Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 November 2018

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk Kelanjutan Pendidikan Anak


7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak

Saat ini pesantren menjadi salah satu lembaga pendidikan anak yang menjadi solusi untuk menghindari dari pergaulan bebas, yang hari ini  sangat meresahkan dikalangan remaja dan pemuda. Banyak orang tua lebih memilih pesantren dengan segala pertimbangan untuk mencegah hal-hal buruk terjadi pada anak. Dan terbukti, setiap tahunnya, rata-rata pesantren di seluruh Indonesia menampung santri dengan jumlah pendaftar membludak (overload), apalagi pesantren yang sudah maju dan berkembang pesat.

Namun, tidak semua harapan para orang tua dapat terpenuhi, ada yang tidak lulus seleksi anaknya, ada yang sudah lulus tapi anaknya tidak betah, ada yang sudah betah namun terkendala pada biaya pendidikan, dan masalah lainnya sering menimpa para orang tua wali santri.

 Nah, berhubung saat ini sudah memasuki akhir tahun, beberapa pesantren sudah mulai melakukan persiapan penerimaan santri baru bahkan ada yang sudah membukanya, pada kesempatan ini hikayatsantri.com mencoba merangkum beberapa ulasan mengenai tips memilih pesantren yang baik yang disadur dari berbagai sumber, yang dapat dijadikan sebagai bacaan rujukan orang tua sebelum memasukkan anaknya ke pesantren.

 Perhatikan Tipe, Sistem dan Model Pendidikan Pesantren


Di Indonesia umumnya terdapat 2 (dua) jenis tipe pondok pesantren, Salafi (tradisional) dan Modern (Terpadu, Ashriyah), silakan ditentukan terlebih dahulu, si anak maunya pesantren yang jenis seperti apa, Salafi atau Modern, salafi lebih mengkaji pada kitab-kitab kuning dan focus pada ilmu pengetahuan saja umumnya, dengan system pengajian tradisional (seperti sorogan, wetonan, dan bandongan), sedangkan modern pendidikannya memadukan ilmu agama dan umum, dan terdapat jenjang pendidikannya, tingkat Tsanawiyah maupun Aliyah.  Kemudian pesantren modern juga terdapat kegiatan ekstrakurikulernya, layaknya sekolah umum, hanya saja pesantren lebih bervariasi. Pesantren salafi juga ada kegiatan ekstrakurikulernya, hanya saja tidak sebanyak dan seaktif pesantren modern.

Perhatikan Biaya Pendidikannya

Pilihlah pesantren yang sesuai dengan kemampuan finansial, agar tidak terjadi masalah pada pendidikan anak, biaya pendidikan salah satu komponen pendukung jalannya kegiatan pembelajaran untuk menunjang aktivitas proses belajar mengajar, dan ini merupakan bagian dari pada salah satu pengorbanan dalam menuntut ilmu. Setiap pesantren berbeda-beda biaya pendidikannya, tergantung pada system, sarana dan prasarana, dan tenaga kependidikan yang terdapat pada pesantren tersebut.

Maka sebaiknya, para orang tua memastikan biaya pendidikan terlebih dahulu sebelum memilih pesantren, penuhi keinginan anak sesuai kemampuan finansial agar tidak bermasalah pada pembiayaan pendidikan. Karena juga tidak sedikit, anak-anak putus pendidikannya di pesantren terkendala pada biaya.


 Perhatikan Sarana dan Prasarana Pesantren

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak


Fasilitas pendidikan bagian dari pada salah satu penunjang kesuksesan pendidikan anak, yang tidak dapat dipisahkan dari lembaga pendidikan. Hal ini memang bukan rumus yang baku, karena ada juga pesantren yang berhasil melahirkan ouput santrinya berkualitas meskipun minim fasilitas di pesantrennya.

Ada banyak kasus, para orang tua mengeluh di tengah jalan karena kurangnya fasilitas di pesantren anaknya, dan kerap membanding-bandingkan dengan pesantren lain yang jauh lebih lengkap dari segi fasilitasnya. Padahal, biaya pendidikan yang dikeluarkan tidak seberapa besar dari pesantren yang lebih lengkap fasilitasnya. Jika ingin membanding-bandingkan harus fair, jangan sampai terjebak dengan standar pendidikan pesantren lain, makanya sangat penting memperhatikan terlebih dahulu fasilitas pesantren yang dituju agar tidak ada keluhan dan penyesalan di kemudian hari.

     Perhatikan Kegiatan Formal dan Informal Pesantren

Kegiatan tiap pesantren berbeda-beda, meskipun ada satu dua hal yang sama. Namun, semua kegiatan pesantren sangat tergantung pada system dan pola pendidikan di pesantren tersebut. Biasanya si anak akan memilih pesantren yang terdapat kegiatan yang sesuai dengan minat dan bakatnya, terutama dalam kegiatan ekstrakurikulernya.

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak


Umumnya, santri lebih betah di pesantren yang sesuai dengan keinginannya. Maka para orang tua harus mengecek terlebih dahulu, jika menginginkan anaknya menjadi penghafal Al Qur’an maka pilih pesantren dan focus pada penghafalan Al Qur’an yang otomatis kegiatannya lebih ringan, lebih banyak waktu untuk kegiatan penghafalan.

     Perhatikan Kurikulum Pendidikannya

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak


      Tidak semua sama kurikulum antar pesantren, semua tergantung arah dan ouput yang ingin dihasilkan oleh pesantren tersebut, jika pun terdapat kesamaan, biasanya pada kurikulum yang sudah ditetapkan oleh pemerintah seperti kurikulum 2013 yang saat ini sedang berjalan.

  Memperhatikan kurikulum pesantren terlebih dahulu juga penting, menyesuaikan dengan kemampuan anak, karena juga tidak sedikit anak yang tidak betah di pesantren yang akhirnya pindah karena ketidakmampuan anak menyerap sejumlah pelajaran yang terdapat di pesantren. Kemampuan anak memang dapat diasah dan ditingkatkan, tapi yang harus diingat bahwa setiap anak berbeda kemampuan masing-masing, dan memilih pesantren yang sesuai keinginan dan kemampuannya akan lebih baik.

     Perhatikan Letak Strategis dan Geografis Pesantren

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak
Lokasi Pesantren Modern Al Manar Aceh | Photo hikayatsantri.com


Ada dua pertimbangan yang mesti dilihat mengenai letak strategis dan geografis pesantren, namun ada sisi positif dan negatifnya, pertama, memilih pesantren yang dekat dan mudah dijangkau agar mudah mengunjungi anak ataupun mudah menemuinya saat ada masalah di kemudian hari, namun memilih pesantren yang dekat kerap kali membuat anak tidak betah di pesantren, sebab mudah teringat akan rumah, dan mudah untuk pulang dan akan sering minta izin pulang. Dan fakta di lapangan, santri yang sering izin pulang, dominan tidak bertahan lama di pesantren, sebab baginya lebih nyaman dan enak di rumah dari pada di pesantren.

Kedua, memilih pesantren yang jauh dari rumah dan akan jarang menemui si anak, dan ini lebih baik untuk membuat anak lebih kuat dan mandiri di pesantren. Dengan catatan orang tua harus siap, harus kuat jauh dari anak, bahkan kalau bisa letaknya melewati kabupaten bahkan provinsi, agar si anak tidak sering minta izin pulang. Dan para orang tua tidak akan terlalu sering mengunjungi anaknya, sebab terlalu sering dikunjung juga membuat anak tidak betah. Jenguklah anak jarang-jarang agar cinta makin berkembang. Hidup di perantauan, jauh dari orang tua, membuat anak lebih kuat dan mandiri dari pada yang dekat dengan rumah.

Dan sisi lain mengenai letak pesantren adalah dimana keberadaannya, di kota, di perdesaan, tempat terpencil, dekat dengan pegunungan dan lainnya. Ini tergantung keinginan para orang tua. 

  Perhatikan Kenyamanan dan kebersihan Lingkungannya

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak


Kenyamanan salah satu factor membuat anak betah di pesantren, baik itu dari segi kebersihan maupun keindahannya. Dan ini ada kaitannya dengan letak geografis dan strategis pesantren. Biasanya lokasi pesantren di perdesaan dan terpencil lebih nyaman dan asri, dan sedikit jauh dari perumahan masyarakat, dan ini lebih banyak diminati, sebab tidak terlalu terganggu dengan aktivitas masyarakat. Karena jika pesantren terlalu dekat dengan masyarakat, pesantren terkadang sering mengalami kendala dan sering terjadi gesekan dengan masyarakat, apalagi jika dominan masyarakatnya susah di ajak kerjasama dan tidak mau mengerti keadaan pesantren.

Jika dekat dengan perkampungan atau perumahan, pesantren tidak bisa mengatur aktivitas masyarakat, misalnya suara mesin pabrik, atau suara bising lainnya dari kegiatan masyakarat. Dan sebaliknya jika pesantren membuat kegiatan di pesantren kerap kali masyarakat terganggu, jadinya sedikit susah pesantren menggerakkan kegiatannya, kecuali masyarakat ditempat tersebut memang sangat harmonis mudah diajak kerjasama dan saling memahami dan mengerti. Dan hal ini, sulit terjadi, karena tipikal masyarakat berbeda-beda.

Demikian beberapa tips dari hikayatsantri.com kiat memilih pesantren, dan ini bersifat opini yang dapat direvisi dan dikoreksi. Semoga bermanfaat. 

Tonton Videonya : 





Baca selengkapnya

Selasa, 31 Januari 2017

Amaliyah Tadris, Cara Pesantren Melahirkan Guru Yang Profesional

Amaliyah Tadris, Cara Pesantren Melahirkan Guru Yang Profesional
Salah satu program pesantren untuk melahirkan guru-guru handal adalah Amaliyah Tadris atau sering disebut dengan Micro Teaching (Praktek Mengajar). Biasanya, program ini berlaku untuk santri kelas akhir yang segera mengakhiri pendidikannya di pesantren. Amaliyah Tadris ini sendiri bertujuan agar para santrinya memiliki bekal dalam mengajar. Meskipun nantinya tidak semua dari mereka menjadi guru, karena mengajar tidak harus menjadi guru.
Nah, dengan adanya program Amaliyah Tadris ini para santri sangat diuntungkan sebenarnya, soalnya program ini biasanya dilakukan oleh tingkat kampus kepada mahasiswa yang kuliah di bidang keguruan. Tapi pesantren sudah duluan mengenalinya kepada santri agar mereka terampil mengajar setelah menjadi alumni. Memang belum sempurna menjadi seorang guru setelah mengikuti amaliyah tadris tersebut,tapi paling tidak mereka sudah memilki wawasan bagaimana menjadi guru sebenarnya, dan kemudian mereka akan mempelajarinya kembali agar terus berkembang kemampuannya dalam mengajar.
Baca Juga : 

Selagi Nyantri Belajarlah Sungguh-Sungguh, Jangan Nyesal Setelah Jadi Alumni

Selain keterampilan dalam mengajar, Amaliyah Tadris ini sudah tentu mendidik mentalitas santri. Dari sekian banyak santri sudah pasti ada diantara mereka yang mentalnya masih kurang. Amaliyah Tadris membuktikan semua dan menjadi tuntutan, mau tidak mau, bisa tidak bisa, ada mental atau tidak, wajib dan harus bisa mengajar berdiri didepan seluruh murid.

Amaliyah Tadris tak semudah yang dibayangkan loh ! selain mental, buat i’dadnya aja penuh tantangan luar biasa
Amaliyah Tadris, Cara Pesantren Melahirkan Guru Yang Profesional

Dalam pelaksanaannya tidaklah gampang, karena para santri ini diwajibkan untuk membuat persiapan atau sering disebut dengan istilah “idad Tadris” atau yang dikenal dengan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Sudah tentu jauh sebelum membuat RPP tersebut mereka sudah terlebih dahulu dibimbing oleh musyrif atau guru pembimbing masing-masing.
Baca Juga : 

3 Tempat Ini Santri Sering Tertidur, Nomor 2 Paling Tidak Masuk Akal

Menurut penulis sendiri, saat Amaliyah tadris inilah moment menjadi guru yang paling sempurna. Kenapa tidak? Karena sebelum mengajar para santri sudah dibimbing terlebih dahulu, kemudian membuat persiapan yang matang, materinya, strategi mengajarnya, media yang digunakan dan sebagainya. Itupun proses pembuatan ‘Idad Tadris tidak berjalan semudah yang kita bayangkan. I’dad tersebut melalui berbagai tahapan, perbaikan dan koreksian, bimbingannya tidak jauh beda dengan bimbingan skripsi.
Yang sebelumnya kurang tertarik dengan dunia belajar mengajar, harus terpaksa menarik dan berusaha menjadi guru yang baik. Berbagai persiapan pun dilakukan

Amaliyah Tadris, Cara Pesantren Melahirkan Guru Yang Profesional
Tuh lihat mata teman-temanya memperhatikan yang sedang mengajar
Tidak cukup sampai disitu (I’dad Tadris), mereka (santri) juga dituntut untuk mempersiapkan metode atau media mengajar yang sesuai, agar para murid harus lebih mudah memahami pelajaran. Kemudian perjuangan pun tidak berhenti disitu, kemudian para santri juga mempersiapkan bahasa untuk menjelaskan pelajaran, baik itu bahasa arab maupun inggris tergantung pelajaran yang diambil, yang jelas tidak ada bahasa indonesia. #walah
Selesai di tahap persiapan I’dad Tadris ditambah lagi dengan mentalitas yang harus kuat saat praktek mengajar. Karena disaat praktek berlangsung para santri calon guru ini akan dievaluasi habis-habisan oleh pembimbing dan teman-temannya yang berdiri berjejeran menyaksikan si calon guru sedang mengajar. 
Baca Juga : 

Santri, Disaat Kamu Mulai Merasa Malas Belajar, Ingatlah Bahwa Orangtuamu di Rumah Sedang Berjuang Untukmu

Amaliyah Tadris, Cara Pesantren Melahirkan Guru Yang Profesional
ini dia lembaran Dars Naqd (Observasi dan  Evaluasi Guru Mengajar)
Para santri calon guru ini dilihat, diperhatikan, dinilai mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, mulai dari mulainya belajar hingga akhir, sikap dan sopan santun guru termasuk cara berpartisipasi dangan murid, semua temannya akan menjadi tim asesor saat itu. Bergitupun sebaliknya, saat yang lain mengajar, mereka saling menilai dan mengevaluasi. Hingga akhirnya masuklah ketahap evaluasi bersama atau sering disebut dengan istilah Darsu An-Naqdi” (Evaluasi Proses Pengajaran). Disitulah santri calon guru tadi dibantai habis-habisan dengan kritikan atas kesalahan yang dilakukan saat mengajar tadi, tentunya kritikan tersebut bersifat membangun untuk perbaikan ke arah yang lebih baik kedepannya.
Ini dia empat hal yang sangat diperhatikan oleh pembimbing dan teman-teman yang menilai sangat proses pembelajaran berlangsung.
Amaliyah Tadris, Cara Pesantren Melahirkan Guru Yang Profesional

Pertama, Thariqah (Cara mengajar)
Berbicara mengenai cara mengajar kita harus membaca istilah paling terkenal yang dikembangkan oleh Kyai-Kyai Pondok Modern Gontor dalam mendidik santrinya, yaitu  at-thariqah ahammu mina-l-maddah, wa al-mudarris ahammu mina-t-thariqah, wa ruhu-l-mudarris ahammu mina-l-mudarris nafsihi.  Yang artinya adalah Metode lebih penting dari pada Materi, Guru lebih penting dari pada metode dan ruh atau jiwa guru itu sendiri lebih oenting dari pada gurunya.
Maka sudah pasti metode sangat penting diperhatika oleh guru agar pelajarannya mudah diterima oleh muridnya, dan kecerdasan guru dalam mencari metode yang sesuai sebuah tuntutan, karena tidak semua murid bisa menerima pelajaran dengan mudah dan guru harus memahami bahwa kecerdasan dan kemampuan murid itu berbeda-beda.
Kedua, Maadah (Materi)
Dan ini sudah jelas. Kalau tidak ada materi memnagnya  mau ajarin apa ke muridnya? Cerita atau nasehat yang berisi motivasi atau Tasji’ Ghonam istilah ma’hadinya. #haha
Tapi, mempersiapkan materi yang baik harus selalu diperhatikan. Dipermudah penjelasannya, kemudian haru teliti dalam menulis materinya, menjelaskan dan sebagainya. Agar ilmu yang diterima  oleh murid tidak sesat dan menyesatkan.

Ketiga, Ahwalu Almudarris (Kepribadian Guru)

Nah, ini berbicara soal mentalitas guru dan ketanggappan guru dalam mengajar. Semua hal yang berkenaan dengan kepribadian guru dinilai. Apakah gurunya kurang sopan, kurang memperhatikan murid, kurang rapi, lupa menghapus papan tulis saat memberi latihan kepada murid, lupa ini itu, pokoknya semua yang dilakukan oleh guru ternilai.

Keempat, Lughatul Mudarris (Bahasa Guru)

Bagaimana bisa murid bisa paham terhadap pelajaran kalau gurunya salah menyampaikan atau kurang benar pengucapan kalimat dan sebagainya. Maka ketepatan penyampaian materi harus diperhatikan oleh guru. Bahasa yang digunakan harus lebih mudah dipahami, yang sesuai dengan dunia pendidikan dan umur murid, sesuai dengan materi yang tertulis, apalagi pelajaran hafalan seperti hadits, tafsir. Jangan sampai lafadz yang diucapkan guru tidak sesuai dengan yang tertulis di buku.

Itulah kira-kira pembahasan tentang kegiatan Amaliyah Tadris yang mendidik santri dalam mengajar, memberi bekal berupa keterampilan dalam mengajar. Andai langkah Amaliyah Tadris ini  dipraktekkan oleh seluruh guru di Indonesia, mungkin tingkat pendidikan kita diatas rata-rata. Makanya tidak salah, penulis katakan diatas bahwa saat Amaliyah tadris inilah terasa sempurna menjadi seorang guru.

Sekian.

 Baca Juga : Muhadharah, Upaya Pesantren Mencetak Orator Ulung


Baca selengkapnya

Selasa, 19 Juli 2016

Inilah 5 Pola Kehidupan di Pesantren yang Mesti Kamu Ketahui!

Photo : Pesantren Modern Al Manar Aceh Besar

Kalau kamu pernah berkunjung ke pesantren, khususnya pesantren yang menganut sistem modern kamu tidak jarang menemukan tulisan-tulisan seperti motivasi dalam belajar, kata-kata hikmah, Ayat Al Qur’an dalam berbentuk kaligrafi dan tulisan lainnya. Nah, salah satu dari hal tersebut kamu juga akan menemukan tulisan panca jiwa pesantren. 
Apa itu Panca Jiwa ?
inilah pola kehidupan di pesantren yang harus diwujudkan dalam proses pendidikan dan pembinaan karakter santri. Panca jiwa ini hendaknya harus di pahami oleh seluruh santri. Kalau 5 panca jiwa ini sudah tertanam pada setiap jiwa santri, insyallah santri tersebut akan belajar sungguh-sungguh di pesantren. Pola kehidupan ini bukan hanya harus dimiliki oleh santri, begitu juga dengan dewan guru, Ustadz dan pengurus pesantren. Pesantren tersebut akan selalu bertahan kalau 5 pola kehidupan pesantren selalu mereka junjung tinggi.  Apa saja pola kehidupan pesantren tersebut ? berikut penjelasannya.

1.       Jiwa Keikhlasan
Kamu pernah mendengar “ Al ikhlashu ruhul ‘Amali? Ikhlas itu ruhnya sebuah pekerjaan. Kedudukan keikhlasan sangat penting dalam sebuah pekerjaan, termasuk belajar. Keikhlasan seseorang akan terlihat pada hasil yang ia kerjakan. Jiwa keikhlasan ini tergambar dalam pekerjaan sehari-hari santri maupun dewan guru, berbuat sesuatu sebagai ibadah tanpa mengharapkan sebuah keuntungan tertentu.
Jiwa ini wajib dimiliki oleh setiap orang yang tinggal di pesantren. Jiwa inilah yang akan menciptakan keharmonisan antara santri, dewan guru, dan pimpinan pesantren. Menerima sesuatu atau menaati sesuatu di dorong oleh jiwa yang penuh cinta dan rasa hormat. Maka tak heran bagi santri yang memiliki jiwa tersebut, maka setiap kegiatannya di pesantren yang ia jalani, belajar dan sebagainya hanya sebagai ibadah semata.

2.       Jiwa Kesederhanaan
Ingat ! sederhana bukan berarti miskin kawan. Kadang orang sering menyalahgunakan makna kesederhanaan. Kesederhanaan itu merupakan kekuatan hati, katabahan, dan pengendalian diri dalam menghadapi berbagai macam persoalan hidup. Dengan jiwa kesederhanaan ini maka akan lahir jiwa yang besar, berani, bergerak maju, dan pantang mundur dalam segala keadaan. Maka tak heran di pesantren kalau ada santri dari keluarga yang tergolong kaya, tapi penampilan sehari-harinya sangat sederhana, bahkan ia terlihat lebih dari pada orang miskin. Kenapa itu bisa terjadi? Karena jiwa kesederhanaan ini yang sudah tertancap di dalam hati.
Dengan jiwa kesederhanaan inilah berawal tumbuhnya kekuatan mental dan karakter yang menjadi jalan suksesnya suatu perjuangan dalam segala lini kehidupan.

3.       Jiwa Kemandirian
Mandiri sering disebut dengan mandi sendiri. Haha
Selain mandiri, jiwa ini juga disebut dengan Berdikari, yang biasanya dijadikan akronim dari “ Berdiri di atas kaki sendiri” . seorang santri harus menjadikan sifat mandiri ini sebagai prinsip agar hidup ini tidak selalu bergantungan pada orang lain.
Dengan jiwa mandiri ini akan menghilangkan sifat manja yang ada pada diri santri tersebut sebelumnya. Karena dalam kesehariannya dia akan bertarung dengan sendirinya menghadapi berbagai kegiatan di pesantren. Maka bagi orang tua yang anaknya di pesantren, jangan pernah memanjakan anak bapak ibu selama di pesantren. Biarkan dia mengerjakan sesuatu itu dengan segenap kemampuannya. Karena kelak suatu saat nanti,  dia akan hidup tanpa adanya orang tua dan tidak akan selalu bergantungan pada orang lain.
Jiwa mandiri ini juga tergambar pada diri seorang pimpinan pesantren, Kyai dalam membangun pesantren. Cukup dengan dukungan santri dan masyarakat umum pesantren itu akan selalu eksis yang dibarengi dengan jiwa keikhlasan tadi. Jiwa kemandirian ini seperti pondasi utama dalam merintis sebuah pesantren. 
Kemandirian dapat menghilangkan sejuta rintangan dalam kehidupan seseorang. Orang yang mandiri akan selalu ada cara untuk menaklukkan sesuatu. Percayalah ! santri itu orang yang paling banyak ide. Lihat saja ketika mereka terlambat ke mesjid, akan ada seribu alasan yang mereka utarakan kepada Al Akh ataupun ustadznya dalam waktu yang singkat. Hahaha.......

4.       Jiwa Ukhuwah Islamiyah
Nilai ukhuwah islamiyah ini sangat penting dalam kehidupan sosial. Kamu sering mendengarkan ? “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh” ya, kebersamaan adalah kekuatan dalam mencapai kesuksesan. Lihat saja lomba panjat pinang 17 Agustus, kalau mereka tidak bekerjasama maka mustahil salah satu dari mereka bisa sampai kepuncak. Pun begitu dengan kehidupan di pesantren, jiwa persaudaraan mereka inilah yang mengantarkan mereka pada sebuah keberhasilan. 

Para santri datang dari daerah yang berbedan dengan kulit yang berbeda, tapi disatukan dengan lauk yang sama ketika mereka makan. Jiwa persaudaraan santri ini sangat kuat jika dibandingkan dengan anak sekolah non pesantren. Kenapa? Karena para santri selama 24 jam mereka selalu bersama. Mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Bahkan ketika mereka melanggar pun kadang-kadang mereka sering bersama-sama. Hahaha... di hukum pun juga sama. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Kecuali hukuman untuk juru kunci yang mengajak melanggar, itu pastinya sedikit berbeda dengan yang lain, kerena ini kepalanya. Haha

Nilai ukhuwah ini akan selalu tertanam pada diri mereka, bahkan hingga alumni pun mereka akan selalu bersama, hanya jarak dan waktu yang memisahkan mereka. Luar biasa ! indahnya kehidupan di pesantren
5.       Jiwa Kebebasan
Di pesantren kan ada disiplin di segala sudut kehidupan santri, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi ada disiplin, jadi dimana juga kebebasan itu?

Kebebebasan ada pada setia diri santri, kebebebasan berpikir, kebebasan berbuat, dan kebebasa berkarya. Nah, tentunya kebebasan tersebut bukan kebebasan liar yang melanggar peraturan ataupun syariat islam. Haha..

Para santri diberi kebebasan untuk memilih jalan hidup nantinya di kala mereka terjun masyarakat dengan turut serta membawa nila-nilai pendidikan di pesantren. Mereka bebas menata kehidupan dengan berbekal jiwa yang besar dan optimisme yang mereka dapatkan selama di pesantren. Dan tentunya hal tersebut tidak melenceng dari nilai-nilai pendidikan pesantren tadi. Mereka bebas terjun kedunia apapun yang mereka sukai dengan memperhatikan tetap dalam koridor yang wajar dengan berbagai macam inovasi yang dikembangkan oleh mereka.

Maka tak heran jika melihat alumni pesantren berada dimana-mana, ada yang terjun ke dunia politik, kampus, jadi ulama, pengusaha, guru, polisi, tentara dan sebagainya. Tentunya apapun profesi  yang mereka tekuni tetap menjadi alumni pesantren. Jadi dosen, dosen yang islami, jadi politikus, politikus yang islam yang memegang teguh nilai-nilai kepesantrenan.

Maka 5 pola kehidupan tersebut lah yang akan mengantarkan seorang santri untuk menjadi orang besar suatu saat nanti. 5 panca jiwa tersebut juga menjadikan sebuah lembaga menjadi pesantren jika staf atau pengurus didalamnya mengamalkan 5 pola kehidupan pesantren tersebu. Tentunya dengan penuh harapan, apa yang santri dapatkan di pesantren, agar dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka nantinya. Karena ilmu itu untuk diamalkan.

Dengan jiwa ini juga pesantren mendidik para santri dan mebentuk karakter mereka sehingga melahirkan generasi yang akan menggetarkan dunia. Haha..semoga !
Melalui pesantren kita warnai dunia ! yakk ....




Baca selengkapnya

Jumat, 15 Juli 2016

[Opini] Santri dan Pembangunan Bangsa

Oleh Imran Abu Bakar
KEPUTUSAN Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada Kamis (15/10/2015) lalu, telah mengukuhkan kembali pentingnya peran santri dalam membangun bangsa. Sejarah perjuangan santri dalam mempertahankan negara perlu diperkenalkan kembali sebagai satu upaya dalam menumbuh-kembangkan semangat berbangsa di kalangan santri.
Sikap responsif santri atas fatwa ulama tentang kewajiban jihad melawan penjajah dan mati syahid bagi yang wafat di medan tempur, tentunya harus dicatat rapi dalam lembaran sejarah bangsa. Semangat jihad santri demi Tanah Air tercinta dan kiprah mereka dalam perjuangan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan, memang kurang diketahui oleh masyarakat. Padahal santri telah turut memberikan sesuatu yang penting bagi bangsa ini.
Kontribusi santri dalam berbagai kegiatan negara kadang kurang mendapat perhatian, sehingga perannya kabur dan hilang dari ingatan masyarakat, seiring dengan berjalannya waktu. Padahal rekaman sejarah tentang peran santri dalam sejarah bangsa Indonesia perlu diputar ulang sebagai upaya resolusi semangat santri dalam perjuangan mengisi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Santri memiliki ciri-ciri khas yang mudah dikenal dalam masyarakat Indonesia. Pemuda-pemudi unik yang sedang khusyuk menimba ilmu pengetahuan di pondok pesantren atau dayah dengan penampilan dan sikap sederhana. Bangun pagi lebih cepat, tidur malam telat, telah menjadi kebiasaan mereka, seakan mereka sadar akan getirnya perjuangan melawan kebodohan. Suara zikir dan membaca bertaut dari satu kelas ke kelas yang lain mengalahkan suara mesin pembangkit tenaga listrik. Wadhifah seperti ini mendidik mereka menjadi orang yang cerdas dan kuat sebagai calon-calon pemimpin di masa yang akan datang.
Hiruk-pikuk suara manusia di areal yang sempit itu, telah menjadi hiburan gratis pengganti konser artis top seperti di berbagai belahan kota besar. Suara doa dan munajat mereka, terpancar setiap sore dan pagi yang berkah membelah kesunyian malam yang indah, sambil menatap pagi yang cerah dengan semangat mengabdi dan menimba ilmu yang suci sebagai bekal hidup di masa depan nanti, antrian di kamar mandi, desak-desakan di asrama yang sempit, tak membuat mereka pasrah kepada alam demi menggait cita yang suci.
Memiliki komitmen
Situasi dan kondisi yang demikian telah mendidik santri menjadi kelompok masyarakat yang memiliki komitmen yang tinggi dan kuat. Ada empat ruh santri yang dapat menjadi potensi negara untuk memajukan bangsa ini: Pertama, santri terdidik dengan sikap kemandirian, di mana satu ciri orang-orang sukses adalah memiliki jiwa yang mandiri. Kemandirian ini diajarkan oleh hadis: “Mukmin yang yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim). Seharusnya dunia ini dikuasai oleh yang kuat dan memiliki akhlakul karimah, supaya mencapai kedamaian dan ketertiban.
Kedua, santri meliliki sifat pengabdian. Folosofi kerja di di dayah atau pesantren adalah mengabdi. Maka jangan heran kalau orang yang baru mengenal guru dayah ketika ditanyakan, berapa gajinya mereka menjawab tidak ada gaji? Maka akan tergeleng-geleng kepala sambil mengerutkan dahi, dan bertanya pada diri sendiri, mungkinkah? Lalu bagaimana kamu hidup, makan apa, dan sederetan pertanyaan yang lain. Tetapi nyatanya mereka telah dapat hidup dengan tenang dan gembira dalam kesederhanaan. Sesungguhnya, kondisi inilah yang membuat mereka lebih siap dan memiliki rasa sosial yang tinggi.
Kita mengakui bahwa satu budaya bangsa yang di ambang punah adalah budaya gotong-royong. Kalau dewasa ini, kita mau melihat praktik budaya gotong-royong, mungkin tidak salah kalau jawabannya, lihatlah gotong-royong santri. Padahal kita kenal bahwa gotong-royong adalah budaya bangsa Indonesia yang kian hari kian terasa hilang, bahkan kemerdekaanpun diraih dengan gotong-royong. Tetapi budaya ini semakin terkikis akibat nilai-nilai kosmopolitan yang dangkal seperti hedonisme, konsumerisme, materialisme dan pragmatisme.
Ketiga, ruh jihad. Definisi jihad di sini adalah tekat dan komitmen yang kuat dalam mengarungi samudera penderitaan serta memecahkan kebuntuan. Bangsa dengan tingkat kesungguhan yang kuat akan dapat menaklukan dunia, katakanlah Jepang dengan energi samurainya dan lain-lain. Sikap ini pula yang menyebabkan santri berani bergerak melawan penjajah meskipun harus berhadapan dengan kubangan darah.
Keempat, cinta ilmu dan wawasan yang luas. Hidup dalam dunia ilmu pengetahuan, membuat santri harus mencintai ilmu pengetahuan. Salah satu alasan islam dapat diterima sebagai agama oleh penduduk dunia, karena islam mengajarkan cinta kepada ilmu pengetahuan, bahkan ayat yang pertama turun adalah iqra’ (bacalah). Artinya sebuah perintah kepada umat Islam untuk membaca, baik yang tersurat maupun yang tersirat, karena dengan membaca dapat menyingkap tabir berbagai rahasia alam.
Bangsa yang maju bukan hanya ditentukan oleh sumber kekayaan materi, tetapi kekayaan intelektual lebih berharga. Bangsa Eropa adalah bangsa yang miskin sumber daya alam, tetapi dapat menjadi bangsa yang kuat karena ilmu yang mereka kuasai. Adapun bangsa kita adalah bangsa yang kaya dengan sumber daya alam, tetapi masih tetap dalam cengkeraman utang, karena sumber daya manusia yang kurang.
Sangat diharapkan
Pembangunan bangsa ke arah yang lebih baik terus diupayakan, tantangan berat dewasa ini adalah pengkaderan generasi muda yang berkualitas. Santri sebagai sebuah komunitas masyarakat yang akan kembali hadir dalam kontestasi berbagai pertujukan bangsa, sangat diharapkan kontribusi dan perannya.
Penetapan Hari Santri Nasional hendaknya dipahami sebagai upaya pembinaan generasi yang berintegeritas sejak dini. Upaya simultan dan bersifat pembinaan karakter harus dimulai sebelum mereka diberikan amanah bangsa. Santri dengan segala yang dimilikinya harus memiliki rasa kepedulian kepada pembangunan bangsa. Jangan hanya bisa tunduk dan pasrah atas situasi yang ada, tetapi harus bangkit bercita-cita tinggi, berkomitmen tinggi dan dan berwawasan luas, supaya tidak laksana buih dalam hempasan ombak.
Dengan ditetapkannya Hari Santri Nasional, maka momen kebangkitan santri ke arah yang lebih maju dan berkembang sedang dalam penantian. Saatnya santri meletakkan landasan pikir yang jelas, mengukir karya untuk bangsa, dan tidak terbawa ke arah radikalisme yang cenderung ke tindakan provokatif, dan juga hendaknya tidak tertidur dalam untaian syair yang menyebabkan hilangnya rasa peduli serta apatis terhadap fenomena yang ada. Santri harus menjadi sosok yang tangguh di tengah terpaan badai kehancuran moral dengan berbagai modus dan motif. Wallahu a’lam.
* Tgk. Imran Abu Bakar, Ketua Ikatan Santri Aceh dan Rais Aam Rabithah Thaliban Aceh. Email: manziliyya@gmail.com
|
Serambi Indonesia

Baca selengkapnya

[Opini] Prof. Dr. Nur Syam, M.Si : Mempertegas Peran Santri

Saya diminta oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren untuk membuka acara yang sangat penting di dalam jajaran dunia pesantren dan pendidikan, yaitu Temu Santri yang tergabubg di dalam Community of Santri Sholars of Ministery of Religous Affairs di Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Trawas Mojokerto. Acara in diikuti oleh sebanyak kira-kira 700 santri. Mereka adalah para santri yang sedang mengikuti kuliah di IAIN Sunan Ampel, UIN Malang, ITS, Universitas Airlangga dan Universitas Mataram.
Tema di dalam acara ini adalah Mempertegas Peran Santri dalam Membangun Bangsa. Tema ini samgat pentng di tengah keinginan untuk mempertags jati diri kaum sanntrindi era pembangunan bangsa ini. Sebagaimana diketahui bahwa selama perjalanan bangsa ini, maka peran kyai di dalam pembangunan bangsa tidak dapat dielakkan. Kyai dengan santrinya menjadi pilar kemerdekaan bangsa yang tidak ada tandingannya.
Acara ini dihadiri oleh segenap pejabat kementerian agama di tingkat pusat, wilayah maupun daerah. Di tingkag pusat adalah saha, direktur Pesanten dan juga kasubditnya, sedangkan dari kantor wilayah maka yang hadir adalah Kakanwil Kemenag, Kabid Pesanatren dan kakan kemenag kabupaten Mojokerto, dan dari kabupaten adalah pejabat yanga mewakili bupati. Selain itu juga hadir para pengasuh santri dari perguruan tinggi, seperti direktur kemahasiswaan Universitas Airlangga, Dari IAIN SA adalah Prof. Faishol Haq dan sebagainya.
Sebagaimana tema yang diusung di dalam acara ini, maka saya mengungkapkan tiga hal penting yang perlu direnungkan oleh para santri, yaitu peran akademis, peran sebagau umat Islam dan peran sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Tiga hal inilah yang harus dimainkan oleh para santri di dalam menghadapi kehidupan yang semakin menantang dewasa ini.
Pertama, peran akademis, yaitu peran untuk mengembangkan program islamisasi ilmu. Peran ini tentu sangat penting mengingat bahwa para santri yang tergabung di CSSmora ini adalaj oranh pintar yabg memiliki peran penring di era yang akan datang. Semenjak dikembangkan oleh Prof. ismail Raqi al Faruqi dn Istrinya Lamya Raqi al Faruqi, maka pengembangan islamisasi ilmu telah menempati tenpat yang sangat penting.
Memang ada beberapa paradigna di dalam memandang relasi antara agama dan ilmu pengetahuan, misalnya ada yang berada di dalam paradima konflik bahwa ilmu agama dan umum masih dianggal sebagai dua entitas yang berbeda dan bertentangan. Keyakinan agama tidak akan pernah bertemu dengan kebenaran ilmu pengetahuan. Kebenaran agama berawal dar keyakinan dan kebenaran ilmu pengetahuan dari observasi faktual. Sehingga keduanya saling menyalahkan dan tidak akan pernah bisa bertemu.
Kedua, paradigna antagonistik bahwa ilmu pengetahuan dan agana memiliki otoritasnya sendiri-sendiri. Keduanya memiliki wilayah yang berbeda dan kepentingan yang berbeda. Keduanya memiliki metode dan sasaran yang bebeda, sehingga juga tidak mungkin unutk dipertenukan. Keduanya betada di dalam ruangnya sendiri-sendiri. Meskipun tidak saling menyapa akan tetapi tidak saling menyalahkan.
Ketiga, pandangan integratif, yaitu pandangn yang didasari oleh keinginan untuk me dialogkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Usaha ke arah ini sudah dilakukan oleh bebetapa UIN dan juga IAIN. Misalnya di UIN Malang dengan konsep Pohon Ilmu, UIN Jogyakarta dengan Jaring laba-laba, IAIN Sunan Ampel dengan integrative twin towers dan sebagainya.
Usaha ini akan menjadi lebih cepat melalui adanya program pengiriman santri breprestasi ke beberapa perguruan tinggi ternama di Indonesia. Melalui program ini, maka santri yang memiliki pengetahuan agama yang cukup akan dapat mendialogkan dengan ilmu pengetahuan. Sehingga ke depan akan tumbuh ilmuwan Islam sebagaimana yang pernah ada selama ini, yaitu ahli ilmu pengetahuan yang berhasil secara gemilang mengembangkan islamisasi ilmu.
Wallahu a’lam bi al shawab.

Baca selengkapnya