tegas JK, tapi lebih penting lagi kemampuan. Karena ijazah bisa terbakar sedangkan ilmu tidak. "ilmu tidak bisa hilang," JK menandaskan.

Sumber : liputan6.com


Baca selengkapnya

Rabu, 30 Agustus 2017

Liburan Tiba, Saatnya Santri Mengabdi Untuk Masyarakat



Liburan Tiba, Saatnya Santri Mengabdi Untuk Masyarakat
Dok. Hikayat Santri


HIKAYATSANTRI.COM- Liburan adalah hal yang paling ditunggu oleh santri sebagai moment mengistirahatkan diri dari berbagai kegiatan pesantren. Namun bagi santri, liburan bukanlah meliburkan  total dari kegiatan pesantren, melainkan sebagai momen untuk mengamalkan ilmu dan mengabdi untuk masyarakat. 
Pulangnya santri ke kampung halaman masing-masing menjadi sebuah penantian para tokoh masyarakat. Karena kontribusi seorang santri sangat dibutuhkan oleh masyarakat sebagai pelita kehidupan, yang memberi pencerahan kepada masyarakat.  


Liburan Tiba, Saatnya Santri Mengabdi Untuk Masyarakat
Pesan dan Nasehat Jelang Liburan | Dok. Hikayat Santri

Biasanya, setiap jelang liburan para santri terlbih dahulu ditatar oleh pimpinan, dewan guru melalui kegiatan taujihad wal irsyadad atau pesan dan nasehat jelang liburan. Dalam kegiatan tersebut para santri, diberi nasehat oleh kyai/pimpinan pesantrennya untuk mengisi kegiatan liburan dengan kegiatan bermanfaat. Santri juga diingatkan untuk menjaga nilai-nilai kepesantrenan dengan menjaga akhlak dan perilaku selama berada kampong halaman masing-masing.
Selain itu, santri juga dibekali dengan pesan moral pesantren untuk terjun dan berkiprah memberi kontribusi yang nyata dalam kehidupan masyarakat.  Santri dituntut untuk menjadi agent of uswatun hasanah, memberi suri tauladan yang baik kepada yang lain, menginspirasi masyarakat kearah yang lebih baik. 

Baca Juga : 

Pesantren itu Suci, Apapun Disiplin yang Dilanggar oleh Santri Pasti Ketahuan

Dalam kamus pesantren, liburan adalah perpindahan kegiatan yang bermanfaat ke kegiatan bermanfaat lainnya. Maka oleh karena itu, kepada santri dibebankan untuk menjadikan liburan sebagai kesempatan untuk belajar, mengabdikan diri untuk ummat, berkarya, dan mengamalkan ilmunya. Jadi liburan bukalnah berarti berhenti total dari rutinitas pesantren, akan tetapi hanya sebagai peralihan tempat dari pesantren ke rumah atau kampung halaman santri masing-masing. Yang berbeda tempatnya, sedangkan nilai-nilai pendidikan pesantren tetap dipegang teguh dan diamalkan.  


Liburan Tiba, Saatnya Santri Mengabdi Untuk Masyarakat
Dok. Hikayat Santri


Menjadikan Liburan Sebagai Sarana Dakwah

Kegiatan dakwah adalah hal yang dianjurkan oleh agama bagi umat islam, dengan dakwahlah terketuk hati manusia untuk mengenal siapa Tuhan mereka, dengan dakwalah pintu-pintu hidayah bagi hamba-hamba Allah yang khilaf. Maka, liburan adalah moment yang sangat efektif untuk berdakwah, menyebarkan inspirasi beribadah kepada yang lain, menyampaikan nilai-nilai kebaikan kepada masyarakat, kerabat, sahabat dan keluarga. Dan yang tidak kalah penting adalah member suri tauladan yang baik kepada masyarakat. 
Para santri memiliki tempat special di hati masyarakat saat mereka pulang ke kampong halaman. Para santri tidak jarang diminta untuk menjadi imam di surau atau mesjid bahkan untuk mengisi ceramah bahkan pengajian. Dari sini kita bisa lihat bahwa santri mempunyai tugas yang besar saat kembali ke kampong halaman masing-masing, kontribusi dan partisipasi para santri penantian masyarakat. 

Baca Juga : 

3 Benda ini Yang Wajib dibawa oleh Santri Kemanapun Mereka Pergi Selama di Pesantren


Liburan Untuk Belajar
Selain sebagai moment untuk berdakwah, liburan juga bisa dimanfaatkan oleh santri sebagai kesempatan untuk belajar, mengingat keilmuan para santri masih sangat terbatas. Maka tidak salahnya para santri mengikuti pengajian-pengajian yang ada di kampong halamannya. Mendatangi guru-guru untuk belajar selain ilmu yang diajarkan di pesantren, berbaur dengan masyarakat belajar tentang ilmu kehidupan. 
Bersilaturahmi dengan orang-orang yang dituakan di kampung halaman, minta nasehat mereka sebagai tambahan untuk kehidupan yang lebih baik. Selain itu, para santri juga bisa mengikuti aneka kegiatan atau kursus yang diadakan di kampungnya masing-masing. Tidak salah bagi santri mengisi liburan dengan kegiatan bersifat mendidik. 
Maka, liburan bagi santri bukanlah liburan semata. Tapi bagaimana caranya memanfatkan liburan sebagai moment untuk refreshing dan memanfaatkannya untuk berdakwah dan belajar agar liburannya benar-benar bermakna. 
Sekian !

Artikel Terkait :



Baca selengkapnya