Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 November 2018

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk Kelanjutan Pendidikan Anak


7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak

Saat ini pesantren menjadi salah satu lembaga pendidikan anak yang menjadi solusi untuk menghindari dari pergaulan bebas, yang hari ini  sangat meresahkan dikalangan remaja dan pemuda. Banyak orang tua lebih memilih pesantren dengan segala pertimbangan untuk mencegah hal-hal buruk terjadi pada anak. Dan terbukti, setiap tahunnya, rata-rata pesantren di seluruh Indonesia menampung santri dengan jumlah pendaftar membludak (overload), apalagi pesantren yang sudah maju dan berkembang pesat.

Namun, tidak semua harapan para orang tua dapat terpenuhi, ada yang tidak lulus seleksi anaknya, ada yang sudah lulus tapi anaknya tidak betah, ada yang sudah betah namun terkendala pada biaya pendidikan, dan masalah lainnya sering menimpa para orang tua wali santri.

 Nah, berhubung saat ini sudah memasuki akhir tahun, beberapa pesantren sudah mulai melakukan persiapan penerimaan santri baru bahkan ada yang sudah membukanya, pada kesempatan ini hikayatsantri.com mencoba merangkum beberapa ulasan mengenai tips memilih pesantren yang baik yang disadur dari berbagai sumber, yang dapat dijadikan sebagai bacaan rujukan orang tua sebelum memasukkan anaknya ke pesantren.

 Perhatikan Tipe, Sistem dan Model Pendidikan Pesantren


Di Indonesia umumnya terdapat 2 (dua) jenis tipe pondok pesantren, Salafi (tradisional) dan Modern (Terpadu, Ashriyah), silakan ditentukan terlebih dahulu, si anak maunya pesantren yang jenis seperti apa, Salafi atau Modern, salafi lebih mengkaji pada kitab-kitab kuning dan focus pada ilmu pengetahuan saja umumnya, dengan system pengajian tradisional (seperti sorogan, wetonan, dan bandongan), sedangkan modern pendidikannya memadukan ilmu agama dan umum, dan terdapat jenjang pendidikannya, tingkat Tsanawiyah maupun Aliyah.  Kemudian pesantren modern juga terdapat kegiatan ekstrakurikulernya, layaknya sekolah umum, hanya saja pesantren lebih bervariasi. Pesantren salafi juga ada kegiatan ekstrakurikulernya, hanya saja tidak sebanyak dan seaktif pesantren modern.

Perhatikan Biaya Pendidikannya

Pilihlah pesantren yang sesuai dengan kemampuan finansial, agar tidak terjadi masalah pada pendidikan anak, biaya pendidikan salah satu komponen pendukung jalannya kegiatan pembelajaran untuk menunjang aktivitas proses belajar mengajar, dan ini merupakan bagian dari pada salah satu pengorbanan dalam menuntut ilmu. Setiap pesantren berbeda-beda biaya pendidikannya, tergantung pada system, sarana dan prasarana, dan tenaga kependidikan yang terdapat pada pesantren tersebut.

Maka sebaiknya, para orang tua memastikan biaya pendidikan terlebih dahulu sebelum memilih pesantren, penuhi keinginan anak sesuai kemampuan finansial agar tidak bermasalah pada pembiayaan pendidikan. Karena juga tidak sedikit, anak-anak putus pendidikannya di pesantren terkendala pada biaya.


 Perhatikan Sarana dan Prasarana Pesantren

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak


Fasilitas pendidikan bagian dari pada salah satu penunjang kesuksesan pendidikan anak, yang tidak dapat dipisahkan dari lembaga pendidikan. Hal ini memang bukan rumus yang baku, karena ada juga pesantren yang berhasil melahirkan ouput santrinya berkualitas meskipun minim fasilitas di pesantrennya.

Ada banyak kasus, para orang tua mengeluh di tengah jalan karena kurangnya fasilitas di pesantren anaknya, dan kerap membanding-bandingkan dengan pesantren lain yang jauh lebih lengkap dari segi fasilitasnya. Padahal, biaya pendidikan yang dikeluarkan tidak seberapa besar dari pesantren yang lebih lengkap fasilitasnya. Jika ingin membanding-bandingkan harus fair, jangan sampai terjebak dengan standar pendidikan pesantren lain, makanya sangat penting memperhatikan terlebih dahulu fasilitas pesantren yang dituju agar tidak ada keluhan dan penyesalan di kemudian hari.

     Perhatikan Kegiatan Formal dan Informal Pesantren

Kegiatan tiap pesantren berbeda-beda, meskipun ada satu dua hal yang sama. Namun, semua kegiatan pesantren sangat tergantung pada system dan pola pendidikan di pesantren tersebut. Biasanya si anak akan memilih pesantren yang terdapat kegiatan yang sesuai dengan minat dan bakatnya, terutama dalam kegiatan ekstrakurikulernya.

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak


Umumnya, santri lebih betah di pesantren yang sesuai dengan keinginannya. Maka para orang tua harus mengecek terlebih dahulu, jika menginginkan anaknya menjadi penghafal Al Qur’an maka pilih pesantren dan focus pada penghafalan Al Qur’an yang otomatis kegiatannya lebih ringan, lebih banyak waktu untuk kegiatan penghafalan.

     Perhatikan Kurikulum Pendidikannya

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak


      Tidak semua sama kurikulum antar pesantren, semua tergantung arah dan ouput yang ingin dihasilkan oleh pesantren tersebut, jika pun terdapat kesamaan, biasanya pada kurikulum yang sudah ditetapkan oleh pemerintah seperti kurikulum 2013 yang saat ini sedang berjalan.

  Memperhatikan kurikulum pesantren terlebih dahulu juga penting, menyesuaikan dengan kemampuan anak, karena juga tidak sedikit anak yang tidak betah di pesantren yang akhirnya pindah karena ketidakmampuan anak menyerap sejumlah pelajaran yang terdapat di pesantren. Kemampuan anak memang dapat diasah dan ditingkatkan, tapi yang harus diingat bahwa setiap anak berbeda kemampuan masing-masing, dan memilih pesantren yang sesuai keinginan dan kemampuannya akan lebih baik.

     Perhatikan Letak Strategis dan Geografis Pesantren

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak
Lokasi Pesantren Modern Al Manar Aceh | Photo hikayatsantri.com


Ada dua pertimbangan yang mesti dilihat mengenai letak strategis dan geografis pesantren, namun ada sisi positif dan negatifnya, pertama, memilih pesantren yang dekat dan mudah dijangkau agar mudah mengunjungi anak ataupun mudah menemuinya saat ada masalah di kemudian hari, namun memilih pesantren yang dekat kerap kali membuat anak tidak betah di pesantren, sebab mudah teringat akan rumah, dan mudah untuk pulang dan akan sering minta izin pulang. Dan fakta di lapangan, santri yang sering izin pulang, dominan tidak bertahan lama di pesantren, sebab baginya lebih nyaman dan enak di rumah dari pada di pesantren.

Kedua, memilih pesantren yang jauh dari rumah dan akan jarang menemui si anak, dan ini lebih baik untuk membuat anak lebih kuat dan mandiri di pesantren. Dengan catatan orang tua harus siap, harus kuat jauh dari anak, bahkan kalau bisa letaknya melewati kabupaten bahkan provinsi, agar si anak tidak sering minta izin pulang. Dan para orang tua tidak akan terlalu sering mengunjungi anaknya, sebab terlalu sering dikunjung juga membuat anak tidak betah. Jenguklah anak jarang-jarang agar cinta makin berkembang. Hidup di perantauan, jauh dari orang tua, membuat anak lebih kuat dan mandiri dari pada yang dekat dengan rumah.

Dan sisi lain mengenai letak pesantren adalah dimana keberadaannya, di kota, di perdesaan, tempat terpencil, dekat dengan pegunungan dan lainnya. Ini tergantung keinginan para orang tua. 

  Perhatikan Kenyamanan dan kebersihan Lingkungannya

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak


Kenyamanan salah satu factor membuat anak betah di pesantren, baik itu dari segi kebersihan maupun keindahannya. Dan ini ada kaitannya dengan letak geografis dan strategis pesantren. Biasanya lokasi pesantren di perdesaan dan terpencil lebih nyaman dan asri, dan sedikit jauh dari perumahan masyarakat, dan ini lebih banyak diminati, sebab tidak terlalu terganggu dengan aktivitas masyarakat. Karena jika pesantren terlalu dekat dengan masyarakat, pesantren terkadang sering mengalami kendala dan sering terjadi gesekan dengan masyarakat, apalagi jika dominan masyarakatnya susah di ajak kerjasama dan tidak mau mengerti keadaan pesantren.

Jika dekat dengan perkampungan atau perumahan, pesantren tidak bisa mengatur aktivitas masyarakat, misalnya suara mesin pabrik, atau suara bising lainnya dari kegiatan masyakarat. Dan sebaliknya jika pesantren membuat kegiatan di pesantren kerap kali masyarakat terganggu, jadinya sedikit susah pesantren menggerakkan kegiatannya, kecuali masyarakat ditempat tersebut memang sangat harmonis mudah diajak kerjasama dan saling memahami dan mengerti. Dan hal ini, sulit terjadi, karena tipikal masyarakat berbeda-beda.

Demikian beberapa tips dari hikayatsantri.com kiat memilih pesantren, dan ini bersifat opini yang dapat direvisi dan dikoreksi. Semoga bermanfaat. 

Tonton Videonya : 





Baca selengkapnya

Sabtu, 22 September 2018

Santri dalam Resolusi Jihad dan Politik

Santri dalam Resolusi Jihad dan Politik



Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Bahkan jauh sebelum masa kolonial Belanda, pesantren sudah ada dan berkembang pesat di bumi nusantara. Sehingga tidak bisa dipisahkan antara santri dan pesantren.

Menurut lembaga Research Islam, pesantren adalah suatu tempat yang tersedia untuk para santri dalam menerima pelajaran-pelajaran agama Islam sekaligus tempat berkumpul dan tempat tinggalnya. Atau dapat juga dipahami Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang tumbuh ditengah masyarakat dengan ciri, santri (murid) diasramakan dalam proses mencari dan mendalami ilmu agama di bawah asuhan dan bimbingan kyai dan ustad yang berkharisma.


Dalam dunia pesantren istilah santri terbagi atas dua kategori: Pertama, santri mukim, yaitu santri yang berasal dari luar daerah pesantren yang hendak bermukim dalam mencari ilmu. Ketika hendak berniat untuk bermukim, santri tidak perlu disibukkan dengan membawa perlengkapan, tidur seperti layaknya di rumah. Karena dalam lingkungan pesantren sudah ditanamkan kesederhanaan dan tanggung jawab. Kedua, santri kalong, yaitu para santri yang berasal dari desa-desa di sekitar pesantren. Mereka bolak-balik (ngelajo) dari rumahnya sendiri. Para santri kalong berangkat ke pesantren ketika ada tugas belajar dan aktivitas lainnya.
Dalam lembaga pendidikan pesantren terdapat beberapa varian yang sangat penting dalam perjalanannya sebagai lembaga pendidikan, setidaknya terdapat lima varian yang penting dan terikat dalam pondok peosantren. Kelima varian tersebut meliputi kyai (ulama), pondok (asrama), masjid (mushalla), santri dan proses pembelajaran dan pengkajian kitab-kitab klasik atau biasa dikenal dengan istilah Kitab Kuning. Seiring perkembangan zaman pesantren kemudian mau tidak mau menambah varian lain dalam menangani perjalanan pondok pesantren tersebut, bisa saja varian tambahannya adalah manajemen, yayasan, sistem, pengurus, organisasi, tata tertib dan mungkin juga kurikulum pembelajarannya, yang tentunya tambahan varian dalam pondok pesantren disesuaikan dengan kebutuhannya.

baca juga : 

Pesantren, Kepemimpinan Nasional dan Masa Depan Indonesia”

Santri dalam Resolusi Jihad dan Politik


PONDOK PESANTREN

Berangkat dari model pondok pesantren ini adalah, terciptanya santri sebagai sumber daya manusia yang berkualitas dan bermoral. Hal ini karena suasana lingkungan belajar yang kondusif, semangat belajar, keakraban antara santri dengan santri, juga antara santri dengan kyai atau guru, kemandirian, tanggung jawab dan pengawasan 24 jam baik dari antar santri ataupun dari kyai, serta masih banyak lagi keunggulan dari pendidikan model pondok pesantren.

Sekarang bermunculan permintaan sumber daya santri baik dari masyarakat maupun lembaga lain dalam mengurus masjid, sekolah dan lembaga lainnya. Maka tak heran sekarang banyak bermunculan lembaga pendidikan formal yang meniru dengan lembaga pesantren yang didirikan oleh para kyai. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari munculnya istlilah boarding school (kelas asrama) pada beberapa lembaga pendidikan formal baik yang negeri ataupun swasta.

Berbicara kemerdekaan RI, tentu tidak terlepas dari peran Ulama dan kaum Santri. Dalam bukunya Sejarah Pondok Pesantren di Indonesia, ada tiga fase ulama pesantren dalam menentang penjajah (Marwan Saridjo, 1980). Pertama, mengadakan ‘uzlah, yakni mengasingkan diri ke tempat terpencil yang jauh dari jangkauan penjajah; Kedua, bersikap non-kooperatif dan sering mengadakan perlawanan secara diam-diam, dan; Ketiga, memberontak dan mengadakan perlawanan secara fisik. Pada perlawanan fisik inilah kaum kaum santri berjuang dalam jihad mengangkat senjata di medan perang.

Selama masa penjajahan pesantren memiliki peran ganda, yaitu sebagai pusat penyebaran Islam sekaligus sebagai pusat penggemblengan para santri dan umat Islam untuk menumbuhkan semangat jihad sebagai hizbullah, membela agama dan tanah air dari cengkeraman penjajah. Untuk membakar semangat jihad melawan penjajah, ulama pesantren mengeluarkan sejumlah fatwa seperti hubb al-wathan min al-iman (cinta tanah air merupakan bagian dari iman), man tashabbaha bi qawm fahuwa minhum (barang siapa meniru suatu kaum, berarti ia termasuk bagian dari kaum itu).

Sudah tidak bisa dielakkan lagi, bahwa banyak dari kalangan pesantren yang berjasa untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahkan dengan taruhan nyawanya para santri mempertaruhkan jiwa raganya demi bangsa dan negara. Seperti jihad perang Diponegoro yang merupakan perang terbesar di Pulau Jawa pada masa itu telah menguras keuangan pemerintah Belanda di susul meletusnya pertempuran 10 November yang disertai dengan resolusi jihad KH Hasyim Asyari. Yang sekarang itu ditetapkan sebagai hari pahlawan. Bukan hanya dua peristiwa itu saja yang menerangkan besarnya kiprah para santri dalam resolusi jihad untuk Indonesia, banyak tokoh-tokoh yang ikut andil dalam merumuskan berdirinya negara kesatuan Republik Indonesia yang juga mempunyai latar belakang sebagai santri.

Kemunculan kiprah sosok santri yang kemudian telah mengukir bangsa Indonesia yang pada akhirnya mendapatkan bintang Pahlawan Nasional seperti Pangeran Diponegoro, KH Hasyim Asyari, KH Ahmad Dahlan, KH Zainal Arifin, KH Wahid Hasyim, KH Zainal Mustofa, KH Noer Ali, KH Abdul Alim, KH Idham Cholid, Kiai Wahab Chasbullah dan masih banyak santri-santri yang telah mempertaruhkan jiwa dan raganya demi kemerdekaan RI.

Bahkan, Habib Husain Al Mutohhar berapi-api membakar jiwa rakyat Indonesia dengan menciptkan lagu 17 Agustus dan Syukur sebagai wujud sosok santri yang cinta Tanah Air dan rasa nasionalisme yang sangat tinggi. Mereka adalah para pahlawan yang degan gigih memperjuangkan kemerdekaanIindonesia. Mereka adalah orang-orang yang pandai dalam ilmu agama dan pernah mondok di berbagai pesantren dengan status sebaga santri.

baca juga : 

Mempertegas Peran Santri

Santri dalam Resolusi Jihad dan Politik


PENDIDIKAN POLITIK

Perkembangan politik di Indonesia berpengaruh besar dalam membangun peradaban indonesia. Era sekarang pondok pesantren pun tidak melulu mengajarkan pendidikan agama kepada santrinya. Pendidikan politik pun menjadi penting untuk diajarkan kepada para santri seiring berkembangnya politik di Indonesia. Bahkan, kaum sarungan juga pernah menjadi orang nomor satu di Indonesia, seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tidak hanya pada masa setelah kemerdekaan, kiprah para santri dimasa sebelum kemerdekaan Indonesia juga sangat besar.


Pendidikan politik yang biasa dilakukan sebagai proses pembinaan kesadaran warga negara dalam melaksanakan hak dan kewajiban perlu disosialisasikan kepada warga negara Indonesia, termasuk di kalangan pondok pesantren. Era sekarang santri diharapkan berpartisipasi dalam dinamika politik di Indonesia untuk mewujudkan tatanan politik yang bermoral guna membangun bangsa.

Jika kita kembali ke sejarah sejak 1999, kaum santri mulai menduduki posisi penting di pemerintahan. Gus Dur beliau merupakan presiden RI ke-4 yang berlatar belakang santri, kontribusi positif santri dalam membangun bangsa yang bermoral pun bisa kita lihat pada UU Perkawinan 1974 dan UU Peradilan Agama 1990.

UU tersebut merupakan hasil kontribusi positif kaum santri dalam mengaplikasikan ilmu nya dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Pengintegrasian perjuangan islam yang dilakukan para santri dalam perjuangan nasional telah menemukan momentum yang tepat pada gerakkan reformasi berupa perubahan UUD 1945 (1999-2002) yang merupakan muara seluruh tuntutan reformasi.
Kaum santri selama ini dikenal santun dalam berpolitik. Mereka memiliki pendidikan moral dan etika yang tinggi dan dikenal lebih taat memenuhi dan mengaplikasikan ajaran-ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari dan gigih memperjuangkan berlakunya syariat Islam, baik secara formal dalam berbagai bentuk perundang-undangan atau pun secara fungsional melalui sosialisasi nilai-nilai moral ke dalam setiap praktik kekuasaan dan kehidupan sosial.

Indonesia sebagai negara demokrasi telah mengalami pasang surut dalam tatanan dinamika politiknya, parpol yang seharusnya menjadi wadah menampung aspirasi masyarakat dan sebagai pemandu kepentingan masyarakat dalam negara demokrasi sudah beralih pemahaman maupun pandangan. Seluruhnya terpulang kepada para aktivis politik santri untuk bersedia melakukan praktik politik yang bukan sekadar meraih kekuasaan dan bukan sekadar menjadikan kekuasan hanya untuk memenuhi selera materialnya saja.

Hari Santri yang jatuh pada 22 Oktober, semua tantangan ini membutuhkan SDM pemimpin dan profesional berbagai kalangan termasuk dari kalangan santri. Era globalisasi peran politik umat Islam, kyai dan pesantren tetap mempunyai perannya dalam membangun bangsa. Dampak pembangunan fisik yang tidak berangkat dari konsep karakter building adalah dekadensi moral, korupsi, tindak kekerasan dan lain-lain. Masalah pendidikan, khususnya sistem sekolah di kota-kota besar tidak lagi menjanjikan kesalehan moral dan sosial anak didik. Dalam kondisi inilah pesantren muncul sebagai alternatif penting. Dirgahayu Hari Santri !

________________________________________

* Kiswanto, Dosen Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, mahasiswa program Doktoral Ilmu Lingkungan di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah. Email: kiswantoanto5@gmail.com


Sumber : serambinews.com 

Baca selengkapnya

Selasa, 18 September 2018

7 Nilai Plus Yang Harus Kamu Ketahui Mondok di Pesantren Jarang Kamu Temui di Tempat Lain

7 Nilai Plus Yang Harus  Kamu Ketahui Mondok di Pesantren Jarang Kamu Temui di Tempat Lain
Photo : Hikayat Santri


Saat ini banyak orang tua yang menginginkan anaknya sekolah di pesantren, dengan berbagai pertimbangan melihat kondisi hari ini yang sangat meresahkan perilaku anak yang bisa terpengaruh dengan berbagai ancaman, diantaranya ; pergaulan bebas, degradasi akhlak  dan moral, pengaruh narkoba dan lain sebagainya.

Namun, tidak semua keinginan orang tua dituruti oleh anak, sebab mereka sudah punya pandangan dan pilihan tersendiri kemana ingin melanjutkan pendidikannya. Tidak sedikit orang tua yang memaksa anaknya masuk pesantren namun akhirnya tidak berhasil, sebab di tengah jalan anaknya minta pindah karena tidak betah dan dengan alasan lainnya.

Memang, memaksa anak masuk pesantren bukan hal baik sebenarnya, anak yang dipaksa masuk pesantren  terkesan sering tertekan di pesantren, sering bermasalah di pesantren, jarang mengikuti kegiatan pesantren, bermalas-malasan, tidak bergairah dan semangat mengikuti setiap kegiatan. Dan mayoritas santri yang dipaksa oleh orang tuanya tidak bertahan lama di pesantren. Karakter anak saat ini sudah berubah seiring berkembangnya zaman. Namun, memang ada sebahagiannya yang bertahan di pesantren yang awal mulanya dipaksa orang tuanya, tapi harus membutuhkan usaha orang tua yang maksimal.

Salah satu cara memasukkan anak ke pesantren adalah dengan cara mulai memperkenalkan anak dengan hal-hal positif tentang pesantren, persiapkan sejak dini jauh hari sebelum memasukkan anak ke pesantren, munculkan keinginan sendiri dari anak bahwa dia memilih pesantren, beritahu hal-hal yang baik mengenai pesantren, kalau memungkinkan selama anak menempuh pendidikan sekolah dasar, bawa dia sesekali  keliling pesantren, melihat keadaan dan kegiatannya. Tanamkan nilai positif mengenai pesantren kepadanya sehingga keinginan anak kuat ingin sekolah di pesantren, menguatkan keinginan anak sejak kecil sekolah di pesantren akan lebih baik dari pada memaksanya.

Nah, hikayatsantri.com mencoba merangkum dari beberapa artikel dan kajian mengenai  beberapa nilai plus sekolah di pesantren yang harus diketahui, yang jarang didapatkan di sekolah lain. Mungkin ini bisa menjadi bahan bacaan rujukan orang tua maupun calon santri yang ingin masuk pesantren. Nilai-nilai plus ini dirangkum berdasarkan pengalaman mondok di pesantren tanpa mendiskreditkan sekolah yang non pesantren.

7 Nilai Plus Yang Harus  Kamu Ketahui Mondok di Pesantren Jarang Kamu Temui di Tempat Lain


1. Banyak Jaringan (Networking)

Ukhuwah islamiyah salah satu motto yang diusung oleh mayoritas pesantren. Hidup di pesantren tidak sendiri, ada banyak teman yang bisa kamu temui yang berasal dari berbagai daerah. Pergaulan di pesantren pun sangat kuat, sebab selama 24 jam kamu terus bersama temanmu saling berbagi, saling tolong menolong, saling bahu membahu, saling berbagi cerita.
Setelah jadi alumni, kamu akan merasakan bertapa indahnya persahabatan pesantren, dimana-mana bisa kamu jumpai sahabatmu dari berbagai daerah, apalagi pesantren-nya yang mempunyai ribuan santri, seperti Pondok Modern Gontor Jawa Timur. Kamu bisa bayangkan betapa mudahnya kamu bergerak dimana-mana ada alumni almamatermu, sebab bukan hanya saja kawan seangkatan yang akan menjadi temanmu, abang leting kamu di pesantren juga bisa jadi bagian networking yang siap membantumu kelak.
7 Nilai Plus Yang Harus  Kamu Ketahui Mondok di Pesantren Jarang Kamu Temui di Tempat Lain

2. Suka Hidup Gotong-Royong

Nilai-nilai  sosial sangat  kental diajarkan dan diterapkan di pesantren. Santri ditanamkan jiwa dan semangat gotong royong selama tinggal di pesantren. Keberkahan dalam hidup berjamaah sangat terasa. Santri dibiasakan dengan kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan pesantren, dengan agenda-agenda besar pesantren yang dilibatkan santri sebagai panitia pelaksananya.

Nilai kebersamaan ini menjadi modal hidup yang sangat berharga saat kamu terjun ke masyarakat. Kita sudah terbiasa dengan hal bekerjasama dengan yang lain. Saling peduli, saling bantu membantu dalam kebaikan.  
Baca Juga : 

Beruntunglah Bagi Kamu Yang Pernah Nyantri Karena Kamu Dididik selama 24 Jam oleh Gurumu


3. Bisa Menghadapi Masalah Dengan Baik

Sebagai manusia mempunyai masalah dalam hidup adalah hal yang lumrah, karena orang yang tidak tahu masalah dalam hidupnya itulah masalah baginya. Setiap kita punya masalah hidup masing-masing, yang membedakannya hanya berat dan ringan masalah tersebut.
Pun demikian dnegan kehidupan di pesantren yang penuh dinamika sudah pasti ada masalah yang dihadapi, misalnya ; pelanggaran disiplin, kesulitan mengusai pelajaran dan lain sebagainya.

Namun yang terpenting adalah bagaiman kita bisa menghadapi masalah tersebut dengan baik dan penuh kontrol. Di pesantren, kamu akan dibina dan dibimbing oleh guru-gurumu, setiap ada masalah kamu diminta untuk memecahkannya. Dan kamu juga akan dididik menjadi orang yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah tersebut, bukan lari dari masalah.

Nilai plus ini sangat berguna untuk kamu kelak sebagai modal hidup, kita sudah terbiasa menyelesaikan dengan baik, menjadi pribadi yang siap bertanggung jawab atas perbuatan kita sendiri. Ini merupakan karakter yang harus dimiliki, berani berbuat berani bertanggung jawab, dan siap menyelesaikannya dengan baik tanpa harus menyalahkan dan merugikan orang lain.

7 Nilai Plus Yang Harus  Kamu Ketahui Mondok di Pesantren Jarang Kamu Temui di Tempat Lain


4. Master Language

Bahasa Arab dan Inggris adalah dua bahasa international yang harus kamu kuasai di pesantren. Dan ini menjadi alat komunikasi yang sangat dibutuhkan saat ini seiring berkembangnya zaman, Bahasa Arab sebagai bahasa pengantar untuk mengkaji ilmu agama dan bahasa inggris bisa kamu gunakan untuk mengkaji ilmu-ilmu yang sedang berkembang di barat.

Pembiasaan berbicara dengan bahasa resmi, billingual diaplilkasikan dalam kehidupan sehari-hari santri dan diperkuat dengan kegiatan pendukung penguasaan bahasa, seperti kegiatan pidato, muhadatsah, lomba debat dan lain sebagainya.

Setelah kamu tamat di pesantren, paling tidak kamu sudah punya modal untuk berkomunikasi dengan bahasa asing, kalaunpun tidak menguasai secara maksimal, namun kamu sudah punya keberanian untuk memulai sebuah percakapan dengan orang asing, dan menjadi semangat untuk peningkatan lebih lanjut di perguruan tinggi.

7 Nilai Plus Yang Harus  Kamu Ketahui Mondok di Pesantren Jarang Kamu Temui di Tempat Lain


 5. Kesabaran Sudah Teruji

Dengan berbagai kegiatan pesantren, dengan jumlah santrinya yang banyak, budaya antri salah satu budaya yang dilestarikan untuk melatih kesabaran dalam jiwa santri. Antri mengajarkan nilai kesabaran kepada santri, bahwa hidup ini ada giliran masing-masing, ada kala kita di depan ada kala di belakang. Semua yang ada didunia ini ada waktunya tersendiri bagi kita.

Baca Juga : 

Bagi Santri Mengantri itu Tidak Pernah Rugi Karena Disitulah Kesabaran Diuji


Sikap sabar penting dalam hidup, agar kita tidak menjadi pribadi yang arogan, saling menghormati dengan lain. Beruntunglah kamu yang di pesantren, sebab nilai-nilai kesabaran sudah kamu dapatkan dari berbagai kegiatan di pesantren, sehingga apapun yang terjadi dalam hidupmu nantinya sudah terbiasa.

7 Nilai Plus Yang Harus  Kamu Ketahui Mondok di Pesantren Jarang Kamu Temui di Tempat Lain


 6. Mental Yang Kuat

Membangun karakter dan mental pada santri adalah salah satu  tugas pesantren melalui pembinaan dan bimbingan dari berbagai kegiatan santri. Santri dibina dan digembleng oleh guru-guru sepanjang waktu di pesantren.

Santri dididik untuk selalu menjadi yang terdepan, menjadi pemberani. Dengan kegiatan muhadharah (pidato),  mental santri diperkuat, agar berani tampil didepan public, diciptakan agar menjadi orator ulung kelak yang akan menjadi pelita ummat. Di sisi lain, kegiatan kepramukaan juga menjadi kegiatan yang wajib bagi santri untuk menciptakan karakter bagi santri.

Sementara itu, pendidikan penugasan juga bagian dari pada upaya pesantren menciptakan mental dan karakter yang kuat pada santri. Santri diberi amanah dan tanggung jawab yang besar melalui organisasi santri, kegiatan besar pesantren. Dari hal demikian, karakter dan mental santri dapat terciptakan secara komprehensif.

Baca Juga : 

Ini dia alasan kenapa alumni pesantren itu layak kamu jadikan suami. Yang akhwat jangan lupa baca !

7. Calon Menantu Idaman

Ini adalah nilai plus yang kamu dapatkan setelah apa yang kamu jalani dengan tekun di pesantren. Anggap saja sebagai sebuah hadiah bagi kamu yang sungguh-sungguh belajar di pesantren, yang merupakam apreasiasi orang terhadap pribadi yang kamu miliki.
Setiap orang tua menginginkan pendamping hidup yang baik untuk anak gadisnya, yang berani bertanggung jawab dan mampu menjadi imam yang baik dan sebaliknya.

Dengan berbagai pendidikan pesantren yang sudah kamu terima, otomatis ada perubahan yang signifikan pada diri kamu, yang kemudian menjadi penilaian orang-orang sekitar saat kamu kembali ke masyarakat. Selama nilai-nilai pendidikan pesantren terus kamu amalkan, selama itu juga orang akan menghargaimu. Tapi jika nilai-nilai pesantren kamu lepas dari dirimu, maka hilanglah kepercayaan orang terhadapmu.

Jadi beruntunglah bagi kamu yang sudah memilih pesantren sebagai pendidikan terbaikmu, namun penulis menyadari, bahwa dimanapun tempat belajar adalah baik, tergantung bagaimana kamu menjalaninya. Karena yang membedakan tempat belajar itu hanya system berlaku di sekolah tersebut.

Baca selengkapnya

Senin, 27 Februari 2017

Menjadi Santri, Beratnya Perjuangan Namun Kaya Pengalaman

Menjadi Santri, Beratnya Perjuangan Namun Kaya  Pengalaman

Hikayatsantri.com- Jika kita ingin mensurvei pada santri— atau setiap orang yang pernah nyantri  tentang apa yang mereka rasakan selama di pesantren, pasti tidak sedikit yang menjawab bahwa kehidupan pesantren itu lelah dan melelahkan tapi menyenangkan. Ya, karena memang begitu adanya. Kehidupan pesantren yang penuh dengan kegiatan dan disiplin menjadikan santri terasa berat menjalaninya.
Perasaan tersebut tidak terlepas dari banyak kendala yang mereka hadapi selama menjadi santri, terutama dalam mengikuti disiplin—terlebih lagi jika ada santri yang background hidupnya dalam lingkungan orang berada—tidak terbiasa dengan dengan kehidupan yang serba kekurangan— dan selalu diatur dengan berbagai disiplin. Lebih jelasnya, kehidupan pesantren itu sangat sulit dijalani bagi setiap anak yang selalu dimanjakan oleh orang tuanya. Yang kehidupannya serba ada, dan hidupnya jarang diatur dan selalu dilayani, bukan melayani.
  • BACA JUGA : 

Selagi Nyantri Belajarlah Sungguh-Sungguh, Jangan Nyesal Setelah Jadi Alumni

Nah, untuk memasuki dunia pesantren sendiri hendaknya setiap individu melepaskan sikap ketergantungan pada orang lain, termasuk orang tua. Harus berani melepaskan diri dari bayang-bayang kehidupan yang selalu merasa enak dan nyaman. Jika hal-hal tersebut sudah siap, mental sudah kuat, dan niatnya sudah benar dan tekad untuk masuk pesantren sudah bulat, saat itulah baru seseorang dengan mudahnya beradaptasi dengan dunia pesantren.
Namun, jika sifat manja masih dipelihara—dan selalu ingin hidup enak dan dilayani, jangan harap bisa sukses hidup di pesantren. Sebenarnya hal ini bukan saja berlaku bagi santri yang datang dari keluarga yang mampu—karena ia bisa saja terjadi pada setiap anak yang kehidupannya lumayan dimanjakan oleh orang tuanya.
Alahkah baiknya, sebelum beranjak masuk ke pesantren persiapkan diri dengan matang dan harus sadar bahwa kehidupan pesantren itu lelah dan melelahkan, membutuhkan sejuta perjuangan dan pengorbanan untuk menaklukkannya.
Hidup pesantren itu banyak pahitnya juga banyak manisnya. Yang jelas, pengalaman kamu semakin hari semakin bertambah

Menjadi Santri, Beratnya Perjuangan Namun Kaya  Pengalaman

Yang harus dipahami adalah bahwa hidup di pesantren itu tidak semudah merebahkan badan diatas kasur yang empuk. Jalannya kehidupan pesantren berliku, terjal dan penuh tantangan. Perjuangan demi perjuangan akan kita hadapi. Berbagai disiplin harus kita ikuti. Berbagai aneka makanan, enak atau tidak tidak enak harus kita nikmati. Tidak ada cara lain sukses hidup di pesantren kecuali dengan bersabar dan bertahan dengan semangat perjuangan dan jihad fi sabilillah. Niatkan bahwa tujuan ke pesantren untuk menuntut ilmu sebagai ibadah dan sudah siap menerima berbagai resiko, jauh dari orang tua dan sebagainya.
  • BACA JUGA : 

Beruntunglah Bagi Kamu Yang Pernah Nyantri Karena Kamu Dididik selama 24 Jam oleh Gurumu

Namun, dari sekian banyak rintangan juga banyak terdapat sejumlah pengalaman tentunya. Pengalaman hidup yang sangat berharga tiada tara. Tidak ada kehidupan yang paling indah kecuali hidup di pesantren. Yang penuh dengan luka dan duka. Masalah yang datang silih berganti menjadi teman hidup yang harus dijalani bersama—tapi dengan masalah tersebutlah sesorang mendapatkan pengalaman yang sangat mahal. Karena sesorang akan mudah menjalani kehidupan jika banyak pengalaman hidup yang ia rasakan.

Meskipun berat, tapi dibalik beratnya perjuanganmu ada kemuliaan dan keindahan yang akan kamu rasakan

Menjadi Santri, Beratnya Perjuangan Namun Kaya  Pengalaman

Akhirnya segalanya, siapapun yang sudah benar niatnya untuk hidup di pesantren kesuksesan akan menghampirinya. Tanpa terkecuali, baik ia datang keluarga yang berada ataupun tidak. Karena perbedaan strata kehidupan tidak membedakan kehidupan santri di pesantren, status mereka tetap sama atas nama santri. Yang akan sama-sama berjuang, bekerja, merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, yang duduk sama rendah dan yang berdiri sama tinggi. Karena tidak sedikit santri yang berasal dari keluarga kaya kehidupannya sugguh memprihatinkan dari santri yang lain, bukan tidak dipedulikan oleh orang tuanya, tapi karena kesederhanaanyang dimilikinya.
Jika benar niatnya, maka mudah jalannya menjadi santri. Dan harus yakin, dibalik perjuangan yang berat, ada kemuliaan dan keindahan didalamnya. Cepat atau lambat semua akan terasa. Sudah siap jadi santri ?
Sekian.


  •  BACA JUGA : 

Meskipun Pesantren Terasa Seperti Penjara, Tapi ia Seperti Ibu Kandung Yang Akan Dikenang Sepanjang Masa

Baca selengkapnya