Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Oktober 2018

Di Pesantren, Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian

Di Pesantren, Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian


Dalam menghadapi ujian, pesantren mempunyai prinsip tersendiri yang harus di pahami oleh santri, dan harus di amalkan untuk mendapat nilai yang optimal dalam ujian, nilai yang sangat berharga sebagai modal untuk mengarungi kehidupan kelak.
Prinsip ini dipopulerkan oleh Pondok Modern Darussalam Gontor melalui Kyainya KH. Hasan Abdullah Sahal. Gontor selalu menjadi inspirasi untuk pesantren lain khususnya pesantren yang menganut sistem modern dan mengikuti kurikulum yang di gunakan oleh Gontor.
“kita menuntut ilmu untuk menjadi orang baik, bukan orang yang bisa menjawab pertanyaan ujian saja. ujian untuk belajar bukan belajar untuk ujian. Jangan salah kaprah.”

Di Pesantren, Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian

Melalui bait kata-kata diatas, pesantren ingin mengatakan kepada santri bahwa nilai utama yang harus digapai melalui ujian bukanlah pada hasil nilai yang tertulis di lembaran kertas, yang kemudian menjadi kebanggaan santri untuk diperlihatkan kepada orang tua, melainkan predikat yang harus diraih adalah adanya  perubahan sikap pada diri santri itu sendiri yang berubah menjadi lebih baik setelah mengikuti ujian.
Pola pikir santri dalam menghadapi ujian harus menjadi “ kita belajar untuk menjadi orang baik” bukan sebaliknya. Didalam menghadapi ujian ada fase-fase yang harus dijalani, memulai dengan sebuah niat, kesungguhan, usaha yang keras dan tentunya di imbangi dengan do’a. Dari totalitas kehidupan yang dijalani selama ujian inilah akan terbentuk suatu nilai dan kecerdasan spiritual pada santri.
Dan salah satu nilai plus pesantren dalam menghadapi ujian adalah pengkondisian. Pesantren menciptakan suasana dan ruh ujiannya. Dan semua kegiatan selain yang berkenaan dengan belajar akan diberhentikan untuk sementara waktu, semua santri harus focus pada ujian. Ketika ruh ujian ini sudah tercipta, maka santri sulit terpengaruhi dengan kegiatan lain kecuali untuk belajar dan beribadah. Dan mungkin ini yang tidak didapatkan di luar pesantren, ruh ujian siswa sering terganggu dengan kegiatan lain dengan aneka ragam kegiatan yang sifatnya diluar sekolah.
Di Pesantren, Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian

Dan selama pengkondisian ini, para santri terus diarahkan oleh ustadz(ah)-nya melalui bimbingan belajar yang terkontrol pada malam hari, melalui nasehat-nasehat kyainya, diberikan tips-tips tertentu dalam menghadapi ujian, kemudian belum lagi dengan kegiatan sahiral layalnya (bangun ditengah malam untuk tahajud dan belajar), yang intinya pola pikir santri terus ditata menjadi lebih baik dalam menghadapi ujian.
Baca Juga : 

Menjadi Santri, Beratnya Perjuangan Namun Kaya Pengalaman

Kenapa pola pikir dalam menghadapi ujian “ kita belajar untuk menjadi orang baik” ini perlu ditanamkan pada jiwa santri ? Karena problematika dalam keseharian proses pendidikan kita hari ini adalah masih banyak para pelajar yang menganggap belajar hanya untuk bisa menjawab soal-soal mata pelajaran yang diujikan. Padahal, makna pelajar lebih dari itu.
Nasehat KH. Hasan Abdullah Sahal sangat menyentuh dan menginspirasi, banyak kejadian hidup yang harus kita maknai, dan tugas terbesar kita hidup pun untuk memaknai hidup. Seluruh aspek yang kita lakukan berawal dari sebuah pemikiran. Perlakuan yang salah karena dari pemikiran yang salah pula. Maka kita harus tata pemikiran dengan rapi dan benar. “kita belajar untuk menjadi orang baik.”
Di Pesantren, Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian

 Di zaman yang modern ini banyak kita temukan orang yang pintar sekali, namun akhlak dan kelakuannya tidak mencermikan kepintarannya. Banyak orang yang merelakan sikap kejujurannya, hanya demi sebuah angka yang tinggi.
Masya Allah, miris sekali rasanya melihat para pelajar yang membeli jawaban pertanyaan ujian. Mereka rela berbuat kecurangan hanya untuk sebuah angka yang tertera dalam sebuah kertas.

Baca Juga : 

Wajib Baca ! Ini Dia Pesan KH. Hasan Abdullah Sahal Untuk Wali Santri

Orang tua yang baik pasti menyekolahkan anaknya untuk menjadi orang yang baik dan bermanfaat bukan ? maka jangan salah melangkah. Untuk apa pintar tapi korupsi dan menyusahkan orang lain ? untuk apa pintar tapi selalu membuat kriminal ? sebagai manusia kita diberikan fitrah untuk mengetahui dan memilih mana yang salah dan mana yang benar.
Melangkah ke jalan yang benar dan melangkah ke jalan yang salah itu juga termasuk pilihan hidup . Negara-negara yang memiliki sistem pendidikan yang baik menganggap anak yang tidak bisa matematika lebih baik dari pada anak yang tidak bisa mengantri, karena tidak bisa mengantri adalah masalah sosial dan akhlak.
Di Pesantren, Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian

Di era modern saat ini, tentu orang yang hanya bermodalkan baik saja tidak cukup untuk kompeten dan bersaing. Butuh kualitas dan kreativitas. Maka antara intelektual dan akhlak harus seimbang.
Di Pesantren kedua hal tersebut sangat diperhatikan, akhlak dan intelektual. Maka sangat benar apa yang dikatakan KH. Hasan Abdullah Sahal “ menuntut ilmu untuk menjadi orang baik” bukan hanya untuk menjawab soal-soal dalam ujian saja. karena belajar itu luas dan mencakup hal yang sangat banyak. Kalau kita hanya menjadi manusia yang pintar dan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam soal ujian saja, nanti akan menjadi pintar namun tak bermoral sehingga dapat dengan mudah membuat kejahatan. Maka jangan salah kaprah !

Baca Juga : 

9 Tips Menarik Untuk Santri Baru Agar Betah di Pesantren

Pada akhirnya, kita memang tidak menafikan bahwa nilai yang terlihat di lembaran kertas itu penting, apalagi dengan sistem pendidikan Indonesia hari ini, nilai tersebut menjadi acuan bagi siapa saja untuk menilai kualitas seseorang. Namun,  ada variabel lain dalam kehidupan ini yang harus diketahui dan ini jauh lebih penting dari pada nilai yang tertera pada ijazah maupun rapor siswa,  yaitu nilai-nilai moral dan akhlak yang harus melekat pada prinsip kehidupan seseorang, dan ini menjadi modal utama dalam dunia pendidikan “adab lebih tinggi dari pada ilmu”. Maka mengimbangi antara keduanya jauh lebih baik, pintar berilmu dan beradab.
Di Pesantren, Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian

Untuk mempertahankan nilai-nilai tersebut, pesantren selalu berusaha mengarahkan santri ke arah yang lebih baik tak terkecuali di masa ujian saja. Tak dapat dibantah, bahwa akhlak terpuji seseorang adalah suatu nilai yang paling mahal pada diri seseorang. Menjadi nilai yang tidak dapat dihargai dengan angka, ia selalu berada diatas segala-galanya yang bermuara pada nilai ibadah dan spiritual seseorang.
“Banyak orang bertitel, tapi tidak berkualitas. Dan banyak orang yang berkualitas, walaupun mereka tidak bertitel.”- KH. Hasan Abdullah Sahal

Baca selengkapnya

Jumat, 14 September 2018

9 Tips Menarik Untuk Santri Baru Agar Betah di Pesantren


9 Tips Menarik Untuk Santri Baru Agar Betah Di Pesantren
photo credit ; hikayatsantri.com

Terkadang untuk memulai sesuatu memang membutuhkan usaha yang maksimal, tak terkecuali dengan santri yang baru masuk pesantren. Di pesantren misalnya, di awal-awal hidup di pesantren terasa asing, sebab kehidupan sebelumnya tidak seperti yang dirasakan saat ini, jauh dari orang tua, terbatasnya fasilitas yang menyenangkan seperti di rumah, tidak bebas kapan saja mau tidur, mau main,  serba diatur dan bahkan ada hukumannya jika melanggar. Belum lagi, dengan dinamika teman di pesantren, aneka ragam perangai teman, bahkan untuk memulai sebuah percakapan dengan orang yang belum kita kenal rasanya susah sekali.

Pada hakikatnya, tidak ada yang tidak dapat diatasi di dunia ini, semua ada solusinya asalkan ada kemauan pada diri kita. Termasuk dengan tantangan yang di hadapi saat memasuki dunia baru, untuk beradaptasi dengan dunia yang belum dirasakan sebelumnya memang butuh kerja keras.

Untuk orang tua wali khususnya santri baru, minggu pertama atau sebulan pertama anak bapak ibu memang tantangan yang sangat berat, tidak semua mereka betah dengan suasana baru di pesantren. Disini hikayatsantri.com mencoba merangkum beberapa tips yang bisa dipraktekkan oleh santri baru agar selalu betah hidup di pesantren.

1. Memperbarui Niat

Segala perbuatan sangat tergantung pada niat, termasuk sekolah di pesantren. Ketika kita merasa siap masuk pesantren, maka bismillah, kita harus siap berjuang, berkorban dan bertahan di pesantren dengan segala halangan dan rintangan.

Memperbaiki niat adalah hal utama dilakukan. Dengan mengharap ridha Allah dan orang tua kita harus meyakini bahwa pesantren tempat terbaik untuk pendidikan kita saat ini. Maka ketika niat sudah bulat, dengan segala tekad dan keyakinan maka semuanya harus berani kita korbankan, termasuk harus siap jauh dari orang tua dan orang-orang tercinta.

2. Jangan Suka Menyendiri

Yang namanya hidup sendiri itu memang tidak enak. Kita merasa kesepian, tidak ada yang bisa hidup sendiri di dunia ini, makanya manusia dicipatkan berpasang-pasangan. Untuk di pesantren, teman adalah segalanya, serperti keluarga sendiri, ustadz sebagai ayah ustadzahnya sebagai ibu.

Selain itu, kegiatan pesantren menjadi alasan untuk tidak menyendiri, ikuti semua kegiatan, jangan sian-siakan waktu hanya untuk melamun. Sebab kalau santri sering menyendiri, maka ia akan sering teringat orang tua di rumah, merasa bosan di pesantren, teringat rumah dan segala isinya. Sehingga membanding-bandingkan hidup di pesantren dengan di rumah.

Nah, kalau kita sellau aktif di pesantren, maka tidak sempat pun memikirkan hal-hal lain selain memikirkan kegiatan apa saja yang akan kamu lakukan setelah satu kegiatan selesai kamu ikuti. Tidak ada waktu memikirkan rumah senadainya kamu selalu berpartisipasi kegiatan pesantren, temukan temanmu, bakatmu, dimana hobimu, olahragamu, masuk ke dalam klub-klub khusus yang ada di pesantren sesuai passionmu.

9 Tips Menarik Untuk Santri Baru Agar Betah Di Pesantren

 3. Banyak Cari Teman dan Bergaul

Dimana-mana teman itu adalah segalanya selain keluarga sendiri. Disaat ada masalah, maka orang-orang terdekat kita akan menghampiri, mendekat membantu menyelesaikan masalahmu. Termasuk di pesantren, bahkan hubungan dekat dengan teman di pesantren lebih akrab, sebab selama 24 jam di pesantren kita selalu berada dalam lingkaran teman-teman sekelas, se asrama, se tempat tidur.

Maka bagi santri baru, memperbanyak bergaul adalah salah satu solusi melawan ketidakbetahan di pesantren.

4. Dekatkan Diri Dengan  Guru

Di pesantren, guru kita adalah orang tua kita. Posisi orang tuamu dimabil alih oleh guru selama di pesantren. Maka tidak salah jika kamu mendekati mereka, memuliakan guru layaknya orang tua. Terkadang selain teman, guru adalah tempat curhat paling baik, sebab guru sudah tentu lebih banyak pengalaman hidupnya.


Guru selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anak didiknya. Tidak ada guru yang tidak bahagia anak didiknya betah di pesantren, selalu aktif dan ceria. Guru kerap memotivasi para santri, memberi inspirasi dan menjadi suri tauladan yang baik untuk santri. Maka jangan jauhi guru jika ingin selalu betah di pesantren, karena guru juga bisa menjadi teman yang baik dengan catatan kamu memperhatikan sopan santun beradaptasi dengan gurumu.

9 Tips Menarik Untuk Santri Baru Agar Betah Di Pesantren


5. Aktif Mengikuti Kegiatan Yang Positif

Di pesantren ada banyak sekali kegiatan ekstrakurikuler yang bisa kamu ikuti, baik itu kegiatan bentuk olahraga maupun sifatnya akademis, seperti kursus dan lain sebagainya. Tapi dominannya, anak-anak lebih menyukai kegiatan outdoor, seperti pramuka, pencak silat maupun olahraga, sepak bola, basket dll. Setiap pesantren berbeda-beda kegiatan ekstrakurikulernya. Meskipun di pesantren, semua kegiatan ekstrakurikuler wajib di ikuti, seperti latihan pramuka, pidato, tapi ada kegiatan tertentu sifatnya tidak wajib.

Nah, bagi kamu yang masih baru, silakan ikuti semua kegiatan yang sesuai bakat minat kamu. Biasanya santri baru sangat di tunggu-tunggu oleh bagian pennaggung jawab kegiatan ekstrakurikuler masing-masing. Sebab mereka yakin setiap santri baru ada bakat masing-masing yang sudah mulai terasah sejak sekolah dasarnya. Mengikuti kegiatan pesantren dapat mengurangi tidak betah di pesantren, bahkan tidak sempat terpikir pun selain dunia pesantren, karena kamu sellau sibuk dengan aneka kegiatan.

6. Menghemat Pengeluaran

Dalam mencari ilmu memang di butuhkan pengorbanan harta yang harus di keluarkan. Baik untuk kepentingan pribadi atau kewajban bulanan pesantren. Untuk itu dengan menghemat uang jajan kita di pesantren, selain kita bisa menabung, kita juga akan terbantu ketika ada kebutuhan yang mendadak. Dengan membuat perencanaan  yang baik, akan membantu kita dalam menghemat pengeluaran. Kita mengeluarkan uang ketika benar benar untuk hal yang kita butuhkan. Tidak hanya sekedar membeli barang yang kita inginkan yang sedikit manfaatnya bagi kita, apabila hanya untuk sekedar pamer.



7. Berakhlak Baik

Adab diatas ilmu. Terkadang kenapa kita tidak betah di pesantren, mungkin karena orang sekitar kita enggan berteman karena perilaku kita yang tidak baik. Ini juga perlu ingat. Apalagi santri baru, karena tidak semua anak sama tipikal dengan kita, tidak semua orang nyaman dengan sikap kita. Ketika perangai kita tidak disenangi orang lain, maka mereka pasti akan menjauhi.


Setiap orang yang memiliki akhlak yang baik pasti akan diterima oleh semua kalangan, di senangi oleh guru dan kawan bahkan saat terjun di masyarakat pun, orang-orang akan menilai terlebih dahulu pada akhlak yang kita miliki. Orang akan menilai atau menghargai kita dari pakaian sebelum kita duduk dalam sebuah majlis, dan orang akan menilai dan menghargai kita setelah kita duduk di majlis tersbut dari akhlak yang kita miliki. Dalam kehidupan sering kita temui, disaat ada tamu atau pejabat yang berpakaian rapi sangat di hormati, tapi kalua perangainya tidak baik jangan harap orang-orang akan memuliakannya lagi.  


8. Meminta Keridhaan  Orang Tua

Keridhaan Allah ada pada keridhaan orang tua, dan murkanya Allah ada pada murkanya orang tua. Dengan meminta keridhaan orang tua membuat jalan hidup kita di permudah ketika di pesantren. Tidak hanya kita yang harus ikhlas, sabar untuk tidak bertemu dengan orang tua dalam waktu yang tidak sebentar  ketika menuntut ilmu di pesantren. Orang tuapun juga harus ikhlas merelakan anaknya belajar di pesntren.

9 Tips Menarik Untuk Santri Baru Agar Betah Di Pesantren


9. Rajin Beribadah dan Berdoa

Selian kewajiban beribadah kepada Allah akan membuat kita semakin dekat dengan Allah. Dengan banyak mengingat Allah. Allah juga akan mengingat kita. Contohnya, melaksanakan sholat dan membaca Al Qur’an . Juga berdoa. berdoa ketika setelah shalat wajib maupun shalat sunah. Usaha tanpa doa itu omong kosong, doa tanpa usaha itu bohong. Usaha sudah di laksanakan, dan di sempurnakan dengan menambahkan doa, baik sebelum maupun sesudah usaha.  Setelah kita berusaha untuk betah hidup di pondok kita jangan lupa berdoa kepada Allah yang mampu membolak-balikkan hati manusia, memohon agar selalu diteguhkan hati untuk bertahan di pesantren. Kita berdoa agar di berikan ketenangan hidup di pesantren, di berikan kesehatan kebetahan kelancaran dalam semua urusan kita.



Demikianlah beberapa Tips utuk santri agar betah hidup di pesantren. Memang awalnya berat, namun dengan usaha yang sungguh sungguh, insyaallah Allah juga akan membantu kita agar membalikkan hati kita selalu betah hidup di pesantren.



Sumber : darunnajah.com



Baca selengkapnya

Senin, 27 Februari 2017

Menjadi Santri, Beratnya Perjuangan Namun Kaya Pengalaman

Menjadi Santri, Beratnya Perjuangan Namun Kaya  Pengalaman

Hikayatsantri.com- Jika kita ingin mensurvei pada santri— atau setiap orang yang pernah nyantri  tentang apa yang mereka rasakan selama di pesantren, pasti tidak sedikit yang menjawab bahwa kehidupan pesantren itu lelah dan melelahkan tapi menyenangkan. Ya, karena memang begitu adanya. Kehidupan pesantren yang penuh dengan kegiatan dan disiplin menjadikan santri terasa berat menjalaninya.
Perasaan tersebut tidak terlepas dari banyak kendala yang mereka hadapi selama menjadi santri, terutama dalam mengikuti disiplin—terlebih lagi jika ada santri yang background hidupnya dalam lingkungan orang berada—tidak terbiasa dengan dengan kehidupan yang serba kekurangan— dan selalu diatur dengan berbagai disiplin. Lebih jelasnya, kehidupan pesantren itu sangat sulit dijalani bagi setiap anak yang selalu dimanjakan oleh orang tuanya. Yang kehidupannya serba ada, dan hidupnya jarang diatur dan selalu dilayani, bukan melayani.
  • BACA JUGA : 

Selagi Nyantri Belajarlah Sungguh-Sungguh, Jangan Nyesal Setelah Jadi Alumni

Nah, untuk memasuki dunia pesantren sendiri hendaknya setiap individu melepaskan sikap ketergantungan pada orang lain, termasuk orang tua. Harus berani melepaskan diri dari bayang-bayang kehidupan yang selalu merasa enak dan nyaman. Jika hal-hal tersebut sudah siap, mental sudah kuat, dan niatnya sudah benar dan tekad untuk masuk pesantren sudah bulat, saat itulah baru seseorang dengan mudahnya beradaptasi dengan dunia pesantren.
Namun, jika sifat manja masih dipelihara—dan selalu ingin hidup enak dan dilayani, jangan harap bisa sukses hidup di pesantren. Sebenarnya hal ini bukan saja berlaku bagi santri yang datang dari keluarga yang mampu—karena ia bisa saja terjadi pada setiap anak yang kehidupannya lumayan dimanjakan oleh orang tuanya.
Alahkah baiknya, sebelum beranjak masuk ke pesantren persiapkan diri dengan matang dan harus sadar bahwa kehidupan pesantren itu lelah dan melelahkan, membutuhkan sejuta perjuangan dan pengorbanan untuk menaklukkannya.
Hidup pesantren itu banyak pahitnya juga banyak manisnya. Yang jelas, pengalaman kamu semakin hari semakin bertambah

Menjadi Santri, Beratnya Perjuangan Namun Kaya  Pengalaman

Yang harus dipahami adalah bahwa hidup di pesantren itu tidak semudah merebahkan badan diatas kasur yang empuk. Jalannya kehidupan pesantren berliku, terjal dan penuh tantangan. Perjuangan demi perjuangan akan kita hadapi. Berbagai disiplin harus kita ikuti. Berbagai aneka makanan, enak atau tidak tidak enak harus kita nikmati. Tidak ada cara lain sukses hidup di pesantren kecuali dengan bersabar dan bertahan dengan semangat perjuangan dan jihad fi sabilillah. Niatkan bahwa tujuan ke pesantren untuk menuntut ilmu sebagai ibadah dan sudah siap menerima berbagai resiko, jauh dari orang tua dan sebagainya.
  • BACA JUGA : 

Beruntunglah Bagi Kamu Yang Pernah Nyantri Karena Kamu Dididik selama 24 Jam oleh Gurumu

Namun, dari sekian banyak rintangan juga banyak terdapat sejumlah pengalaman tentunya. Pengalaman hidup yang sangat berharga tiada tara. Tidak ada kehidupan yang paling indah kecuali hidup di pesantren. Yang penuh dengan luka dan duka. Masalah yang datang silih berganti menjadi teman hidup yang harus dijalani bersama—tapi dengan masalah tersebutlah sesorang mendapatkan pengalaman yang sangat mahal. Karena sesorang akan mudah menjalani kehidupan jika banyak pengalaman hidup yang ia rasakan.

Meskipun berat, tapi dibalik beratnya perjuanganmu ada kemuliaan dan keindahan yang akan kamu rasakan

Menjadi Santri, Beratnya Perjuangan Namun Kaya  Pengalaman

Akhirnya segalanya, siapapun yang sudah benar niatnya untuk hidup di pesantren kesuksesan akan menghampirinya. Tanpa terkecuali, baik ia datang keluarga yang berada ataupun tidak. Karena perbedaan strata kehidupan tidak membedakan kehidupan santri di pesantren, status mereka tetap sama atas nama santri. Yang akan sama-sama berjuang, bekerja, merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, yang duduk sama rendah dan yang berdiri sama tinggi. Karena tidak sedikit santri yang berasal dari keluarga kaya kehidupannya sugguh memprihatinkan dari santri yang lain, bukan tidak dipedulikan oleh orang tuanya, tapi karena kesederhanaanyang dimilikinya.
Jika benar niatnya, maka mudah jalannya menjadi santri. Dan harus yakin, dibalik perjuangan yang berat, ada kemuliaan dan keindahan didalamnya. Cepat atau lambat semua akan terasa. Sudah siap jadi santri ?
Sekian.


  •  BACA JUGA : 

Meskipun Pesantren Terasa Seperti Penjara, Tapi ia Seperti Ibu Kandung Yang Akan Dikenang Sepanjang Masa

Baca selengkapnya

Jumat, 06 Januari 2017

Selagi Nyantri Belajarlah Sungguh-Sungguh, Jangan Nyesal Setelah Jadi Alumni

Selagi Nyantri Belajarlah Sungguh-Sungguh, Jangan Nyesal Setelah Jadi Alumni

Masih ingat bait Mahfudzat yang berbunyi ; Ijhad Wala Taksal Fanadamatul ‘Uqba Liman Yatakasal” ?
Ya. Mahfudzat ini mengingatkan kita agar tidak bermalas-malasan saat belajar—karena penyesalan hanyalah bagi orang-orang yang malas.
Di pesantren, dengan disiplin belajar yang ketat—tidak menjamin santrinya akan belajar dengan sungguh-sungguh. Kenapa? Karena kesungguhan dalam belajar sangat tergantung pada individu santri.
Sejauh mana kamu sadar—sejauh itu pula keseriusan dan kesungguhanmu dalam belajar. Sebesar mana keinsyafanmu—sebesar itu pula keberuntunganmu.
Kalau ditanya tentang Mahfudzat Man Jadda Wa Jada pada setiap santri—mungkin sudah hafal diluar kepala—mereka sudah mempelajarinya—memahami dan menghafalnya dengan lancar. Namun sayang—sebahagian mereka hanya sekedar menghafal atau memahami tapi tidak dengan mengamalkannya.
Kapan mereka sadar? Setelah selesai dari pendidikan pesantren atau jadi alumni.
Gunakan kesempatan yang ada—karena ia akan hilang bila kamu tidak menggunakannya sebaik mungkin
Selagi Nyantri Belajarlah Sungguh-Sungguh, Jangan Nyesal Setelah Jadi Alumni
Pahamilah, bahwa kesempatan itu sangat singkat. Ada banyak orang yang menyia-nyiakan kesempatan yang akhirnya menyesal. Ambil dan gunakan kesempatan tersebut—karena bisa jadi kesempatan itu hanya sekali dalam hidupmu.
Baca Juga : 

Sebelum Masuk ke Pesantren, Jawab Dulu Pertanyaan ini. Ke Pesantren Apa Yang kamu Cari ?

Maka, selagi masih jadi santri—belajarlah dengan sungguh-sungguh. Setelah menjadi alumni kamu tidak akan pernah lagi bisa mengulangi kehidupan jadi santri—karena kesempatan itu telah pergi—hanya penyesalan yang bisa kamu ratapi. Telambat sudah.
Saat kamu jadi santri—kamu tidak pernah tahu atau belum tahu bagaimana hidup ini sebenarnya—seandainya semua orang bisa melihat masa depannya—mungkin mustahil ada orang malas di dunia ini. Tapi sayang, kita tidak akan pernah tahu akan nasib di kemudian hari. Bertanyalah pada orang-orang yang sudah duluan hidup—maka kamu akan tahu bagaimana lelahnya kehidupan.
Yakin kamu gak menyesal nanti? Coba tanya ke alumni bagaimana hidup di luar pesantren—setelah kamu dengar jawabannya—masih mau malas belajar?
Selagi Nyantri Belajarlah Sungguh-Sungguh, Jangan Nyesal Setelah Jadi Alumni
Kemungkinan ada dua jawaban saat kamu bertanya kepada alumni—bagaimana kehidupan setelah jadi alumni. Antara mudah dan susah—mudah bagi mereka yang belajar sungguh-sungguh—dan susah bagi mereka yang tidak belajar dengan sungguh-sungguh.
Mengetahui kehidupan orang yang lebih dahulu lahir dari kita sangat penting. Agar kita bisa mengambil pelajaran hidup. Karena mereka sudah merasakan bagaimana suka duka getirnya kehidupan. Maka tidak heran—jika ustadz-ustadzmu sering menasehatimu agar belajar dengan rajin—karena mereka sudah menjalani kehidupan jauh sebeleum kamu jalani.
Baca Juga : 

Mau Sukses di Pesantren ? Jadikan Pesantren Sebagai Pilihan, Bukan Tempat Pelarian

Ingatlah jerih payah orangtua dirumah—niscaya kamu akan selalu belajar dengan sungguh-sungguh
Selagi Nyantri Belajarlah Sungguh-Sungguh, Jangan Nyesal Setelah Jadi Alumni

Pernah gak kamu ingat jasa orang tuamu? Bagaimana mereka bekerja menafkahi keluargamu—membayar biaya pendidikanmu dan sebagainya—termasuk jajan dan biaya perlengkapan belajarmu.
Coba kamu hitung setiap hari berapa uang yang kamu terima setiap minggunya diberikan oleh orang tuamu—berapa biaya yang sudah dikeluarkan setiap bulannya untuk biaya pendidikanmu.
Ini penting—agar kamu selalu sadar dan memikirkan seribu kali untuk tidak belajar dengan sungguh-sungguh. Kemudian di akhir pendidikanmu—coba kalikan semua berapa biaya yang sudah digelontorkan oleh orang tuamu selama nyantri.
Terkadang kita butuh menghitung jasa orang tua—agar kita selalu sadar akan jerih payahnya—terkadang hidayah itu tidak datang sendirinya—kita mesti bergerak mengerjakan sesuatu agar hidayah itu datang.
Berjanjilah, bahwa kamu akan bayar segala jasa dan jerih payah orangtuamu dengan kesuksesanmu kelak. Mereka tidak meminta pertanggungjawaban atas biaya yang telah mereka habiskan untuk kamu—mereka hanya ingin melihat kamu kelak bertanggung jawab atas dirimu sendiri—menjadi anak yang shaleh—berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Itu saja.
Jadi, selagi masih nyantri—belajarlah dengan sungguh-sungguh dan jangan lupa berdoa agar langkahmu di pesantren selalu bersinar. Minta doa kepada orang tua dan guru. Jadilan santri yang tahu diri.
Sekian !
Baca  Juga : 

3 Tempat Ini Santri Sering Tertidur, Nomor 2 Paling Tidak Masuk Akal



Baca selengkapnya

Selasa, 03 Januari 2017

Ini dia alasan kenapa alumni pesantren itu layak kamu jadikan suami. Yang akhwat jangan lupa baca !

Ini Dia Alasan Kenapa Alumni Pesantren Itu Layak Kamu Jadikan Suami. Yang Akhwat Jangan Lupa Baca
photo via google
Kehidupan pesantren memang tak habisnya untuk diulas. Pendidikan 24 jam ini mampu memberi kesan abadi bagi santrinya, tak terkecuali alumninya. Pahit getir kehidupan pesantren memberikan pelajaran berharga dalam kehidupan mereka.
Pesantren mendidik santrinya, menguatkan mentalnya, sehingga kelak menjadi “orang” yang tahan banting nan tangguh, tak lapuk oleh hujan, tak lekang oleh panas. Begitulah harapan dari hasil akhir pendidikan pesantren. Selain mumpuni bidang ilmu agama mereka juga dituntut memilki mental yang kuat. Tentunya dengan pendidikan pesantren yang penuh halangan dan rintangan, mereka mampu menjadi orang yang “hebat” dan berpengalaman.
Nah, bagi kamu para akhwat, alumni pesantren sangat layak untuk kamu jadikan sebagai imammu, berikut ini beberapa alasan yang bisa menjadi bahan pertimbangan untuk memilih mereka untuk menyempurnakan hidupmu.

ENGGAK BISA DIPUNGKIRI LAGI, PASTINYA DIA ADALAH COWOK YANG MANDIRI.
Salah satu motto pesantren adalah Kemandirian. Para santri dituntut untuk menjadi jiwa yang mandiri. Terlepas dari bantuan orang lain dan orang tua, mereka harus bekerja keras, belajar keras agar sukses belajar di pesantren. Mereka mencuci baju sendiri, kemudian merapikan lemari, kamar dan sebagainya. Otomatis kemandirian mereka selama di pesantren akan membekas hingga akhir hidupnya. Jadi, gimana? masih ragu untuk kamu jadikan suami?
LINGKUNGAN DI PESANTREN MEMBENTUKNYA UNTUK MENJADI PRIBADI YANG DISIPLIN
Pesantren itu komunitas yang hidupnya serba disiplin dan serba diatur. Bayangkan, mulai mereka bangun tidur pagi-pagi buta sudah masuk dalam zona wajib berdisiplin. Apapun kegiatan harus berdisplin, harus tepat waktu, harus menggunakan seragam yang sesuai, pokoknya dalam durasi waktu selama 24 jam dalam keadaan berdisplin.
Kira-kira kamu senang gak kalau dapat suami yang penuh dengan disiplin?
Bangun teratur, makan teratur, pakaian rapi, hidup kamu juga bakal teratur? Yakin ga mau? Pikir-pikir kembalilah !
MEMANG NGGAK SEMUA LULUSAN PESANTREN AKAN JADI USTADZ, TAPI PALING NGGAK PASTINYA DIA CUKUP PAHAM SOAL AGAMA

Ini Dia Alasan Kenapa Alumni Pesantren Itu Layak Kamu Jadikan Suami. Yang Akhwat Jangan Lupa Baca

Inti pendidikan pesantren itu alah pendidikan agamanya. Tapi selain ilmu agama mereka juga dibekali dengan ilmu umum, layaknya sekolah umum. Selain mereka juga di didik ilmu kehidupannya melalui kegiatan ektrakurikulernya.
Mereka juga mengaji kitab, kemudian ke mesjid wajib tepat waktu dan berjama’ah. Insyaallah nilai spritualitas pada diri mereka terjamin dan terjaga, ya walaupun gak semuanya jadi ulama.
Karena pesantren itu gak mengharuskan semua alumninya untu jadi ulama, jadi apa aja boleh, profesi apa aja OK, asalkan halal dan dalam lingkaran agama. Jadi guru boleh, tapi guru yang islami. Jadi pengusaha juga boleh, tapi pengusahan yang islami dan lain sebagainya. Pokoknya ilmu agama mereka harus kental setela tamat dari pesantren.
Gimana? Cocokkan?

 WALAU PEMAHAMAN AGAMANYA KUAT, COWOK PESANTREN TETAP ASYIK BUAT DIAJAK BERGAUL LHO!
Sebahagian orang beranggapan anak pesantren itu terlalu serius, kemudian enggan dan agak sulit diajak bercanda. Karena kerjaannya ngaji melulu.
Upss# jangan salah !
Anak pesantren itu banyak yang gila tetap waras loh ! #upss mereka juga super gokil, wah kalau uda ngerumpi sama kawan-kawan di pesantren disitu berkumpul semua perangainya. Ada yang tukang jail, suka buat iseng yang ga ada buat onar. #haha
Artinya apa? Mereka itu sangat asik diajak bergaul. Humoris dan penuh cerita lucu. Karena anak pesantren ada cara tersendiri menghibur diri mereka. Pokoknya anak pesantren itu gokil lah ! coba aja, kalau ga percaya.
KARENA KEBANYAKAN DARI MEREKA NGGAK MAU DEKAT SAMA CEWEK SEBELUM HALAL, KAMU YANG SUDAH DIPILIHNYA AKAN JADI SATU-SATUNYA BUAT DIA
 Dominannya mereka itu enggan dekat sama cewek sebelum halal. Makanya ia akan bekerja keras dahulu, kenal, langsung cari tahu siapa kamu, orang tuamu, datangi rumahmu, jumpai orang tuamu, dilamar langsung nikah. Kelar masalahnya. 

Jadi Enggak perlu deh curiga sama mantan-mantannya. Cukup kamu satu-satunya yang menjadi kekasih buat dia. Kekasih halal, pastinya.


BACA JUGA : 

Bagi Santri Mengantri itu Tidak Pernah Rugi Karena Disitulah Kesabaran Diuji

JANGAN KAGET KALAU CARA DIA BERKENALAN DENGANMU ATAU MERAYU SANGAT KUNO, PAKAI SURAT, KUNO TAPI SUPER ROMANTIS
Biasanya anak pesantren itu agak sedikit gaptek, kemudian kurang mengikuti tren luar pesantren, apalagi dalam hal hubungan gitu. Biasanya kalau mereka menyukai lawan jenis, mereka diam-diam mencari kesempatan. Berhubungan bukan dengan HP atau media sosial, di pesantren itu haram bawa alat elektronik.
Senjata mereka adalah selembar kertas aja, alias surat kecil-kecilan. Selain mudah dijangkau juga ga mau mau pakek media apalagi. Biasanya mereka akan cari akal buat kirim-kirim surat. Baik via lembaran buku atau titip sana sini. Bisnis terselubung lah kira-kira. Mungkin agak kuno, tapi kesannya sangat romantis loh !
Ya walaupun tidak sedikit dari mereka yang gagal, alias ketahuan. Karena ustadz-ustadznya sangat lihai membaca keadaan dan melakukan patroli dimana-mana.
Pokoknya kalau ada yang nakal di pesantren itu, ga lama bertahannya, karena cintanya terhalang oleh dinding pesantren, pasti ketahuan jua pada akhirnya.
COWOK PESANTREN PASTI PUNYA TEMAN-TEMAN SESAMA ANAK PESANTREN YANG SANGAT KOMPAK BAHKAN SUDAH KAYAK KELUARGA SENDIRI
Anak pesantren itu bukan kuper, mungkin hanya saja karena kurang mengikuti trend luar makanya terlihat malu-malu awalnya, tapi urusan pertemanan mereka sangat solid malahan. Mereka bersahabat selama 24 jam, layaknya keluarga sendiri yang tinggal satu atap.
Sosial mereka lumayan tinggi, ikatan persaudaraan mereka sangat kuat dan kompak. Jangan ragu kalau udah nikah nanti, urusan ditengah masyarakat insyaallah beres dech.

KAMU NGGAK AKAN BOSAN DENGAR CERITA, CERITANYA SELAMA DI PESANTREN DULU
Lika – liku kehidupan pesantren yang lumayan menantang dan sulit, pastinya ia mengoleksi banyak cerita. ceritanya pun aneh-aneh, mulai dari cerita hal baik, cerita kenakalannya di pesantren atau cerita-cerita unik lainnya. Pokoknya kalau kamu dengar cerita mereka pasti kamu bakal “pecah tawa” tapi gak semuanya gitu, ada juga cerita inspiratifnya.
Dongeng sebelum tidur insyaallah ga pernah habis, bakal ada selalu cerita yang di perdengarkan, dari episode ke episode. Kamu pasti akan terhibur dengan ceritanya.
Ini Dia Alasan Kenapa Alumni Pesantren Itu Layak Kamu Jadikan Suami. Yang Akhwat Jangan Lupa Baca
photo via google
PASTINYA DIA AKAN SENANG HATI MEMBIMBINGMU SOAL AGAMA
Jadi santri itu, selain dididik juga mendidik, selain siap dipimpin mereka juga siap memimpin. Jadi setiap mereka itu dituntut menjadi kakak leting yang bisa mengajari adik-adik leting dibawahnya. Mereka mengayomi, berbagi ilmu, dan mengajari adik-adiknya.
Disitulah pendidikan mereka, selain menerima pendidikan mereka juga memberi. Tentunya kalau kamu jadi istrinya pasti dengan senang hati ia membimbingmu.
DIA YANG SUDAH TERBIASA HIDUP DALAM KESEDERHANAAN AKAN SELALU MAMPU MEMBAWAMU MEMBAHAGIAKANMU LEWAT CARA-CARA SEDERHANA
Anak pesantren itu sangat susah dibedakan mana anak orang kaya mana yang gak, soalnya penampilan mereka sama. Bahkan anak yang kaya pun terlihat seperti orang yang tidak berada. Di pesantren kesederhanaan itu memang di didik, mulai dari kesetaraan dalam pendidikan, hingga makan minum pun sama. Biasanya mereka orangnya simpel, ga banyak janji langsung to the point.
Dia hanya ingin membuat kamu yang telah dipersuntingnya bahagia.
Gimana? Bersedia gak ukhti-ukhti ? #coba pikir 1000 kali dulu sebelum menyesal #upss

Sekian !

BACA JUGA : 

7 Hal ini Mesti Kamu Ketahui Kenapa Pesantren Menjadi Dasar Pilihan dan Kesuksesanmu

Baca selengkapnya