Tampilkan postingan dengan label kehidupan santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan santri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 November 2018

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk Kelanjutan Pendidikan Anak


7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak

Saat ini pesantren menjadi salah satu lembaga pendidikan anak yang menjadi solusi untuk menghindari dari pergaulan bebas, yang hari ini  sangat meresahkan dikalangan remaja dan pemuda. Banyak orang tua lebih memilih pesantren dengan segala pertimbangan untuk mencegah hal-hal buruk terjadi pada anak. Dan terbukti, setiap tahunnya, rata-rata pesantren di seluruh Indonesia menampung santri dengan jumlah pendaftar membludak (overload), apalagi pesantren yang sudah maju dan berkembang pesat.

Namun, tidak semua harapan para orang tua dapat terpenuhi, ada yang tidak lulus seleksi anaknya, ada yang sudah lulus tapi anaknya tidak betah, ada yang sudah betah namun terkendala pada biaya pendidikan, dan masalah lainnya sering menimpa para orang tua wali santri.

 Nah, berhubung saat ini sudah memasuki akhir tahun, beberapa pesantren sudah mulai melakukan persiapan penerimaan santri baru bahkan ada yang sudah membukanya, pada kesempatan ini hikayatsantri.com mencoba merangkum beberapa ulasan mengenai tips memilih pesantren yang baik yang disadur dari berbagai sumber, yang dapat dijadikan sebagai bacaan rujukan orang tua sebelum memasukkan anaknya ke pesantren.

 Perhatikan Tipe, Sistem dan Model Pendidikan Pesantren


Di Indonesia umumnya terdapat 2 (dua) jenis tipe pondok pesantren, Salafi (tradisional) dan Modern (Terpadu, Ashriyah), silakan ditentukan terlebih dahulu, si anak maunya pesantren yang jenis seperti apa, Salafi atau Modern, salafi lebih mengkaji pada kitab-kitab kuning dan focus pada ilmu pengetahuan saja umumnya, dengan system pengajian tradisional (seperti sorogan, wetonan, dan bandongan), sedangkan modern pendidikannya memadukan ilmu agama dan umum, dan terdapat jenjang pendidikannya, tingkat Tsanawiyah maupun Aliyah.  Kemudian pesantren modern juga terdapat kegiatan ekstrakurikulernya, layaknya sekolah umum, hanya saja pesantren lebih bervariasi. Pesantren salafi juga ada kegiatan ekstrakurikulernya, hanya saja tidak sebanyak dan seaktif pesantren modern.

Perhatikan Biaya Pendidikannya

Pilihlah pesantren yang sesuai dengan kemampuan finansial, agar tidak terjadi masalah pada pendidikan anak, biaya pendidikan salah satu komponen pendukung jalannya kegiatan pembelajaran untuk menunjang aktivitas proses belajar mengajar, dan ini merupakan bagian dari pada salah satu pengorbanan dalam menuntut ilmu. Setiap pesantren berbeda-beda biaya pendidikannya, tergantung pada system, sarana dan prasarana, dan tenaga kependidikan yang terdapat pada pesantren tersebut.

Maka sebaiknya, para orang tua memastikan biaya pendidikan terlebih dahulu sebelum memilih pesantren, penuhi keinginan anak sesuai kemampuan finansial agar tidak bermasalah pada pembiayaan pendidikan. Karena juga tidak sedikit, anak-anak putus pendidikannya di pesantren terkendala pada biaya.


 Perhatikan Sarana dan Prasarana Pesantren

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak


Fasilitas pendidikan bagian dari pada salah satu penunjang kesuksesan pendidikan anak, yang tidak dapat dipisahkan dari lembaga pendidikan. Hal ini memang bukan rumus yang baku, karena ada juga pesantren yang berhasil melahirkan ouput santrinya berkualitas meskipun minim fasilitas di pesantrennya.

Ada banyak kasus, para orang tua mengeluh di tengah jalan karena kurangnya fasilitas di pesantren anaknya, dan kerap membanding-bandingkan dengan pesantren lain yang jauh lebih lengkap dari segi fasilitasnya. Padahal, biaya pendidikan yang dikeluarkan tidak seberapa besar dari pesantren yang lebih lengkap fasilitasnya. Jika ingin membanding-bandingkan harus fair, jangan sampai terjebak dengan standar pendidikan pesantren lain, makanya sangat penting memperhatikan terlebih dahulu fasilitas pesantren yang dituju agar tidak ada keluhan dan penyesalan di kemudian hari.

     Perhatikan Kegiatan Formal dan Informal Pesantren

Kegiatan tiap pesantren berbeda-beda, meskipun ada satu dua hal yang sama. Namun, semua kegiatan pesantren sangat tergantung pada system dan pola pendidikan di pesantren tersebut. Biasanya si anak akan memilih pesantren yang terdapat kegiatan yang sesuai dengan minat dan bakatnya, terutama dalam kegiatan ekstrakurikulernya.

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak


Umumnya, santri lebih betah di pesantren yang sesuai dengan keinginannya. Maka para orang tua harus mengecek terlebih dahulu, jika menginginkan anaknya menjadi penghafal Al Qur’an maka pilih pesantren dan focus pada penghafalan Al Qur’an yang otomatis kegiatannya lebih ringan, lebih banyak waktu untuk kegiatan penghafalan.

     Perhatikan Kurikulum Pendidikannya

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak


      Tidak semua sama kurikulum antar pesantren, semua tergantung arah dan ouput yang ingin dihasilkan oleh pesantren tersebut, jika pun terdapat kesamaan, biasanya pada kurikulum yang sudah ditetapkan oleh pemerintah seperti kurikulum 2013 yang saat ini sedang berjalan.

  Memperhatikan kurikulum pesantren terlebih dahulu juga penting, menyesuaikan dengan kemampuan anak, karena juga tidak sedikit anak yang tidak betah di pesantren yang akhirnya pindah karena ketidakmampuan anak menyerap sejumlah pelajaran yang terdapat di pesantren. Kemampuan anak memang dapat diasah dan ditingkatkan, tapi yang harus diingat bahwa setiap anak berbeda kemampuan masing-masing, dan memilih pesantren yang sesuai keinginan dan kemampuannya akan lebih baik.

     Perhatikan Letak Strategis dan Geografis Pesantren

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak
Lokasi Pesantren Modern Al Manar Aceh | Photo hikayatsantri.com


Ada dua pertimbangan yang mesti dilihat mengenai letak strategis dan geografis pesantren, namun ada sisi positif dan negatifnya, pertama, memilih pesantren yang dekat dan mudah dijangkau agar mudah mengunjungi anak ataupun mudah menemuinya saat ada masalah di kemudian hari, namun memilih pesantren yang dekat kerap kali membuat anak tidak betah di pesantren, sebab mudah teringat akan rumah, dan mudah untuk pulang dan akan sering minta izin pulang. Dan fakta di lapangan, santri yang sering izin pulang, dominan tidak bertahan lama di pesantren, sebab baginya lebih nyaman dan enak di rumah dari pada di pesantren.

Kedua, memilih pesantren yang jauh dari rumah dan akan jarang menemui si anak, dan ini lebih baik untuk membuat anak lebih kuat dan mandiri di pesantren. Dengan catatan orang tua harus siap, harus kuat jauh dari anak, bahkan kalau bisa letaknya melewati kabupaten bahkan provinsi, agar si anak tidak sering minta izin pulang. Dan para orang tua tidak akan terlalu sering mengunjungi anaknya, sebab terlalu sering dikunjung juga membuat anak tidak betah. Jenguklah anak jarang-jarang agar cinta makin berkembang. Hidup di perantauan, jauh dari orang tua, membuat anak lebih kuat dan mandiri dari pada yang dekat dengan rumah.

Dan sisi lain mengenai letak pesantren adalah dimana keberadaannya, di kota, di perdesaan, tempat terpencil, dekat dengan pegunungan dan lainnya. Ini tergantung keinginan para orang tua. 

  Perhatikan Kenyamanan dan kebersihan Lingkungannya

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak


Kenyamanan salah satu factor membuat anak betah di pesantren, baik itu dari segi kebersihan maupun keindahannya. Dan ini ada kaitannya dengan letak geografis dan strategis pesantren. Biasanya lokasi pesantren di perdesaan dan terpencil lebih nyaman dan asri, dan sedikit jauh dari perumahan masyarakat, dan ini lebih banyak diminati, sebab tidak terlalu terganggu dengan aktivitas masyarakat. Karena jika pesantren terlalu dekat dengan masyarakat, pesantren terkadang sering mengalami kendala dan sering terjadi gesekan dengan masyarakat, apalagi jika dominan masyarakatnya susah di ajak kerjasama dan tidak mau mengerti keadaan pesantren.

Jika dekat dengan perkampungan atau perumahan, pesantren tidak bisa mengatur aktivitas masyarakat, misalnya suara mesin pabrik, atau suara bising lainnya dari kegiatan masyakarat. Dan sebaliknya jika pesantren membuat kegiatan di pesantren kerap kali masyarakat terganggu, jadinya sedikit susah pesantren menggerakkan kegiatannya, kecuali masyarakat ditempat tersebut memang sangat harmonis mudah diajak kerjasama dan saling memahami dan mengerti. Dan hal ini, sulit terjadi, karena tipikal masyarakat berbeda-beda.

Demikian beberapa tips dari hikayatsantri.com kiat memilih pesantren, dan ini bersifat opini yang dapat direvisi dan dikoreksi. Semoga bermanfaat. 

Tonton Videonya : 





Baca selengkapnya

Jumat, 14 September 2018

9 Tips Menarik Untuk Santri Baru Agar Betah di Pesantren


9 Tips Menarik Untuk Santri Baru Agar Betah Di Pesantren
photo credit ; hikayatsantri.com

Terkadang untuk memulai sesuatu memang membutuhkan usaha yang maksimal, tak terkecuali dengan santri yang baru masuk pesantren. Di pesantren misalnya, di awal-awal hidup di pesantren terasa asing, sebab kehidupan sebelumnya tidak seperti yang dirasakan saat ini, jauh dari orang tua, terbatasnya fasilitas yang menyenangkan seperti di rumah, tidak bebas kapan saja mau tidur, mau main,  serba diatur dan bahkan ada hukumannya jika melanggar. Belum lagi, dengan dinamika teman di pesantren, aneka ragam perangai teman, bahkan untuk memulai sebuah percakapan dengan orang yang belum kita kenal rasanya susah sekali.

Pada hakikatnya, tidak ada yang tidak dapat diatasi di dunia ini, semua ada solusinya asalkan ada kemauan pada diri kita. Termasuk dengan tantangan yang di hadapi saat memasuki dunia baru, untuk beradaptasi dengan dunia yang belum dirasakan sebelumnya memang butuh kerja keras.

Untuk orang tua wali khususnya santri baru, minggu pertama atau sebulan pertama anak bapak ibu memang tantangan yang sangat berat, tidak semua mereka betah dengan suasana baru di pesantren. Disini hikayatsantri.com mencoba merangkum beberapa tips yang bisa dipraktekkan oleh santri baru agar selalu betah hidup di pesantren.

1. Memperbarui Niat

Segala perbuatan sangat tergantung pada niat, termasuk sekolah di pesantren. Ketika kita merasa siap masuk pesantren, maka bismillah, kita harus siap berjuang, berkorban dan bertahan di pesantren dengan segala halangan dan rintangan.

Memperbaiki niat adalah hal utama dilakukan. Dengan mengharap ridha Allah dan orang tua kita harus meyakini bahwa pesantren tempat terbaik untuk pendidikan kita saat ini. Maka ketika niat sudah bulat, dengan segala tekad dan keyakinan maka semuanya harus berani kita korbankan, termasuk harus siap jauh dari orang tua dan orang-orang tercinta.

2. Jangan Suka Menyendiri

Yang namanya hidup sendiri itu memang tidak enak. Kita merasa kesepian, tidak ada yang bisa hidup sendiri di dunia ini, makanya manusia dicipatkan berpasang-pasangan. Untuk di pesantren, teman adalah segalanya, serperti keluarga sendiri, ustadz sebagai ayah ustadzahnya sebagai ibu.

Selain itu, kegiatan pesantren menjadi alasan untuk tidak menyendiri, ikuti semua kegiatan, jangan sian-siakan waktu hanya untuk melamun. Sebab kalau santri sering menyendiri, maka ia akan sering teringat orang tua di rumah, merasa bosan di pesantren, teringat rumah dan segala isinya. Sehingga membanding-bandingkan hidup di pesantren dengan di rumah.

Nah, kalau kita sellau aktif di pesantren, maka tidak sempat pun memikirkan hal-hal lain selain memikirkan kegiatan apa saja yang akan kamu lakukan setelah satu kegiatan selesai kamu ikuti. Tidak ada waktu memikirkan rumah senadainya kamu selalu berpartisipasi kegiatan pesantren, temukan temanmu, bakatmu, dimana hobimu, olahragamu, masuk ke dalam klub-klub khusus yang ada di pesantren sesuai passionmu.

9 Tips Menarik Untuk Santri Baru Agar Betah Di Pesantren

 3. Banyak Cari Teman dan Bergaul

Dimana-mana teman itu adalah segalanya selain keluarga sendiri. Disaat ada masalah, maka orang-orang terdekat kita akan menghampiri, mendekat membantu menyelesaikan masalahmu. Termasuk di pesantren, bahkan hubungan dekat dengan teman di pesantren lebih akrab, sebab selama 24 jam di pesantren kita selalu berada dalam lingkaran teman-teman sekelas, se asrama, se tempat tidur.

Maka bagi santri baru, memperbanyak bergaul adalah salah satu solusi melawan ketidakbetahan di pesantren.

4. Dekatkan Diri Dengan  Guru

Di pesantren, guru kita adalah orang tua kita. Posisi orang tuamu dimabil alih oleh guru selama di pesantren. Maka tidak salah jika kamu mendekati mereka, memuliakan guru layaknya orang tua. Terkadang selain teman, guru adalah tempat curhat paling baik, sebab guru sudah tentu lebih banyak pengalaman hidupnya.


Guru selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak didiknya. Tidak ada guru yang tidak bahagia anak didiknya betah di pesantren, selalu aktif dan ceria. Guru kerap memotivasi para santri, memberi inspirasi dan menjadi suri tauladan yang baik untuk santri. Maka jangan jauhi guru jika ingin selalu betah di pesantren, karena guru juga bisa menjadi teman yang baik dengan catatan kamu memperhatikan sopan santun beradaptasi dengan gurumu.

9 Tips Menarik Untuk Santri Baru Agar Betah Di Pesantren


5. Aktif Mengikuti Kegiatan Yang Positif

Di pesantren ada banyak sekali kegiatan ekstrakurikuler yang bisa kamu ikuti, baik itu kegiatan bentuk olahraga maupun sifatnya akademis, seperti kursus dan lain sebagainya. Tapi dominannya, anak-anak lebih menyukai kegiatan outdoor, seperti pramuka, pencak silat maupun olahraga, sepak bola, basket dll. Setiap pesantren berbeda-beda kegiatan ekstrakurikulernya. Meskipun di pesantren, semua kegiatan ekstrakurikuler wajib di ikuti, seperti latihan pramuka, pidato, tapi ada kegiatan tertentu sifatnya tidak wajib.

Nah, bagi kamu yang masih baru, silakan ikuti semua kegiatan yang sesuai bakat minat kamu. Biasanya santri baru sangat di tunggu-tunggu oleh bagian pennaggung jawab kegiatan ekstrakurikuler masing-masing. Sebab mereka yakin setiap santri baru ada bakat masing-masing yang sudah mulai terasah sejak sekolah dasarnya. Mengikuti kegiatan pesantren dapat mengurangi tidak betah di pesantren, bahkan tidak sempat terpikir pun selain dunia pesantren, karena kamu sellau sibuk dengan aneka kegiatan.

6. Menghemat Pengeluaran

Dalam mencari ilmu memang di butuhkan pengorbanan harta yang harus di keluarkan. Baik untuk kepentingan pribadi atau kewajban bulanan pesantren. Untuk itu dengan menghemat uang jajan kita di pesantren, selain kita bisa menabung, kita juga akan terbantu ketika ada kebutuhan yang mendadak. Dengan membuat perencanaan  yang baik, akan membantu kita dalam menghemat pengeluaran. Kita mengeluarkan uang ketika benar benar untuk hal yang kita butuhkan. Tidak hanya sekedar membeli barang yang kita inginkan yang sedikit manfaatnya bagi kita, apabila hanya untuk sekedar pamer.



7. Berakhlak Baik

Adab diatas ilmu. Terkadang kenapa kita tidak betah di pesantren, mungkin karena orang sekitar kita enggan berteman karena perilaku kita yang tidak baik. Ini juga perlu ingat. Apalagi santri baru, karena tidak semua anak sama tipikal dengan kita, tidak semua orang nyaman dengan sikap kita. Ketika perangai kita tidak disenangi orang lain, maka mereka pasti akan menjauhi.


Setiap orang yang memiliki akhlak yang baik pasti akan diterima oleh semua kalangan, di senangi oleh guru dan kawan bahkan saat terjun di masyarakat pun, orang-orang akan menilai terlebih dahulu pada akhlak yang kita miliki. Orang akan menilai atau menghargai kita dari pakaian sebelum kita duduk dalam sebuah majlis, dan orang akan menilai dan menghargai kita setelah kita duduk di majlis tersbut dari akhlak yang kita miliki. Dalam kehidupan sering kita temui, disaat ada tamu atau pejabat yang berpakaian rapi sangat di hormati, tapi kalua perangainya tidak baik jangan harap orang-orang akan memuliakannya lagi.  


8. Meminta Keridhaan  Orang Tua

Keridhaan Allah ada pada keridhaan orang tua, dan murkanya Allah ada pada murkanya orang tua. Dengan meminta keridhaan orang tua membuat jalan hidup kita di permudah ketika di pesantren. Tidak hanya kita yang harus ikhlas, sabar untuk tidak bertemu dengan orang tua dalam waktu yang tidak sebentar  ketika menuntut ilmu di pesantren. Orang tuapun juga harus ikhlas merelakan anaknya belajar di pesntren.

9 Tips Menarik Untuk Santri Baru Agar Betah Di Pesantren


9. Rajin Beribadah dan Berdoa

Selian kewajiban beribadah kepada Allah akan membuat kita semakin dekat dengan Allah. Dengan banyak mengingat Allah. Allah juga akan mengingat kita. Contohnya, melaksanakan sholat dan membaca Al Qur’an . Juga berdoa. berdoa ketika setelah shalat wajib maupun shalat sunah. Usaha tanpa doa itu omong kosong, doa tanpa usaha itu bohong. Usaha sudah di laksanakan, dan di sempurnakan dengan menambahkan doa, baik sebelum maupun sesudah usaha.  Setelah kita berusaha untuk betah hidup di pondok kita jangan lupa berdoa kepada Allah yang mampu membolak-balikkan hati manusia, memohon agar selalu diteguhkan hati untuk bertahan di pesantren. Kita berdoa agar di berikan ketenangan hidup di pesantren, di berikan kesehatan kebetahan kelancaran dalam semua urusan kita.



Demikianlah beberapa Tips utuk santri agar betah hidup di pesantren. Memang awalnya berat, namun dengan usaha yang sungguh sungguh, insyaallah Allah juga akan membantu kita agar membalikkan hati kita selalu betah hidup di pesantren.



Sumber : darunnajah.com



Baca selengkapnya

Senin, 30 Januari 2017

Abu Naum, Istilah Untuk Santri Raja Tidur

Abu Naum, Istilah Untuk Santri Raja Tidur
Keanekaragaman santri di pesantren—mulai dari wajah rupa, warna kulit, sifat, asal dan tingkah lakunya melahirkan cerita tersendiri di kalangan sendiri. Keberagaman itulah yang menghiasi kehidupan sehari-hari mereka—bahkan dengan keunikan dari ragam bentuk teman menjadikan hari-hari yang mereka lalui menjadi mudah dan ceria.
Disiplin yang ketat—kegiatan ekstrakurikuler yang padat tidak terasa. Karena mereka mempunyai teman yang unik—yang melahirkan cerita di setiap kegiatannya. Santri patut mensykuri kehidupan di pesantren, memiliki teman bahkan lebih dari keluarga selama 24 jam menemani. Maka tidak salah—salah satu motto pendidikan pesantren adalah ukhuwah islamiyah. Kebersamaan mereka tidak pernah lekang oleh kenangan—yang akan mereka kenang hingga waktu yang memisahkan.
Baca Juga : 

Jangan Ngaku Santri Kalau Belum Follow 6 Akun Instagram Ini. Dijamin Kenangan Kamu Pernah Nyantri Akan Terulang Kembali

Abu Naum, Istilah Untuk Santri Raja Tidur
Nah, salah satu perangai santri yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka adalah memberi gelar tertentu kepada temannya—istilah gelar dalam bahasa arab dikenal dengan istilah “laqob”. Penyematan gelar tertentu ini tidak terlepas dari kebiasaan tertentu oleh sang teman. Sebut saja seperti istilah “Abu Naum” kerap disematkan bagi santri yang sering tidur, dimana saja ia berada pasti tertidur.
Jangan salah, istilah ini bukan saja berlaku untuk yang suka tidur. tapi juga berlaku bagi yang lain ; yang suka makan misalnya disebut dengan “Abu Akl “(Baca : Akala-yakkulu : Aklon (Arab) ) artinya, tukang makan. Pokoknya gelar tertentu akan tersemat pada siapa saja yang sering melakukan hal tertentu, baik itu tidur, makan, atau yang sering masuk mahkamah.
Anehnya, laqob (gelar) tersebut akan melekat hingga santri tersebut alumni, bahkan terkadang saat sudah menjadi alumni laqob tersebut lebih di ingat dari pada namanya #parah. Tapi dengan laqob tersebutlah melahirkan kembali kenangan mereka setelah alumni.
Pesantren memang sesuatu. Ada banyak cerita yang tercipta setiap waktunya.
Sekian !
Baca Juga : 

3 Tempat Ini Santri Sering Tertidur, Nomor 2 Paling Tidak Masuk Akal




Baca selengkapnya

Jumat, 06 Januari 2017

Jangan Ngaku Santri Kalau Belum Follow 6 Akun Instagram Ini. Dijamin Kenangan Kamu Pernah Nyantri Akan Terulang Kembali

Jangan Ngaku Santri Kalau Belum Follow Instagram Ini. Dijamin Kenangan Kamu Pernah Nyantri Akan Terulang Kembali
Sekali lagi. Kehidupan pesantren yang penuh lika liku memang tak pernah habisnya untuk diulas. Lembaga pendidikan 24 jam ini menyisihkan banyak kenangan bagi siapa saja yang pernah menjalani pendidikan didalamnya. Hampir setiap kegiatan pesantren mengandung cerita tersendiri bagi santri—baik itu secara personal maupun kelompok.
Kenangan demi kenangan setiap harinya bisa tercipta. Mulai dari melanggar disiplin—mengikuti kegiatan pesantren—kesetiaan seorang teman—ketulusan seorang guru atau kekonyolan para sahabat yang setiap hari membuat hari-hari di pesantren selalu ceria.
Kenangan melanggar disiplin mungkin salah satu pengalaman paling diingat seumur hidup santri—apalagi kalau pelanggarannya lumayan berat. Saat guru atau ustadz menindak santri yang melanggar disiplin—para santri tersebut akan merasa takut, wajah cemberut atau ketus, apalagi dapat hukuman yang begitu berat dan menjengkelkan—bahkan bisa jadi timbul rasa marah kepada ustadz tersebut saat itu. Tapi yang namanya santri, sejak awal sudah ditanamkan sikap bertanggungjawab terhadap sesuatu—begitupun dengan melanggar disiplin—berani berbuat berani bertanggungjawab.
 Setelah pemberian hukuman selesai, rasa marah atau gondok pun akan hilang—bahkan mereka kembali tersenyum—tertawa sendirinya mengingat pelanggaran yang mereka langgar tersebut—dengan ustadz pemberi hukuman pun menjadi lebih baik dan akan selalu teringat dengan ustadz yang kerap menindak santri melanggar—dan pada akhirnya mereka akan sadar bahwa apa yang ustadz tersebut lakuka—menindak mereka melanggar ada kebaikan didalamnya sambil timbul sedikit rasa penyesalan. Dan para ustadz pun akan selalu teringat terhadap santri yang pelanggarannya paling banyak—yang santri tersebut terkenal seluruh pesantren. Saat jadi alumni merekalah orang yang paling dekat dengan ustadz tersebut.
Itulah pesantren, para santri diajarkan rasa bertanggungjawab—diuji kesabaran dan ketangguhan. Tak cukup sampai disitu, mereka juga diberi arahan dan bimbingan terhadap apa yang mereka lihat, apa yang mereka kerjakan, apa yang mereka dengar—kemudian mereka juga diajak untuk memahami sesuatu—melihat apa hikmah dibalik suatu kegiatan atau disiplin—sehingga mereka dengan sendirinya mencerna apa yang terbaik buat mereka sendiri. Karena, terkadang santri tidak sanggup menjalani disiplin bukan karena tidak kuat atau tidak mampu—tapi karena mereka belum tahu apa manfaatnya dan hikmahnya. Saat mereka tahu—disitulah mereka akan menyadari betapa pentingnya disiplin.
Baca Juga : 

Selagi Nyantri Belajarlah Sungguh-Sungguh, Jangan Nyesal Setelah Jadi Alumni

Nah, tentu dengan berbagai dinamika kehidupan pesantren seabagai santri atau alumni ingin kembali mengingat kenangan yang pernah tercipta. Bahkan tak jarang para alumni melakukan reuni dengan sahabat-sahabatnya atau mengunjungi almamaternya karena rasa kangen terhadap sahabat dan almamaternya. Berikut ini beberapa akun instagram yang bisa kamu ikuti yang rutin menyediakan konten-konten foto kehidupan santri :

1. ALA SANTRI ( @alasantri)
Jangan Ngaku Santri Kalau Belum Follow Instagram Ini. Dijamin Kenangan Kamu Pernah Nyantri Akan Terulang Kembali
Secara detail hikayatsantri.com tidak tahu siapa adminnya dan kapan akun instagram ini diluncurkan—tapi berdasarkan foto perdana mereka upload tertera mulai tanggal 24 November 2014.
Admin ala santri ini rutin memposting foto-foto kocak dan meme lucu yang berkenaan dengan kehidupan santri.
Akun yang menjadi salah satu panitia penyelenggara Hari Santri Nusantara 2016 ini juga merepost foto-foto santri dari pesantren lainnya—dengan hastag #alasantri atau menandainya langsung. Jadi bagi kamu yang punya foto unik penuh bercerita silakan upload di instagrammu masing-masing dengan menandainya dan follow akunnya.
Selain itu, akun yang sudah memiliki followers sebanyak 216K ini juga memiliki website resmi yang bisa dikunjungi di www.alasantri.id.
Tunggu apalagi? Silakan ikuti kegiatan mereka setiap harinya—dijamin kenangan kamu di pesantren akan terulang kembali. Klik disini untuk melihat langsung instagram mereka.
Baca Juga : 

3 Tempat Ini Santri Sering Tertidur, Nomor 2 Paling Tidak Masuk Akal


2.PESANTREN STORY (@pesantrenstory)
Jangan Ngaku Santri Kalau Belum Follow Instagram Ini. Dijamin Kenangan Kamu Pernah Nyantri Akan Terulang Kembali
Akun instagram ini sudah memililki followers sebanyak 88.7K sejak tulisan ini dipublikasikan. Mereka juga menyediakan konten-konten yang tidak kalah kocaknya.
Cukup dengan menggunakan hastag #pesantrenstory atau menandainya mereka tidak sungkan-sungkan merepost foto kamu—jadi siap-siap foto unik kamu dipesantren akan dilihat oleh seluruh santri se-Indonesia. #haha
Mengenai admin juga tidak diketahui siapa orangnya—yang jelas admin pasti ada—foto perdana mereka upload tertera mulai tanggal 26 Desember 2015 dengan foto #KitaRinduGusdur.
Tunggu apalagi, ayo kepoin instagram mereka—klik aja disini.

3. SANTRI INDONESIA (@santriindonesia)
Jangan Ngaku Santri Kalau Belum Follow Instagram Ini. Dijamin Kenangan Kamu Pernah Nyantri Akan Terulang Kembali
Akun instagram satu ini juga sama dengan yang diatas, mereka juga rutin mengupdate foto-foto santri. Saat ini tercatat sebanyak 1342 foto yang mereka upload dengan jumlah followers sebanyak 112K. 
Adminnya juga tidak diketahui, kalau dilihat dari foto perdana mereka upload akun ini hadir sejak 18 Oktober 2015. Klik disini untuk chek out langsung instagram mereka.

4.  NEGERI SANTRI (@negerisantri)
Jangan Ngaku Santri Kalau Belum Follow Instagram Ini. Dijamin Kenangan Kamu Pernah Nyantri Akan Terulang Kembali
Akun ini sejak tulisan ini dirilis sduah mengupload foto sebanyak 3654 foto dengan jumlah followers sebanyak 193K.
Selain instagram, mereka juga bisa diikuti melalui line dengan id line @negerisantri. Foto-foto yang mereka unggah juga tidak kalah keren dengan instagram santri lainnya. Klik disini untuk cek TKP.

5. SANTRI COMMUNITY (@santricommunity)
Jangan Ngaku Santri Kalau Belum Follow Instagram Ini. Dijamin Kenangan Kamu Pernah Nyantri Akan Terulang Kembali

Akun ini sudah memiliki followers sebanyak 39.1K dengan jumlah foto diunggah sebanyak 1023 foto.
Jangan lupa upload foto kamu berkenaan dengan kehidupan pesantren dengan hastag #santricommunity—mereka pasti akan merepost foto kamu. Klik disini untuk lihat kegiatan mereka.

6. SANTRI KEREN (@santrikeren)
Jangan Ngaku Santri Kalau Belum Follow Instagram Ini. Dijamin Kenangan Kamu Pernah Nyantri Akan Terulang Kembali
Akun ini memilki tagline “ kalau belum sanggup jadi santri alim—jadilah santrikeren”. Sampai hari ini sebanyak 1500 foto sudah di unggah di akun mereka dengan jumlah followers sebanyak 83.3K .Selain itu, di bio instagram mereka juga tertera website resminya www.santrikeren.id yuk kepoin mereka disini.
Baca Juga : 

Ini Dia Alasan Kenapa Alumni Pesantren Itu Layak Kamu Jadikan Suami. Yang Akhwat Jangan Lupa Baca


Nah, itu saja dulu beberapa instagram santri yang dapat kami redaksi hikayatsantri.com kali ini, silakan ditambah informasinya dikolom komentar bagi yang ada instagram yang belum di ulas. Sebenarnya ada banyak akun instagram yang mengulas tentang kehidupan santri—tapi redaksi memilih akun yang sudah menggungah foto diatas seribu foto. Ayo ikuti kegiatan mereka—dijamin kenangan kamu pasti akan terulang.
Sekian !
 Baca Juga : 

Sebelum Masuk ke Pesantren, Jawab Dulu Pertanyaan ini. Ke Pesantren Apa Yang kamu Cari ?





Baca selengkapnya

Selagi Nyantri Belajarlah Sungguh-Sungguh, Jangan Nyesal Setelah Jadi Alumni

Selagi Nyantri Belajarlah Sungguh-Sungguh, Jangan Nyesal Setelah Jadi Alumni

Masih ingat bait Mahfudzat yang berbunyi ; Ijhad Wala Taksal Fanadamatul ‘Uqba Liman Yatakasal” ?
Ya. Mahfudzat ini mengingatkan kita agar tidak bermalas-malasan saat belajar—karena penyesalan hanyalah bagi orang-orang yang malas.
Di pesantren, dengan disiplin belajar yang ketat—tidak menjamin santrinya akan belajar dengan sungguh-sungguh. Kenapa? Karena kesungguhan dalam belajar sangat tergantung pada individu santri.
Sejauh mana kamu sadar—sejauh itu pula keseriusan dan kesungguhanmu dalam belajar. Sebesar mana keinsyafanmu—sebesar itu pula keberuntunganmu.
Kalau ditanya tentang Mahfudzat Man Jadda Wa Jada pada setiap santri—mungkin sudah hafal diluar kepala—mereka sudah mempelajarinya—memahami dan menghafalnya dengan lancar. Namun sayang—sebahagian mereka hanya sekedar menghafal atau memahami tapi tidak dengan mengamalkannya.
Kapan mereka sadar? Setelah selesai dari pendidikan pesantren atau jadi alumni.
Gunakan kesempatan yang ada—karena ia akan hilang bila kamu tidak menggunakannya sebaik mungkin
Selagi Nyantri Belajarlah Sungguh-Sungguh, Jangan Nyesal Setelah Jadi Alumni
Pahamilah, bahwa kesempatan itu sangat singkat. Ada banyak orang yang menyia-nyiakan kesempatan yang akhirnya menyesal. Ambil dan gunakan kesempatan tersebut—karena bisa jadi kesempatan itu hanya sekali dalam hidupmu.
Baca Juga : 

Sebelum Masuk ke Pesantren, Jawab Dulu Pertanyaan ini. Ke Pesantren Apa Yang kamu Cari ?

Maka, selagi masih jadi santri—belajarlah dengan sungguh-sungguh. Setelah menjadi alumni kamu tidak akan pernah lagi bisa mengulangi kehidupan jadi santri—karena kesempatan itu telah pergi—hanya penyesalan yang bisa kamu ratapi. Telambat sudah.
Saat kamu jadi santri—kamu tidak pernah tahu atau belum tahu bagaimana hidup ini sebenarnya—seandainya semua orang bisa melihat masa depannya—mungkin mustahil ada orang malas di dunia ini. Tapi sayang, kita tidak akan pernah tahu akan nasib di kemudian hari. Bertanyalah pada orang-orang yang sudah duluan hidup—maka kamu akan tahu bagaimana lelahnya kehidupan.
Yakin kamu gak menyesal nanti? Coba tanya ke alumni bagaimana hidup di luar pesantren—setelah kamu dengar jawabannya—masih mau malas belajar?
Selagi Nyantri Belajarlah Sungguh-Sungguh, Jangan Nyesal Setelah Jadi Alumni
Kemungkinan ada dua jawaban saat kamu bertanya kepada alumni—bagaimana kehidupan setelah jadi alumni. Antara mudah dan susah—mudah bagi mereka yang belajar sungguh-sungguh—dan susah bagi mereka yang tidak belajar dengan sungguh-sungguh.
Mengetahui kehidupan orang yang lebih dahulu lahir dari kita sangat penting. Agar kita bisa mengambil pelajaran hidup. Karena mereka sudah merasakan bagaimana suka duka getirnya kehidupan. Maka tidak heran—jika ustadz-ustadzmu sering menasehatimu agar belajar dengan rajin—karena mereka sudah menjalani kehidupan jauh sebeleum kamu jalani.
Baca Juga : 

Mau Sukses di Pesantren ? Jadikan Pesantren Sebagai Pilihan, Bukan Tempat Pelarian

Ingatlah jerih payah orangtua dirumah—niscaya kamu akan selalu belajar dengan sungguh-sungguh
Selagi Nyantri Belajarlah Sungguh-Sungguh, Jangan Nyesal Setelah Jadi Alumni

Pernah gak kamu ingat jasa orang tuamu? Bagaimana mereka bekerja menafkahi keluargamu—membayar biaya pendidikanmu dan sebagainya—termasuk jajan dan biaya perlengkapan belajarmu.
Coba kamu hitung setiap hari berapa uang yang kamu terima setiap minggunya diberikan oleh orang tuamu—berapa biaya yang sudah dikeluarkan setiap bulannya untuk biaya pendidikanmu.
Ini penting—agar kamu selalu sadar dan memikirkan seribu kali untuk tidak belajar dengan sungguh-sungguh. Kemudian di akhir pendidikanmu—coba kalikan semua berapa biaya yang sudah digelontorkan oleh orang tuamu selama nyantri.
Terkadang kita butuh menghitung jasa orang tua—agar kita selalu sadar akan jerih payahnya—terkadang hidayah itu tidak datang sendirinya—kita mesti bergerak mengerjakan sesuatu agar hidayah itu datang.
Berjanjilah, bahwa kamu akan bayar segala jasa dan jerih payah orangtuamu dengan kesuksesanmu kelak. Mereka tidak meminta pertanggungjawaban atas biaya yang telah mereka habiskan untuk kamu—mereka hanya ingin melihat kamu kelak bertanggung jawab atas dirimu sendiri—menjadi anak yang shaleh—berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Itu saja.
Jadi, selagi masih nyantri—belajarlah dengan sungguh-sungguh dan jangan lupa berdoa agar langkahmu di pesantren selalu bersinar. Minta doa kepada orang tua dan guru. Jadilan santri yang tahu diri.
Sekian !
Baca  Juga : 

3 Tempat Ini Santri Sering Tertidur, Nomor 2 Paling Tidak Masuk Akal



Baca selengkapnya