Jumat, 15 Juli 2016

[Opini] Santri dan Pembangunan Bangsa

Oleh Imran Abu Bakar
KEPUTUSAN Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada Kamis (15/10/2015) lalu, telah mengukuhkan kembali pentingnya peran santri dalam membangun bangsa. Sejarah perjuangan santri dalam mempertahankan negara perlu diperkenalkan kembali sebagai satu upaya dalam menumbuh-kembangkan semangat berbangsa di kalangan santri.
Sikap responsif santri atas fatwa ulama tentang kewajiban jihad melawan penjajah dan mati syahid bagi yang wafat di medan tempur, tentunya harus dicatat rapi dalam lembaran sejarah bangsa. Semangat jihad santri demi Tanah Air tercinta dan kiprah mereka dalam perjuangan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan, memang kurang diketahui oleh masyarakat. Padahal santri telah turut memberikan sesuatu yang penting bagi bangsa ini.
Kontribusi santri dalam berbagai kegiatan negara kadang kurang mendapat perhatian, sehingga perannya kabur dan hilang dari ingatan masyarakat, seiring dengan berjalannya waktu. Padahal rekaman sejarah tentang peran santri dalam sejarah bangsa Indonesia perlu diputar ulang sebagai upaya resolusi semangat santri dalam perjuangan mengisi kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Santri memiliki ciri-ciri khas yang mudah dikenal dalam masyarakat Indonesia. Pemuda-pemudi unik yang sedang khusyuk menimba ilmu pengetahuan di pondok pesantren atau dayah dengan penampilan dan sikap sederhana. Bangun pagi lebih cepat, tidur malam telat, telah menjadi kebiasaan mereka, seakan mereka sadar akan getirnya perjuangan melawan kebodohan. Suara zikir dan membaca bertaut dari satu kelas ke kelas yang lain mengalahkan suara mesin pembangkit tenaga listrik. Wadhifah seperti ini mendidik mereka menjadi orang yang cerdas dan kuat sebagai calon-calon pemimpin di masa yang akan datang.
Hiruk-pikuk suara manusia di areal yang sempit itu, telah menjadi hiburan gratis pengganti konser artis top seperti di berbagai belahan kota besar. Suara doa dan munajat mereka, terpancar setiap sore dan pagi yang berkah membelah kesunyian malam yang indah, sambil menatap pagi yang cerah dengan semangat mengabdi dan menimba ilmu yang suci sebagai bekal hidup di masa depan nanti, antrian di kamar mandi, desak-desakan di asrama yang sempit, tak membuat mereka pasrah kepada alam demi menggait cita yang suci.
Memiliki komitmen
Situasi dan kondisi yang demikian telah mendidik santri menjadi kelompok masyarakat yang memiliki komitmen yang tinggi dan kuat. Ada empat ruh santri yang dapat menjadi potensi negara untuk memajukan bangsa ini: Pertama, santri terdidik dengan sikap kemandirian, di mana satu ciri orang-orang sukses adalah memiliki jiwa yang mandiri. Kemandirian ini diajarkan oleh hadis: “Mukmin yang yang kuat lebih baik dan dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim). Seharusnya dunia ini dikuasai oleh yang kuat dan memiliki akhlakul karimah, supaya mencapai kedamaian dan ketertiban.
Kedua, santri meliliki sifat pengabdian. Folosofi kerja di di dayah atau pesantren adalah mengabdi. Maka jangan heran kalau orang yang baru mengenal guru dayah ketika ditanyakan, berapa gajinya mereka menjawab tidak ada gaji? Maka akan tergeleng-geleng kepala sambil mengerutkan dahi, dan bertanya pada diri sendiri, mungkinkah? Lalu bagaimana kamu hidup, makan apa, dan sederetan pertanyaan yang lain. Tetapi nyatanya mereka telah dapat hidup dengan tenang dan gembira dalam kesederhanaan. Sesungguhnya, kondisi inilah yang membuat mereka lebih siap dan memiliki rasa sosial yang tinggi.
Kita mengakui bahwa satu budaya bangsa yang di ambang punah adalah budaya gotong-royong. Kalau dewasa ini, kita mau melihat praktik budaya gotong-royong, mungkin tidak salah kalau jawabannya, lihatlah gotong-royong santri. Padahal kita kenal bahwa gotong-royong adalah budaya bangsa Indonesia yang kian hari kian terasa hilang, bahkan kemerdekaanpun diraih dengan gotong-royong. Tetapi budaya ini semakin terkikis akibat nilai-nilai kosmopolitan yang dangkal seperti hedonisme, konsumerisme, materialisme dan pragmatisme.
Ketiga, ruh jihad. Definisi jihad di sini adalah tekat dan komitmen yang kuat dalam mengarungi samudera penderitaan serta memecahkan kebuntuan. Bangsa dengan tingkat kesungguhan yang kuat akan dapat menaklukan dunia, katakanlah Jepang dengan energi samurainya dan lain-lain. Sikap ini pula yang menyebabkan santri berani bergerak melawan penjajah meskipun harus berhadapan dengan kubangan darah.
Keempat, cinta ilmu dan wawasan yang luas. Hidup dalam dunia ilmu pengetahuan, membuat santri harus mencintai ilmu pengetahuan. Salah satu alasan islam dapat diterima sebagai agama oleh penduduk dunia, karena islam mengajarkan cinta kepada ilmu pengetahuan, bahkan ayat yang pertama turun adalah iqra’ (bacalah). Artinya sebuah perintah kepada umat Islam untuk membaca, baik yang tersurat maupun yang tersirat, karena dengan membaca dapat menyingkap tabir berbagai rahasia alam.
Bangsa yang maju bukan hanya ditentukan oleh sumber kekayaan materi, tetapi kekayaan intelektual lebih berharga. Bangsa Eropa adalah bangsa yang miskin sumber daya alam, tetapi dapat menjadi bangsa yang kuat karena ilmu yang mereka kuasai. Adapun bangsa kita adalah bangsa yang kaya dengan sumber daya alam, tetapi masih tetap dalam cengkeraman utang, karena sumber daya manusia yang kurang.
Sangat diharapkan
Pembangunan bangsa ke arah yang lebih baik terus diupayakan, tantangan berat dewasa ini adalah pengkaderan generasi muda yang berkualitas. Santri sebagai sebuah komunitas masyarakat yang akan kembali hadir dalam kontestasi berbagai pertujukan bangsa, sangat diharapkan kontribusi dan perannya.
Penetapan Hari Santri Nasional hendaknya dipahami sebagai upaya pembinaan generasi yang berintegeritas sejak dini. Upaya simultan dan bersifat pembinaan karakter harus dimulai sebelum mereka diberikan amanah bangsa. Santri dengan segala yang dimilikinya harus memiliki rasa kepedulian kepada pembangunan bangsa. Jangan hanya bisa tunduk dan pasrah atas situasi yang ada, tetapi harus bangkit bercita-cita tinggi, berkomitmen tinggi dan dan berwawasan luas, supaya tidak laksana buih dalam hempasan ombak.
Dengan ditetapkannya Hari Santri Nasional, maka momen kebangkitan santri ke arah yang lebih maju dan berkembang sedang dalam penantian. Saatnya santri meletakkan landasan pikir yang jelas, mengukir karya untuk bangsa, dan tidak terbawa ke arah radikalisme yang cenderung ke tindakan provokatif, dan juga hendaknya tidak tertidur dalam untaian syair yang menyebabkan hilangnya rasa peduli serta apatis terhadap fenomena yang ada. Santri harus menjadi sosok yang tangguh di tengah terpaan badai kehancuran moral dengan berbagai modus dan motif. Wallahu a’lam.
* Tgk. Imran Abu Bakar, Ketua Ikatan Santri Aceh dan Rais Aam Rabithah Thaliban Aceh. Email: manziliyya@gmail.com
|
Serambi Indonesia

Bagikan

Jangan lewatkan

[Opini] Santri dan Pembangunan Bangsa
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.