Selasa, 19 Juli 2016

Inilah 5 Pola Kehidupan di Pesantren yang Mesti Kamu Ketahui!

Photo : Pesantren Modern Al Manar Aceh Besar

Kalau kamu pernah berkunjung ke pesantren, khususnya pesantren yang menganut sistem modern kamu tidak jarang menemukan tulisan-tulisan seperti motivasi dalam belajar, kata-kata hikmah, Ayat Al Qur’an dalam berbentuk kaligrafi dan tulisan lainnya. Nah, salah satu dari hal tersebut kamu juga akan menemukan tulisan panca jiwa pesantren. 
Apa itu Panca Jiwa ?
inilah pola kehidupan di pesantren yang harus diwujudkan dalam proses pendidikan dan pembinaan karakter santri. Panca jiwa ini hendaknya harus di pahami oleh seluruh santri. Kalau 5 panca jiwa ini sudah tertanam pada setiap jiwa santri, insyallah santri tersebut akan belajar sungguh-sungguh di pesantren. Pola kehidupan ini bukan hanya harus dimiliki oleh santri, begitu juga dengan dewan guru, Ustadz dan pengurus pesantren. Pesantren tersebut akan selalu bertahan kalau 5 pola kehidupan pesantren selalu mereka junjung tinggi.  Apa saja pola kehidupan pesantren tersebut ? berikut penjelasannya.

1.       Jiwa Keikhlasan
Kamu pernah mendengar “ Al ikhlashu ruhul ‘Amali? Ikhlas itu ruhnya sebuah pekerjaan. Kedudukan keikhlasan sangat penting dalam sebuah pekerjaan, termasuk belajar. Keikhlasan seseorang akan terlihat pada hasil yang ia kerjakan. Jiwa keikhlasan ini tergambar dalam pekerjaan sehari-hari santri maupun dewan guru, berbuat sesuatu sebagai ibadah tanpa mengharapkan sebuah keuntungan tertentu.
Jiwa ini wajib dimiliki oleh setiap orang yang tinggal di pesantren. Jiwa inilah yang akan menciptakan keharmonisan antara santri, dewan guru, dan pimpinan pesantren. Menerima sesuatu atau menaati sesuatu di dorong oleh jiwa yang penuh cinta dan rasa hormat. Maka tak heran bagi santri yang memiliki jiwa tersebut, maka setiap kegiatannya di pesantren yang ia jalani, belajar dan sebagainya hanya sebagai ibadah semata.

2.       Jiwa Kesederhanaan
Ingat ! sederhana bukan berarti miskin kawan. Kadang orang sering menyalahgunakan makna kesederhanaan. Kesederhanaan itu merupakan kekuatan hati, katabahan, dan pengendalian diri dalam menghadapi berbagai macam persoalan hidup. Dengan jiwa kesederhanaan ini maka akan lahir jiwa yang besar, berani, bergerak maju, dan pantang mundur dalam segala keadaan. Maka tak heran di pesantren kalau ada santri dari keluarga yang tergolong kaya, tapi penampilan sehari-harinya sangat sederhana, bahkan ia terlihat lebih dari pada orang miskin. Kenapa itu bisa terjadi? Karena jiwa kesederhanaan ini yang sudah tertancap di dalam hati.
Dengan jiwa kesederhanaan inilah berawal tumbuhnya kekuatan mental dan karakter yang menjadi jalan suksesnya suatu perjuangan dalam segala lini kehidupan.

3.       Jiwa Kemandirian
Mandiri sering disebut dengan mandi sendiri. Haha
Selain mandiri, jiwa ini juga disebut dengan Berdikari, yang biasanya dijadikan akronim dari “ Berdiri di atas kaki sendiri” . seorang santri harus menjadikan sifat mandiri ini sebagai prinsip agar hidup ini tidak selalu bergantungan pada orang lain.
Dengan jiwa mandiri ini akan menghilangkan sifat manja yang ada pada diri santri tersebut sebelumnya. Karena dalam kesehariannya dia akan bertarung dengan sendirinya menghadapi berbagai kegiatan di pesantren. Maka bagi orang tua yang anaknya di pesantren, jangan pernah memanjakan anak bapak ibu selama di pesantren. Biarkan dia mengerjakan sesuatu itu dengan segenap kemampuannya. Karena kelak suatu saat nanti,  dia akan hidup tanpa adanya orang tua dan tidak akan selalu bergantungan pada orang lain.
Jiwa mandiri ini juga tergambar pada diri seorang pimpinan pesantren, Kyai dalam membangun pesantren. Cukup dengan dukungan santri dan masyarakat umum pesantren itu akan selalu eksis yang dibarengi dengan jiwa keikhlasan tadi. Jiwa kemandirian ini seperti pondasi utama dalam merintis sebuah pesantren. 
Kemandirian dapat menghilangkan sejuta rintangan dalam kehidupan seseorang. Orang yang mandiri akan selalu ada cara untuk menaklukkan sesuatu. Percayalah ! santri itu orang yang paling banyak ide. Lihat saja ketika mereka terlambat ke mesjid, akan ada seribu alasan yang mereka utarakan kepada Al Akh ataupun ustadznya dalam waktu yang singkat. Hahaha.......

4.       Jiwa Ukhuwah Islamiyah
Nilai ukhuwah islamiyah ini sangat penting dalam kehidupan sosial. Kamu sering mendengarkan ? “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh” ya, kebersamaan adalah kekuatan dalam mencapai kesuksesan. Lihat saja lomba panjat pinang 17 Agustus, kalau mereka tidak bekerjasama maka mustahil salah satu dari mereka bisa sampai kepuncak. Pun begitu dengan kehidupan di pesantren, jiwa persaudaraan mereka inilah yang mengantarkan mereka pada sebuah keberhasilan. 

Para santri datang dari daerah yang berbedan dengan kulit yang berbeda, tapi disatukan dengan lauk yang sama ketika mereka makan. Jiwa persaudaraan santri ini sangat kuat jika dibandingkan dengan anak sekolah non pesantren. Kenapa? Karena para santri selama 24 jam mereka selalu bersama. Mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Bahkan ketika mereka melanggar pun kadang-kadang mereka sering bersama-sama. Hahaha... di hukum pun juga sama. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Kecuali hukuman untuk juru kunci yang mengajak melanggar, itu pastinya sedikit berbeda dengan yang lain, kerena ini kepalanya. Haha

Nilai ukhuwah ini akan selalu tertanam pada diri mereka, bahkan hingga alumni pun mereka akan selalu bersama, hanya jarak dan waktu yang memisahkan mereka. Luar biasa ! indahnya kehidupan di pesantren
5.       Jiwa Kebebasan
Di pesantren kan ada disiplin di segala sudut kehidupan santri, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi ada disiplin, jadi dimana juga kebebasan itu?

Kebebebasan ada pada setia diri santri, kebebebasan berpikir, kebebasan berbuat, dan kebebasa berkarya. Nah, tentunya kebebasan tersebut bukan kebebasan liar yang melanggar peraturan ataupun syariat islam. Haha..

Para santri diberi kebebasan untuk memilih jalan hidup nantinya di kala mereka terjun masyarakat dengan turut serta membawa nila-nilai pendidikan di pesantren. Mereka bebas menata kehidupan dengan berbekal jiwa yang besar dan optimisme yang mereka dapatkan selama di pesantren. Dan tentunya hal tersebut tidak melenceng dari nilai-nilai pendidikan pesantren tadi. Mereka bebas terjun kedunia apapun yang mereka sukai dengan memperhatikan tetap dalam koridor yang wajar dengan berbagai macam inovasi yang dikembangkan oleh mereka.

Maka tak heran jika melihat alumni pesantren berada dimana-mana, ada yang terjun ke dunia politik, kampus, jadi ulama, pengusaha, guru, polisi, tentara dan sebagainya. Tentunya apapun profesi  yang mereka tekuni tetap menjadi alumni pesantren. Jadi dosen, dosen yang islami, jadi politikus, politikus yang islam yang memegang teguh nilai-nilai kepesantrenan.

Maka 5 pola kehidupan tersebut lah yang akan mengantarkan seorang santri untuk menjadi orang besar suatu saat nanti. 5 panca jiwa tersebut juga menjadikan sebuah lembaga menjadi pesantren jika staf atau pengurus didalamnya mengamalkan 5 pola kehidupan pesantren tersebu. Tentunya dengan penuh harapan, apa yang santri dapatkan di pesantren, agar dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari mereka nantinya. Karena ilmu itu untuk diamalkan.

Dengan jiwa ini juga pesantren mendidik para santri dan mebentuk karakter mereka sehingga melahirkan generasi yang akan menggetarkan dunia. Haha..semoga !
Melalui pesantren kita warnai dunia ! yakk ....




Bagikan

Jangan lewatkan

Inilah 5 Pola Kehidupan di Pesantren yang Mesti Kamu Ketahui!
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.