Senin, 12 November 2018

Anda Santri ? Ini Syaratnya Untuk Mendapatkan Beasiswa Santri LPDP



Anda Santri ? Ini dia Syaratnya Untuk Mendapatkan Beasiswa Santri LPDP


Anda santri atau tenaga pengajar di pondok pesantren? silakan ambil kesempatan berharga ini untuk meningkatkan kapasitas keilmuan untuk jenjang Magister dan Doktor. Berikut syaratnya : 


Pemerintah melalui Lembaga Pengelola Dana Pendidikan ( LPDP) meluncurkan beasiswa santri yang ditujukan untuk peserta didik, pendidik, dan atau tenaga kependidikan di pondok pesantren yang aktif minimal selama tiga tahun dalam kegiatan pendidikan di lingkungan pesantren.

Baca Juga : 

Di Pesantren, Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian

Nantinya, program beasiswa santri ini akan diberikan kepada 100 santri terpilih untuk melanjutkan pendidikan mereka ke jenjang S2 dan S3.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, usulan mengenai beasiswa santri ini sudah diajukan oleh Presiden Joko Widodo sejak awal dirinya kembali menjabat posisi Menteri Keuangan di pertengahan tahun 2016.

 "Saya senang sekali kita berhasil meluncurkan hasil keputusan yang dibuat waktu sidang kabinet, waktu kami kembali menjadi Menteri Keuangan," ujar dia dalam acara Peluncuran Beasiswa Santri di kawasan Kementerian Agama, Senin (12/11/2018).
Anda Santri ? Ini dia Syaratnya Untuk Mendapatkan Beasiswa Santri LPDP


Adapun Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, program beasiswa santri melalui LPDP ini merupakan afirmasi khusus yang ditujukan kepada ekosistem pondok pesantren. Sehingga dirinya berharap, para santri dapat memanfaatkan beasiswa ini untuk mengembangkan institusi pondok pesantren, agar kelembagaan pondok pesantren menjadi semakin kuat.

 Selain itu, berbagai ilmu yang selama ini dikembangkan melalui pondok pesantren pun semakin berkualitas.

Baca Juga : 

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk Kelanjutan Pendidikan Anak

"Mereka yang selama ini mengelola pondok pesantren mengalami peningkatan wawasan keilmuan melalui program beasiswa ini. Jadi sekaligus, insititusinya dikembangkan dan keilmuannya pun berkembang," jelas Luthfi dalam kesempatan yang sama.

 Adapun Sri Mulyani menambahkan, anggaran yang akan disalurkan untuk program beasiswa santri ini berasal dari dana abadi pendidikan tahun 2019 yang sudah ditambahkan sebesar Rp 20 triliun.

"Anggaran LPDP 2019 kami dapat tambahan Rp 20 triliun untuk masuk di dana abadi, jadi dana yang digunakan untuk 100 santri sama. Tidak ada pos terpisah," jelas Sri Mulyani.

Anda Santri ? Ini dia Syaratnya Untuk Mendapatkan Beasiswa Santri LPDP


Persyaratan Beasiswa Santri LPDP

Adapun persyaratan pendaftaran beasiswa santri LPDP adalah pertama merupakan santri aktif, pendidik dan atau tenaga kependidikan di Pondok Pesantren minimal 3 tahun terakhir. Kedua merupakan Alumni Program Beasiswa Santri Berprestasi (APBS) yang pada saat mendaftar aktif dalam pengembangan Pondok Pesantren minimal 3 tahun terakhir. Ketiga, pondok pesantren terdaftar dalam list Kemenag.

Adapun bidang studi yang dibuka untuk beasiswa ini antara lain, pertama bidang-bidang pengembangan kapasitas kelembagaan pesantren manajemen, kesehatan lingkungan, ekonomi syariah, pertanian, ilmu sosial dan politik, seni dan budaya, astronomi, hukum.

Kedua, bidang keilmuan pesantren ilmu falak, ilmu syariah, perbandingan mazhab, ilmu maqulaat, ilmu arudh, ilmu tahqiq, ilmu faraid, ilumul qur'an, ulumul hadits serta sirah/tarikh. Ketiga, bidang ilmu prioritas LPDP.
Anda Santri ? Ini dia Syaratnya Untuk Mendapatkan Beasiswa Santri LPDP


Siapkan 4 Dokumen Penting ini

Pendaftar juga diwajibkan untuk melampirkan empat dokumen penting. Pertama, surat keterangan santri mukim atau aktif dalam pengembangan pesantren minimal 3 tahun dan surat rekomendasi dari pimpinan pondok pesantren.

Anda Santri ? Ini dia Syaratnya Untuk Mendapatkan Beasiswa Santri LPDP


Kedua, surat kesediaan mengabdi di pondok pesantren setelah menyelesaikan studi selama 2n+1. Ketiga, rekomendasi dari Kementerian Agama minimal tingkat kabupaten/kota. Empat, dokumen kelengkapan lainnya.

IPK minimal pada pendidikan sebelumnya, magister Letter of acceptance (LoA) 2,75 tanpa LoA 3. Sementara doktoral IPK ada LoA 3, tanpa LoA 3,25. Usia maksimal pada saat mendaftar magister maksimal 42 tahun dan doktor maksimal 47 tahun.



Sumber : kompas.com - liputan6.com

Baca selengkapnya

Minggu, 04 November 2018

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk Kelanjutan Pendidikan Anak


7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak

Saat ini pesantren menjadi salah satu lembaga pendidikan anak yang menjadi solusi untuk menghindari dari pergaulan bebas, yang hari ini  sangat meresahkan dikalangan remaja dan pemuda. Banyak orang tua lebih memilih pesantren dengan segala pertimbangan untuk mencegah hal-hal buruk terjadi pada anak. Dan terbukti, setiap tahunnya, rata-rata pesantren di seluruh Indonesia menampung santri dengan jumlah pendaftar membludak (overload), apalagi pesantren yang sudah maju dan berkembang pesat.

Namun, tidak semua harapan para orang tua dapat terpenuhi, ada yang tidak lulus seleksi anaknya, ada yang sudah lulus tapi anaknya tidak betah, ada yang sudah betah namun terkendala pada biaya pendidikan, dan masalah lainnya sering menimpa para orang tua wali santri.

 Nah, berhubung saat ini sudah memasuki akhir tahun, beberapa pesantren sudah mulai melakukan persiapan penerimaan santri baru bahkan ada yang sudah membukanya, pada kesempatan ini hikayatsantri.com mencoba merangkum beberapa ulasan mengenai tips memilih pesantren yang baik yang disadur dari berbagai sumber, yang dapat dijadikan sebagai bacaan rujukan orang tua sebelum memasukkan anaknya ke pesantren.

 Perhatikan Tipe, Sistem dan Model Pendidikan Pesantren


Di Indonesia umumnya terdapat 2 (dua) jenis tipe pondok pesantren, Salafi (tradisional) dan Modern (Terpadu, Ashriyah), silakan ditentukan terlebih dahulu, si anak maunya pesantren yang jenis seperti apa, Salafi atau Modern, salafi lebih mengkaji pada kitab-kitab kuning dan focus pada ilmu pengetahuan saja umumnya, dengan system pengajian tradisional (seperti sorogan, wetonan, dan bandongan), sedangkan modern pendidikannya memadukan ilmu agama dan umum, dan terdapat jenjang pendidikannya, tingkat Tsanawiyah maupun Aliyah.  Kemudian pesantren modern juga terdapat kegiatan ekstrakurikulernya, layaknya sekolah umum, hanya saja pesantren lebih bervariasi. Pesantren salafi juga ada kegiatan ekstrakurikulernya, hanya saja tidak sebanyak dan seaktif pesantren modern.

Perhatikan Biaya Pendidikannya

Pilihlah pesantren yang sesuai dengan kemampuan finansial, agar tidak terjadi masalah pada pendidikan anak, biaya pendidikan salah satu komponen pendukung jalannya kegiatan pembelajaran untuk menunjang aktivitas proses belajar mengajar, dan ini merupakan bagian dari pada salah satu pengorbanan dalam menuntut ilmu. Setiap pesantren berbeda-beda biaya pendidikannya, tergantung pada system, sarana dan prasarana, dan tenaga kependidikan yang terdapat pada pesantren tersebut.

Maka sebaiknya, para orang tua memastikan biaya pendidikan terlebih dahulu sebelum memilih pesantren, penuhi keinginan anak sesuai kemampuan finansial agar tidak bermasalah pada pembiayaan pendidikan. Karena juga tidak sedikit, anak-anak putus pendidikannya di pesantren terkendala pada biaya.


 Perhatikan Sarana dan Prasarana Pesantren

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak


Fasilitas pendidikan bagian dari pada salah satu penunjang kesuksesan pendidikan anak, yang tidak dapat dipisahkan dari lembaga pendidikan. Hal ini memang bukan rumus yang baku, karena ada juga pesantren yang berhasil melahirkan ouput santrinya berkualitas meskipun minim fasilitas di pesantrennya.

Ada banyak kasus, para orang tua mengeluh di tengah jalan karena kurangnya fasilitas di pesantren anaknya, dan kerap membanding-bandingkan dengan pesantren lain yang jauh lebih lengkap dari segi fasilitasnya. Padahal, biaya pendidikan yang dikeluarkan tidak seberapa besar dari pesantren yang lebih lengkap fasilitasnya. Jika ingin membanding-bandingkan harus fair, jangan sampai terjebak dengan standar pendidikan pesantren lain, makanya sangat penting memperhatikan terlebih dahulu fasilitas pesantren yang dituju agar tidak ada keluhan dan penyesalan di kemudian hari.

     Perhatikan Kegiatan Formal dan Informal Pesantren

Kegiatan tiap pesantren berbeda-beda, meskipun ada satu dua hal yang sama. Namun, semua kegiatan pesantren sangat tergantung pada system dan pola pendidikan di pesantren tersebut. Biasanya si anak akan memilih pesantren yang terdapat kegiatan yang sesuai dengan minat dan bakatnya, terutama dalam kegiatan ekstrakurikulernya.

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak


Umumnya, santri lebih betah di pesantren yang sesuai dengan keinginannya. Maka para orang tua harus mengecek terlebih dahulu, jika menginginkan anaknya menjadi penghafal Al Qur’an maka pilih pesantren dan focus pada penghafalan Al Qur’an yang otomatis kegiatannya lebih ringan, lebih banyak waktu untuk kegiatan penghafalan.

     Perhatikan Kurikulum Pendidikannya

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak


      Tidak semua sama kurikulum antar pesantren, semua tergantung arah dan ouput yang ingin dihasilkan oleh pesantren tersebut, jika pun terdapat kesamaan, biasanya pada kurikulum yang sudah ditetapkan oleh pemerintah seperti kurikulum 2013 yang saat ini sedang berjalan.

  Memperhatikan kurikulum pesantren terlebih dahulu juga penting, menyesuaikan dengan kemampuan anak, karena juga tidak sedikit anak yang tidak betah di pesantren yang akhirnya pindah karena ketidakmampuan anak menyerap sejumlah pelajaran yang terdapat di pesantren. Kemampuan anak memang dapat diasah dan ditingkatkan, tapi yang harus diingat bahwa setiap anak berbeda kemampuan masing-masing, dan memilih pesantren yang sesuai keinginan dan kemampuannya akan lebih baik.

     Perhatikan Letak Strategis dan Geografis Pesantren

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak
Lokasi Pesantren Modern Al Manar Aceh | Photo hikayatsantri.com


Ada dua pertimbangan yang mesti dilihat mengenai letak strategis dan geografis pesantren, namun ada sisi positif dan negatifnya, pertama, memilih pesantren yang dekat dan mudah dijangkau agar mudah mengunjungi anak ataupun mudah menemuinya saat ada masalah di kemudian hari, namun memilih pesantren yang dekat kerap kali membuat anak tidak betah di pesantren, sebab mudah teringat akan rumah, dan mudah untuk pulang dan akan sering minta izin pulang. Dan fakta di lapangan, santri yang sering izin pulang, dominan tidak bertahan lama di pesantren, sebab baginya lebih nyaman dan enak di rumah dari pada di pesantren.

Kedua, memilih pesantren yang jauh dari rumah dan akan jarang menemui si anak, dan ini lebih baik untuk membuat anak lebih kuat dan mandiri di pesantren. Dengan catatan orang tua harus siap, harus kuat jauh dari anak, bahkan kalau bisa letaknya melewati kabupaten bahkan provinsi, agar si anak tidak sering minta izin pulang. Dan para orang tua tidak akan terlalu sering mengunjungi anaknya, sebab terlalu sering dikunjung juga membuat anak tidak betah. Jenguklah anak jarang-jarang agar cinta makin berkembang. Hidup di perantauan, jauh dari orang tua, membuat anak lebih kuat dan mandiri dari pada yang dekat dengan rumah.

Dan sisi lain mengenai letak pesantren adalah dimana keberadaannya, di kota, di perdesaan, tempat terpencil, dekat dengan pegunungan dan lainnya. Ini tergantung keinginan para orang tua. 

  Perhatikan Kenyamanan dan kebersihan Lingkungannya

7 Tips Memilih Pesantren Yang Baik Untuk  Kelanjutan Pendidikan Anak


Kenyamanan salah satu factor membuat anak betah di pesantren, baik itu dari segi kebersihan maupun keindahannya. Dan ini ada kaitannya dengan letak geografis dan strategis pesantren. Biasanya lokasi pesantren di perdesaan dan terpencil lebih nyaman dan asri, dan sedikit jauh dari perumahan masyarakat, dan ini lebih banyak diminati, sebab tidak terlalu terganggu dengan aktivitas masyarakat. Karena jika pesantren terlalu dekat dengan masyarakat, pesantren terkadang sering mengalami kendala dan sering terjadi gesekan dengan masyarakat, apalagi jika dominan masyarakatnya susah di ajak kerjasama dan tidak mau mengerti keadaan pesantren.

Jika dekat dengan perkampungan atau perumahan, pesantren tidak bisa mengatur aktivitas masyarakat, misalnya suara mesin pabrik, atau suara bising lainnya dari kegiatan masyakarat. Dan sebaliknya jika pesantren membuat kegiatan di pesantren kerap kali masyarakat terganggu, jadinya sedikit susah pesantren menggerakkan kegiatannya, kecuali masyarakat ditempat tersebut memang sangat harmonis mudah diajak kerjasama dan saling memahami dan mengerti. Dan hal ini, sulit terjadi, karena tipikal masyarakat berbeda-beda.

Demikian beberapa tips dari hikayatsantri.com kiat memilih pesantren, dan ini bersifat opini yang dapat direvisi dan dikoreksi. Semoga bermanfaat. 

Tonton Videonya : 





Baca selengkapnya

Sabtu, 20 Oktober 2018

Di Pesantren, Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian

Di Pesantren, Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian


Dalam menghadapi ujian, pesantren mempunyai prinsip tersendiri yang harus di pahami oleh santri, dan harus di amalkan untuk mendapat nilai yang optimal dalam ujian, nilai yang sangat berharga sebagai modal untuk mengarungi kehidupan kelak.
Prinsip ini dipopulerkan oleh Pondok Modern Darussalam Gontor melalui Kyainya KH. Hasan Abdullah Sahal. Gontor selalu menjadi inspirasi untuk pesantren lain khususnya pesantren yang menganut sistem modern dan mengikuti kurikulum yang di gunakan oleh Gontor.
“kita menuntut ilmu untuk menjadi orang baik, bukan orang yang bisa menjawab pertanyaan ujian saja. ujian untuk belajar bukan belajar untuk ujian. Jangan salah kaprah.”

Di Pesantren, Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian

Melalui bait kata-kata diatas, pesantren ingin mengatakan kepada santri bahwa nilai utama yang harus digapai melalui ujian bukanlah pada hasil nilai yang tertulis di lembaran kertas, yang kemudian menjadi kebanggaan santri untuk diperlihatkan kepada orang tua, melainkan predikat yang harus diraih adalah adanya  perubahan sikap pada diri santri itu sendiri yang berubah menjadi lebih baik setelah mengikuti ujian.
Pola pikir santri dalam menghadapi ujian harus menjadi “ kita belajar untuk menjadi orang baik” bukan sebaliknya. Didalam menghadapi ujian ada fase-fase yang harus dijalani, memulai dengan sebuah niat, kesungguhan, usaha yang keras dan tentunya di imbangi dengan do’a. Dari totalitas kehidupan yang dijalani selama ujian inilah akan terbentuk suatu nilai dan kecerdasan spiritual pada santri.
Dan salah satu nilai plus pesantren dalam menghadapi ujian adalah pengkondisian. Pesantren menciptakan suasana dan ruh ujiannya. Dan semua kegiatan selain yang berkenaan dengan belajar akan diberhentikan untuk sementara waktu, semua santri harus focus pada ujian. Ketika ruh ujian ini sudah tercipta, maka santri sulit terpengaruhi dengan kegiatan lain kecuali untuk belajar dan beribadah. Dan mungkin ini yang tidak didapatkan di luar pesantren, ruh ujian siswa sering terganggu dengan kegiatan lain dengan aneka ragam kegiatan yang sifatnya diluar sekolah.
Di Pesantren, Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian

Dan selama pengkondisian ini, para santri terus diarahkan oleh ustadz(ah)-nya melalui bimbingan belajar yang terkontrol pada malam hari, melalui nasehat-nasehat kyainya, diberikan tips-tips tertentu dalam menghadapi ujian, kemudian belum lagi dengan kegiatan sahiral layalnya (bangun ditengah malam untuk tahajud dan belajar), yang intinya pola pikir santri terus ditata menjadi lebih baik dalam menghadapi ujian.
Baca Juga : 

Menjadi Santri, Beratnya Perjuangan Namun Kaya Pengalaman

Kenapa pola pikir dalam menghadapi ujian “ kita belajar untuk menjadi orang baik” ini perlu ditanamkan pada jiwa santri ? Karena problematika dalam keseharian proses pendidikan kita hari ini adalah masih banyak para pelajar yang menganggap belajar hanya untuk bisa menjawab soal-soal mata pelajaran yang diujikan. Padahal, makna pelajar lebih dari itu.
Nasehat KH. Hasan Abdullah Sahal sangat menyentuh dan menginspirasi, banyak kejadian hidup yang harus kita maknai, dan tugas terbesar kita hidup pun untuk memaknai hidup. Seluruh aspek yang kita lakukan berawal dari sebuah pemikiran. Perlakuan yang salah karena dari pemikiran yang salah pula. Maka kita harus tata pemikiran dengan rapi dan benar. “kita belajar untuk menjadi orang baik.”
Di Pesantren, Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian

 Di zaman yang modern ini banyak kita temukan orang yang pintar sekali, namun akhlak dan kelakuannya tidak mencermikan kepintarannya. Banyak orang yang merelakan sikap kejujurannya, hanya demi sebuah angka yang tinggi.
Masya Allah, miris sekali rasanya melihat para pelajar yang membeli jawaban pertanyaan ujian. Mereka rela berbuat kecurangan hanya untuk sebuah angka yang tertera dalam sebuah kertas.

Baca Juga : 

Wajib Baca ! Ini Dia Pesan KH. Hasan Abdullah Sahal Untuk Wali Santri

Orang tua yang baik pasti menyekolahkan anaknya untuk menjadi orang yang baik dan bermanfaat bukan ? maka jangan salah melangkah. Untuk apa pintar tapi korupsi dan menyusahkan orang lain ? untuk apa pintar tapi selalu membuat kriminal ? sebagai manusia kita diberikan fitrah untuk mengetahui dan memilih mana yang salah dan mana yang benar.
Melangkah ke jalan yang benar dan melangkah ke jalan yang salah itu juga termasuk pilihan hidup . Negara-negara yang memiliki sistem pendidikan yang baik menganggap anak yang tidak bisa matematika lebih baik dari pada anak yang tidak bisa mengantri, karena tidak bisa mengantri adalah masalah sosial dan akhlak.
Di Pesantren, Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian

Di era modern saat ini, tentu orang yang hanya bermodalkan baik saja tidak cukup untuk kompeten dan bersaing. Butuh kualitas dan kreativitas. Maka antara intelektual dan akhlak harus seimbang.
Di Pesantren kedua hal tersebut sangat diperhatikan, akhlak dan intelektual. Maka sangat benar apa yang dikatakan KH. Hasan Abdullah Sahal “ menuntut ilmu untuk menjadi orang baik” bukan hanya untuk menjawab soal-soal dalam ujian saja. karena belajar itu luas dan mencakup hal yang sangat banyak. Kalau kita hanya menjadi manusia yang pintar dan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam soal ujian saja, nanti akan menjadi pintar namun tak bermoral sehingga dapat dengan mudah membuat kejahatan. Maka jangan salah kaprah !

Baca Juga : 

9 Tips Menarik Untuk Santri Baru Agar Betah di Pesantren

Pada akhirnya, kita memang tidak menafikan bahwa nilai yang terlihat di lembaran kertas itu penting, apalagi dengan sistem pendidikan Indonesia hari ini, nilai tersebut menjadi acuan bagi siapa saja untuk menilai kualitas seseorang. Namun,  ada variabel lain dalam kehidupan ini yang harus diketahui dan ini jauh lebih penting dari pada nilai yang tertera pada ijazah maupun rapor siswa,  yaitu nilai-nilai moral dan akhlak yang harus melekat pada prinsip kehidupan seseorang, dan ini menjadi modal utama dalam dunia pendidikan “adab lebih tinggi dari pada ilmu”. Maka mengimbangi antara keduanya jauh lebih baik, pintar berilmu dan beradab.
Di Pesantren, Ujian Untuk Belajar Bukan Belajar Untuk Ujian

Untuk mempertahankan nilai-nilai tersebut, pesantren selalu berusaha mengarahkan santri ke arah yang lebih baik tak terkecuali di masa ujian saja. Tak dapat dibantah, bahwa akhlak terpuji seseorang adalah suatu nilai yang paling mahal pada diri seseorang. Menjadi nilai yang tidak dapat dihargai dengan angka, ia selalu berada diatas segala-galanya yang bermuara pada nilai ibadah dan spiritual seseorang.
“Banyak orang bertitel, tapi tidak berkualitas. Dan banyak orang yang berkualitas, walaupun mereka tidak bertitel.”- KH. Hasan Abdullah Sahal

Baca selengkapnya

Minggu, 23 September 2018

Bikin Ngakak ! Ini dia Beberapa Istilah Tentang Santri Yang Harus Kamu Ketahui

Ini dia Beberapa Istilah Tentang Santri Yang Harus Kamu Ketahui



Pesantren, selain tempat belajar paling nyaman juga sebagai tempat lahirnya berbagai  cerita hidup paling berharga, cerita tersebut lahir dari berbagai sudut kehidupan pesantren. Kisah demi kisah terciptakan setiap harinya di kalangan santri. Ada cerita suka, duka, canda tawa bahagia maupun cerita sedih tentang pengorbanan dan perjuangan. 

Keseruan nyantri hidup di asrama memang banyak kisahnya. Hanya alumni pesantren lah yang lebih mengetahui, yang sudah merasakan pahit getirnya kehidupan pesantren yang akhirnya menjadi bahan pemmbicaraan saat ngopi bersama teman-teman, menjadi topik pembahasan di saat reunian, pokoknya seru !

Selain itu, ada juga sebutan-sebutan untuk santri yang lahir dari bahasa tertentu untuk santri, baik itu dari bahasa arab, inggris ataupun bahasa plesetan yang menjadi istilah tertentu menggambarkan keadaan santri tersebut. Ada juga yang berbentuk laqob (gelar) yang disematkan pada santri tertentu karena perangainya, misalnya, abu naum, untuk santri yang sering tidur, abu akl (akala-yak kulu) , untuk santri yang banyak makan dan lain sebagainya. Cerita ini hanya ada di kalangan santri saja, dan menjadi kisah yang sangat indah untuk diulas kembali setelah mereka tamat dari pesantren. 

baca juga : 

Abu Naum, Istilah Untuk Santri Raja Tidur


Berikut ini beberapa istilah di kalangan santri yang hikayatsantri.com himpun dari instagram gontorwordgraphy, istilah-istilah ini khususnya di gunakan oleh anak-anak Gontor, dan umumnya oleh santri-santri pesantren yang menganut sistem dan kurikulum Gontor. 




#Reupload JARBAN, sebuah Kata Bahasa Arab yang berarti Sakit Kulit atau Kudisan. Kalau kata ini anda tanyakan kepada Alumni Gontor, maka akan di jawab dengan senyum merekah atau bahkan tawa. Karena hampir seluruh Alumni Gontor itu PERNAH MERASAKAN jarban. Termasuk saya yang pernah Nyantri di Pondok Alumni sebelum masuk Gontor. Sekujur tubuh ini rasanya gatal semua, terus terluka, bernanah, lalu sembuh, hilang tanpa bekas, sama sekali tidak berbekas sampai sekarang ini. Makanya kalau saya bilang saya dulu pernah JARBANAN, semua orang (kecuali Alumni Gontor) pasti jawab ndak percaya. Meminjam Bahasa Ust Nasrullah Zainul Muttaqin, bahwa Gontor itu memang Bersih, tapi tidak Hygienis. Makanya ada beberapa Hal “tidak masuk” akal yang dilakukan Santri Gontor itu, yang secara Ilmu Kesehatan dipastikan akan jatuh sakit, tapi ketika dilakukan di Gontor ternyata santrinya sehat-sehat saja. Seperti makan mie di Ember bekas cucian, atau minum dengan piring yang habis dipakai makan. Begitu juga soal JARBAN ini, sepertinya sudah jadi “welcome illness” buat para santri baru. Karena yang biasanya sakit JARBAN itu ya anak baru, karena kalau sudah sekali terkena JARBAN ya ga akan terkena lagi. Dengan nada bercanda Almarhum KH Imam Zarkasyi menyampaikan , bahwa JARBAN itu jadi “Syarat” bagi seseroang untuk jadi santri Gontor. Jadi, JARBAN itu sama sekali bukan masalah serius di Gontor. Bahkan bergaul dengan orang sakit JARBAN sekalipun, selama dia sudah pernah JARBANAN tidak akan pernah takut tertular, meskipun JARBANNYA parah juga. Yang jelas, anda tidak akan menemukan bekas JARBAN itu saat Alumni tersebut keluar. Coba perhatikan Foto saya, apakah nampak kalau saya dulu pernah KUDISAN?? He…he…. Cipied from timeline ust oky rachmatullah #gontor #gontorgraphy #gontorputri #pesantren #alasantri #indonesia
A post shared by Gontor Wordgraphy (@gontorwg) on















A post shared by Gontor Wordgraphy (@gontorwg) on

Baca selengkapnya